Pagi itu, aroma roti panggang dan s**u hangat memenuhi apartemen sederhana mereka. Maira bangun dengan kepala masih sedikit pening, langkahnya pelan menuju dapur. Maira mendapati Axel sedang berdiri di depan kompor. Kemeja lengan panjangnya digulung dengan wajah yang serius tapi tenang. “Axel?” suara Maira pelan, masih serak. “Kamu… masak?” Axel menoleh, tersenyum tipis. “Ya. Kenapa? Dilarang?” Maira terkekeh kecil, meski suaranya lemah. “Aku nggak nyangka aja. Slaah satu pewaris keluarga Dirgantara bisa juga bikin sarapan.” “Kalau buat kamu, semua bisa.” Axel meletakkan roti di piring, lalu menuangkan s**u hangat ke gelas. “Duduk. Jangan banyak gerak.” Maira menuruti, duduk di kursi meja makan. Axel menyodorkan piring, lalu duduk berhadapan dengannya. “Coba. Aku nggak janji enak, ta

