Bab 1. Pengkhianat itu aku
“Solusinya hanya satu, menikah denganku.”
Lelaki yang duduk di hadapannya terkejut mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Disha, bahkan untuk beberapa detik lelaki itu menatap lurus ke arahnya tanpa berkedip sedikitpun.
“Hanya itu solusinya,” Disha mengulang kalimatnya, meyakinkan.
“Kamu bercanda?!” senyum tipis terlihat jelas, setelah beberapa saat terdiam.
“Tentu tidak Hans, aku serius.” ajakan yang seharusnya diucapkan dengan sungguh-sungguh, justru diucapkan dengan santai seolah bukan obrolan serius. Seperti hanya candaan saja.
“Aku cukup serius untuk mengatakannya sekarang, melihat bagaimana situasi yang menimpamu saat ini. Perusahaan mu nyaris bangkrut, selang satu Minggu setelah Elina mengumumkan kehamilannya. Anak kalian,” Disha tersenyum samar.
“Di sisi lain ada keluarga yang menolak keras hubungan kalian sejak awal, bahkan tidak lantas merestui setelah tahu Elina hamil anakmu. Mereka tetap teguh pada pendirian, dengan tidak memberi restu. Lantas, apa yang bisa diharapkan dengan keadaan ini?”
Disha menatap lurus, melipat kedua tangannya di d**a.
“Solusinya hanya satu, menikah denganku dan aku akan memberikan sebagian saham milik ku padamu. Dengan begitu, kamu masih tetap akan bisa mempertahankan posisimu saat ini, begitu juga dengan perusahaan yang telah kamu bangun sejak lama.”
Hans nampak berpikir, walaupun ajakan menikah Disha sangat menggiurkan dan menjadi solusi paling baik dari permasalahan yang dihadapi, tapi kewaspadaan Hans tetap ada.
Disha adalah teman baik Elina, hubungan keduanya sangat dekat
“Kamu nggak lupa kan, hubungan seperti apa yang terjalin diantara kalian berdua?” Hans mengingatkan dan dijawab anggukan oleh Disha.
“Benar, kami berteman dan sangat dekat, bahkan aku tahu kapan dan dimana kalian membuat bayi itu,” Disha menarik sudut bibirnya, menatap penuh ejek.
“Lantas, tujuan kita menikah apa? Selain menyelamatkan perusahaan?” selidik Hans.
“Karena aku bosan, ingin mencari sensasi lain dengan menjadi pemenang setelah sekian lama hidup menjadi bayangan Elina.” Disha tersenyum samar.
“Aku ingin merasakan sekali saja mendapatkan apa yang sangat diinginkan Elina, dan itu adalah kamu.” jujurnya.
Hans mengangguk, “Menikah tanpa cinta dan hanya sebatas tinggal satu rumah?”
Hans menyesap minumannya, ia mulai paham kemana arah pembicaraan Disha.
“Benar,”
“Aku adalah lelaki normal, begitu juga dengan kehidupan seksual ku.”
“Lakukan saja jika kamu mau,”
“Tanpa cinta?”
“Yes.”
Hans tersenyum. “Rupanya kamu sangat ingin melampiaskan kesalahanmu selama ini dengan menikah denganku,” ia tersenyum mengejek.
“Dan kamu pun butuh pelarian dari tanggung jawab yang mungkin bukan hanya kamu pelakunya. Yakin, anak yang dikandung Elina anakmu?”
Hans terdiam, yang artinya ia pun meragukan anak yang dikandung Elina saat ini, yang digadang-gadang sebagai anak biologisnya.
Memang tidak ada rencana matang untuk pernikahan yang serba mendadak, tidak ada persiapan khusus apalagi pesta megah seperti impian Disha selama ini. Tapi untuk ada di posisinya saat ini, yakni bersanding dengan Hans Gunawan adalah impiannya sejak lama, walaupun ia harus merusak persahabatan yang terjalin antara dirinya dan Elina.
Memanfaatkan kesempatan yang dimilikinya, Disha mengambil alih kendali. Keberuntungan ada di pihaknya, dimana keluarga Hans memanah sudah lama menjalin hubungan baik dengannya, bukan karena Disha adalah sekretaris pribadi Hans, tapi juga karena hubungan mereka memang sudah dekat sejak lama.
Pernikahan yang sangat sederhana, bahkan terlampau sederhana untuk pengusaha sekelas Hans.
Namun karena gosip yang sudah terlanjur merebak tidak terkendali, yang mulai menghancurkan nama baik dan juga perusahaannya di dunia entertainment, Hans mengambil jalan pintas yakni dengan menikahi Disha, sekretaris sekaligus adik dari pemilik perusahaan ternama. Disha memang tidak terlibat langsung di perusahaan milik keluarganya, dan lebih memilih untuk menjadi sekretaris Hans sejak beberapa tahun lalu, meski begitu kepemilikan saham tetap menjadi miliknya.
“Mamah senang, akhirnya Hans menikah dengan wanita yang tepat.”
genggaman hangat Rosita begitu erat, wanita yang menyambut gembira pernikahan Disha dan Hans.
