Pagi sekali aku sudah ke kampus. Rupanya dewi keberuntungan tak sepenuhnya menjauh dariku. Setelah kesemrawutan hubunganku semalam yang berujung bengkaknya mata, akhirnya aku dapat kabar baik. Aku diterima di UNSIL. Ya, universitas negeri yang sangat diidamkan di kota ini. Memang sedikit mengherankan sih, aku bisa lolos. Ku katakan sekali lagi, mungkin ini memang keberuntungan. "Woi, Put! Lo lulus juga?" tanya Lisa yang tahu-tahu sudah berdiri di belakangku. "Ho'oh, seneng gue, akhirnya gue dapat pelipur lara hari ini." "Lah, mata lo bengkak? Mewek lo?" tanya Lisa sambil menatap lekat mataku yang kulindungi dengan kacamata. "Iya, apalagi, patah hati ya mewek." "Bentar deh, lo patah hati?! Apa ini artinya lo sama Pak Heri udah ....?" "Gak tahu lah, pusing gue. Semalam gue matiin ponse

