Maira duduk di meja makan mungil apartemen mereka. Tangannya sibuk menghitung bon belanjaan yang baru saja ia simpan rapi dalam map transparan. Maira tampak serius karena alisnya berkerut. Sejak Axel mundur dari perusahaan, ia tidak bisa menepis kecemasan yang terus menghantui: bagaimana dengan masa depan mereka? “Axel,” panggil Maira pelan. Axel baru saja keluar dari kamar dengan kemeja santai. Ia menaruh cangkir kopi di meja dan menatap istrinya. “Kenapa wajahmu murung begitu? Sarapan kita sudah cukup, kan?” Maira menggigit bibirnya. “Aku cuma… khawatir. Kita nggak punya pemasukan tetap sekarang. Kamu sudah berhenti dari perusahaan. Gimana kalau tabungan kita habis?” Axel tersenyum tipis. Ia menarik kursi, duduk di samping istrinya, lalu meraih jemarinya. “Maira, aku masih punya s

