"Perih, Mas!" "Sedikit lagi, kamunya diam dulu!" "Aduh, kenapa lama sekali?" "Sabar, Sayang! Sebentar lagi!" Srekkk! Huft, akhirnya lega, rambutku yang nyangkut di resleting belakang baju bisa lepas juga. Pak Heri merapikan rambutku yang berantakan. "Nah, sudah selesai. Masih sakit?" tanyanya dengan senyum menyebalkan. "Enggaklah, kan rambutnya udah lepas!" jawabku sambil memajukan bibirku beberapa senti. "Maaf," jawabnya sambil terkekeh. Entahlah, ini mungkin kejadian langka dalam dunia keromantisan cinta. Hah, bisa-bisanya terjadi hal konyol seperti ini. Mau tahu kenapa? Satu jam yang lalu .... Sentuhan lembut Pak Heri membuai hingga perlahan aku membalas perlakuannya. Kami saling menikmati candu ini, menyatukan semua rasa dan rindu yang sudah menggunung. Kami saling mendamba

