Sein yang sedang bermain ponsel terlonjak kaget saat pintu kamarnya terbuka dengan kasar dan masuklah Anton diiringi tawanya yang begitu menggelegar, membuat Sein bingung sekaligus heran. Ada apa dengan suaminya ini? Kenapa suara tawanya terdengar sangat menyeramkan? Bahkan bulu kuduknya sampai meremang. Kerutan di kening Sein semakin terlihat dengan jelas saat ia melihat Anton mengunci pintu kamar dan memasukan kunci itu ke dalam saku celana. Tangan Sein bersedekap, menatap Anton dengan mata memicing. "Kenapa pintunya di kunci Dad?" tanyanya dengan pandangan menelisik, meminta penjelasan. "Biar enggak ada orang yang bisa masuk." Anton menghampiri Sein, lalu duduk di samping Sein, berniat memeluk Sein, tapi urung saat Sein tiba-tiba berdiri dari duduknya. Mata Sein sukses mem

