Baru kali ini aku lihat Pak Heri mati kutu. Wajahnya merah kayak kepiting rebus. Lucu sih, tapi kasihan juga. Lah, celana bagian belakangnya robek gede banget! Haha, sebenarnya aku gak kuat pengen ketawa dari tadi. Cuma ya ditahan aja, kasihan kan Pak Heri? Masa udah kena malu, diketawain juga! "Duh, maaf ya, celanaku kayaknya kekecilan ya, hehe," Bang Ilham nyengir sambil menatap iba Pak Heri yang terpaksa memakai celana milik abangku itu. "Ah, tidak apa-apa, yang penting saya pakai celana," jawab Pak Heri sambil meringis. Kami makan dalam diam. Hanya denting sendok dan piring yang terdengar. Sepertinya semua orang sibuk dengan pikirannya masing-masing. "Gimana masakannya, enak gak?" Papa memecah keheningan. Pak Heri tersenyum dan mengangguk, "Enak banget, Pak. Bu Yeni pandai masak

