Pulang Dengan Syarat

1198 Kata

Hujan sore itu turun pelan, menetes di kaca jendela apartemen sederhana yang kini menjadi rumah bagi Axel dan Maira. Suara rintik hujan berpadu dengan gemuruh samar dari kejauhan. Seperti melodi alam yang mengiringi babak baru kehidupan mereka. Tangisan bayi kecil mereka, terdengar samar dari kamar. Bercampur dengan suara televisi yang menyala tapi tak dihiraukan. Axel duduk di sofa, dengan bahu yang merosot ke belakang. Wajahnya letih setelah seharian menjaga Arden. Lingkar hitam di bawah matanya menandakan kurang tidur. Namun, bibirnya tetap mengembang dengan senyum tipis setiap kali teringat suara tangis atau senyum kecil putranya. Maira datang membawa secangkir teh hangat. Tubuhnya masih tampak rapuh setelah melahirkan, tapi semangatnya tak pernah pudar. Maira menaruh cangkir itu d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN