Liliana tengah duduk bersama Monic yang tengah menghirup nafas dalam-dalam setelah menyuntik lengannya. "Aaah… ini sangat nikmat, hahaha." Monic melirik Liliana. "Kau mau," tawarnya pada Liliana. Gadis itu menggeleng mengusap air matanya. "Ck, sudah tidak usah menangis. Sudah takdirmu berada disini. Harusnya kau bersyukur, aku masih mengampuni nyawamu." ujar Monic membereskan barang-barangnya. "Apa salahku?" Monic berhenti mendengar pertanyaan Liliana. Ia terkekeh kecil. Liliana kembali mengusap air matanya yang terus menetes. Ia merindukan Levi, sangat merindukan adiknya. "Kau menyayangi mereka?" "Sa-sangat." "Kenapa? Kau bahkan tidak mengenal mereka? Sedangkan ibumu terbunuh dalam kebakaran resort mereka." "Itu kecelakaan." "Kecelakaan? Cih. Jelas-jelas itu dilakukan oleh ke

