Setelah tunangan itu, hari-hariku terasa sempurna. Pak Heri sangat perhatian padaku. Dia menghubungiku seperti minum obat, ya, tiga kali sehari. Mengobati rasa kangen padanya. O ya, Pak Heri katanya mau ke Jakarta dulu. Bilangnya sih mau melebarkan sayap bisnisnya. Mungkin buka cabang di sana. Entahlah, aku hanya bisa mendoakannya saja. Lagipula, aku juga sama sibuknya. Akhir-akhir ini aku sibuk ikut tes ke universitas di sekitar kotaku. Seperti yang papa sarankan. Aku kuliah gak keluar kota. Beruntungnya Lisa juga bernasib sama. Orang tuanya tidak mengizinkan kuliah di luar kota. Alasannya sama dengan orang tuaku, khawatir dan tidak terpantau. "Put, jadinya kamu kuliah di mana?" tanya papa sambil menyiapkan peralatan kerjanya. Ya, pagi ini papa sudah rapi. Seperti biasa, beliau ke seko

