Beberapa menit kemudian, dengan seluruh makanan diatas meja ludes tidak bersisa kecuali satu macam, Ilsa mengelap mulutnya yang belepotan dan kembali menatap ke arah Samael yang berdiri di belakangnya bak seorang pengawal. “Kau tidak memakan sup ayamnya?” Samael bertanya keheranan. Pria itu baru tersadar bahwa sejak tadi ia mengusap bahu Ilsa sambil mengawasi wanita itu makan. “Aku tidak suka ayam.” Ilsa menggeleng. “Kau biasanya selalu suka ayam.” Pria itu menarik tangannya dari bahu Ilsa dan bertanya dengan dahi berkerut karena kebingungan. “Itu sebelum aku ha—” Ilsa mengatupkan mulutnya, memotong ucapannya sendiri. “Oh….” Kebingungan pria itu menghilang begitu ia memahami apa yang dirasakan Ilsa. Kesunyian yang mengikuti membuat Ilsa kembali panik. Ia meremas kedua tangan yang d

