Hal yang pertama aku lakukan adalah pulang. Mungkin kamar lebih baik untuk tempat menangis daripada di depan alfamart itu. Bodo amat dengan suara Pak Heri yang terus memanggil-manggil di belakang sana. Lari adalah kemampuan unggulanku. Aku bisa berlari secepat mungkin apalagi dalam kondisi mengenaskan seperti ini. Aku membenamkan wajahku ke atas bantal. Sakit ya Tuhan! Teganya Pak Heri padaku! Selama ini dia hanya menganggapku sebagai hewan peliharaannya! Serendah itukah diriku? Hanya dalam waktu sekejap saja, bantalku sudah basah. Sambil sesenggukan, aku meraih ponsel pemberian Pak Heri. Rasanya aku merasa sangat bodoh. Lihatlah, hanya diberi ponsel saja, aku sudah kegirangan. Aku menghapus semua foto kebersamaanku dengan Pak Heri. Untuk apa semua ini? Alih-alih menyukai fotoku yang sed

