Ruang rapat lantai dua puluh lima gedung pusat Dirgantara Holding terasa mencekam pagi itu. Meja panjang dari kayu mahoni tua dipenuhi oleh para anggota direksi, sebagian besar masih kerabat keluarga besar Dirgantara. Pendingin ruangan mendesis halus. Namun, hawa dinginnya tak cukup menetralkan panas yang merambat di antara kursi-kursi itu. Di ujung meja, Axel duduk dengan wajah kaku. Jas hitamnya rapi, dasinya terikat sempurna. Tapi sorot matanya jelas penuh tekanan. Rahangnya mengeras, sementara jemari tangannya mengepal pelan di bawah meja. Di samping kanan, Rafael duduk tenang, persis seperti singa yang menunggu waktu menerkam mangsanya. Senyumnya datar, seolah ia pemimpin yang penuh kendali. “Poin rapat selanjutnya,” Rafael membuka map tebal di hadapannya dengan suara lantang, “te