“Sudah lama Mamah ingin menjodohkan kalian, tapi ternyata jodoh menghampiri kalian lebih dulu. Mamah sangat senang Disha.” ia tidak bisa menutupi kebahagiaannya, saat sang putra sulung lebih memilih menikah dengan wanita yang selama ini menjadi incarannya. Dimata Rosita, Disha adalah wanita ideal untuk jadi bagian keluarga Gunawan.
“Mamah nggak yakin anak itu adalah anak kandung Hans.”
Disha hanya tersenyum samar. “Disah juga senang, akhirnya jadi bagian dari keluarga Gunawan, Tan.”
“Mamah, jangan panggil Tante.,” ralat Rosita.
“Maap,” Disha menutup mulutnya, “Belum terbiasa.”
“Mulai sekarang harus dibiasakan, mengerti?”
Disha mengangguk, mengiyakan.
Hari ini, Disha resmi menyandang status sebagai nyong Hans Gunawan, hari bahagia yang seharusnya dirayakan oleh kedua belah pihak keluarga. Sayangnya, dari pihak keluarga Disha tidak banyak hadir, hanya beberapa anggota keluarga saja, salah satunya Niko, kakak Disha.
Berbanding terbalik dengan keluarga Hans, yang nyaris semua keluarga hadir di acara pernikahan tersebut.
“Kita bermalam di sini.” ucap Hans, saat beberapa anggota keluarga mulai meninggalkan acara pernikahan yang diselenggarakan di sebuah villa pribadi keluarga Gunawan.
“Untuk beberapa hari kedepan kita akan menghabiskan waktu disini, anggap saja honeymoon. Itupun kalau kamu bersedia tidur denganku,” Hans tersenyum samar.
“Kenapa tidak mau, aku istrimu sudah seharusnya aku melayanimu dengan baik.”
“Tapi ingat, pernikahan kita bukan karena cinta,”
“Dan jangan melibatkan perasaan dalam hal apapun, termasuk kontak fisik yang mungkin akan kita lakukan nantinya.” Disha memotong ucapan Hans, melanjutkannya dengan senyum jahil.
“Sudah hafal di luar kepala, Hans. Kamu tidak perlu mengulangnya lagi.”
Hans hanya mengangguk saja, kembali menyesap minuman alkohol yang menjadi kesukaannya.
Disha tahu pernikahan yang dijalaninya saat ini bukan pernikahan impian, bahkan mungkin pernikahan yang akan menjadi sumber sakitnya. Tapi Disha tetap melakukannya, bukan semata-mata karena ia ingin menolong Hans, tapi karena ia mencintai lelaki itu sejak lama. Namun Hans seolah menutup hati untuk wanita lain dan lebih memilih mengejar cinta Elina.
Malam harinya, suasana villa sangat tenang dan sepi, hanya ada beberapa anggota keluarga yang masih tinggal, sebagian besar kembali ke Jakarta hari itu juga setelah acara pernikahan selesai. Disha tengah bersantai di balkon kamarnya, saat mendengar suara ribut-ribut dari arah bawah. Ia sempat menengok untuk memastikan, dan kedua matanya terbelalak saat melihat Elina dan rombongan wartawan datang menyambangi Villa.
“Disha turun Lo!” teriak Riena, salah satu teman baik Elina yang juga ada dalam rombongan.
“Turun lo, pengecut!” teriaknya lagi dengan suara lantang.
Hans yang mendengar keributan segera keluar dari dalam villa, menghampiri Elina dan beberapa awak media, juga teman baiknya.
“Disha mana? Suruh dia turun?!” sentak Elina, sambil memegangi perutnya yang sudah membesar.
“Disha turun Lo!”
Disha tahu, kejadian ini sudah ada dalam prediksinya hanya saja waktunya jauh lebih lambat dari perkiraan. Disha sempat mengira Elina dan rombongan akan datang lebih awal, namun rupanya datang setelah acara pernikahan selesai.
Dengan langkah lambat, Disha turun untuk menemui Elina. Ia sempat melihat Hans tengah berusaha menenangkan Elina.
Disha hanya tersenyum samar, rupanya lelaki itu masih peduli pada wanita yang jelas-jelas sudah mengkhianati dan memanfaatkannya hanya saja Hans tidak pernah menyadarinya selama ini, terlalu silau dengan cintanya untuk Elina.
“Lo keterlaluan, Disha!” Elina langsung menghampiri dan menamparnya dengan keras. Tidak hanya itu, Reina dan Fitri pun ikut memukulnya.
“Lo manusia paling busuk di dunia ini! Lo tahu gue hamil anak dia, tapi Lo malah nikah sama dia! Lo binatang!” Ketiga wanita itu melampiaskan amarahnya pada Disha dengan memukul, membabi-buta.
Disha tidak melawan, membiarkan Elina dan kedua temannya meluapkan kekecewaan dalam hatinya. Ia tidak akan marah, sebagai sudah tahu konsekuensi yang akan diterimanya setelah menjadi pengkhianat. Tapi yang membuat hatinya berdenyut sakit, yakni saat melihat Hans tetap diam dan tidak berusaha melerai, seolah membiarkan Disha mati dipukuli teman-temannya.
“Sudah, Elina. Kamu hamil besar, jangan seperti ini.” bahkan Hans jauh lebih mengkhawatirkan Elina dibandingkan dirinya yang sudah babak belur terluka.