Bab 7. Ide Lucas

1347 Kata
Lampu gantung kristal di ruang kerja Lucas memantulkan cahaya kuning pucat, menambah kesan suram. Asap rokok menari-nari di udara, berbaur dengan aroma kayu tua dari rak buku berderet di sepanjang dinding. Di balik meja kerja besar berlapis marmer hitam, Lucas duduk bersandar dengan wajah tegang. Kedua matanya tak lepas dari layar laptop yang menayangkan rekaman CCTV rumah sakit tempat Kendrick terakhir kali bekerja. Jari-jarinya mengetuk meja berulang-ulang, ritme lambat tapi penuh tekanan, seperti dentuman jam yang menghitung sisa kesabarannya. Berulang kali ia memutar rekaman itu, memperhatikan setiap detik. Sosok Allysa terlihat di sana, duduk bersisian dengan Kendrick, menggenggam tangan lelaki itu dengan tatapan hangat. Sesekali Kendrick mengecup pipi Allysa. Kemudian lanjut memperhatikan video menjelang Kendrick meninggal di rumah sakit, sosok wanita itu memang mirip Allysa, tapi beda model rambutnya, dan jika diperhatikan dengan saksama wajahnya pun berbeda. Lucas menghela napas kasar. “Sial,” gumamnya. Tidak ada bukti jelas yang bisa membuktikan Allysa bersalah, tapi juga tidak ada yang bisa membersihkannya dari tuduhan. Pintu ruang kerja diketuk tiga kali. Lucas tidak mengalihkan pandangannya. “Masuk.” Suaranya rendah, serak. Marco, pria berjas hitam dengan tubuh tegap, masuk sambil menundukkan kepala sedikit. Asisten pribadi itu sudah lama mengabdi, menjadi mata dan telinga Lucas dalam banyak misi. “Tuan Lucas … laporan terbaru.” Suaranya berat, hati-hati. Lucas akhirnya menutup laptopnya dan menegakkan tubuh. “Katakan.” Marco menarik napas. “Orang-orang kita belum menemukan wanita bernama Camillia. Sepertinya, anak buah Varela telah menyembunyikannya dengan sangat rapat. Mereka menutup semua akses, bahkan informasi kecil pun sulit ditembus.” Mata Lucas menyipit tajam. “Camillia ….” Ia menyebut nama itu pelan, tapi penuh tekanan. “Perempuan itu kunci. Jika benar dia yang terakhir terlihat dekat dengan Kendrick sebelum Allysa … maka dia yang harus kita temukan.” “Tepat, Tuan,” ujar Marco. “Tapi keluarga Varela … Anda tahu betul mereka sekuat kita. Mereka takkan menyerahkan orangnya tanpa perlawanan. Apalagi jika Camillia punya rahasia yang bisa mereka manfaatkan.” Lucas berdiri, berjalan ke arah jendela besar. Dari sana ia menatap ke pekat malam Istanbul, lampu kota berkelip jauh di bawah. “Varela selalu licik. Mereka bukan hanya kerabat, tapi juga musuh dalam selimut. Jika mereka menyembunyikan Camilia … berarti memang ada yang mereka takuti.” Hening sejenak. Hanya terdengar desis api rokok Lucas. Marco melanjutkan dengan suara lebih berat. “Ada satu lagi, Tuan. Para tetua … sudah mulai bergerak. Mereka mengirim beberapa orang untuk mencari Allysa. Tuduhan pembunuhan Kendrick semakin menguat di antara mereka. Jika mereka menemukan gadis itu terlebih dulu … saya takut mereka tidak akan membawanya kembali hidup-hidup.” Wajah Lucas menegang, rahangnya mengeras. Ia berbalik cepat, menatap Marco dengan sorot tajam. “Mereka berani bertindak tanpa perintahku?” Suaranya meledak, tapi tetap terkontrol. Marco menunduk. “Anda tahu bagaimana para tetua, Tuan. Mereka menganggap Anda terlalu lambat. Dan bagi mereka, darah harus dibayar dengan darah.” Lucas mengepalkan tinju. Kepalanya dipenuhi amarah sekaligus kegelisahan. Ia tidak bisa membiarkan Allysa jatuh ke tangan para tetua sebelum kebenaran terungkap. Namun di sisi lain, melindunginya sama saja dengan menantang seluruh keluarga. Sejenak ia terdiam, lalu menatap kosong pada segelas wiski yang masih penuh di meja. Di kepalanya, ide gila muncul begitu saja. Ide yang bisa menyelamatkan Allysa—sekaligus menjerat dirinya dalam dilema lebih besar. “Aku tahu cara menghentikan mereka ….” Ucapannya lirih, tapi penuh keyakinan. Marco mengangkat wajah, bingung. “Bagaimana, Tuan?” Lucas menatap lurus pada asistennya, mata berkilat dingin. “Aku akan menikahi Allysa.” Hening menggantung di udara. Marco sempat berpikir ia salah dengar. “Tuan … apa?” Suaranya nyaris bergetar. Lucas mengulangi dengan tegas. “Aku akan menikahinya. Dengan begitu, tidak ada satu pun dari keluarga Alberto yang berani menyentuhnya. Mereka tidak bisa menodai kehormatan seorang istri pemimpin.” Marco terperangah, menelan ludah. “Tapi … Tuan Lucas, Anda sudah punya tunangan. Persiapan pernikahan sudah dimulai. Apa Anda lupa siapa di balik itu semua? Jika kabar ini sampai keluar, bukan hanya keluarga kita yang goyah. Aliansi dengan keluarga Demir bisa hancur seketika.” Lucas terdiam, rahangnya mengeras. Ia tahu betul risiko itu. Pertunangannya dengan putri keluarga Demir bukan sekadar hubungan pribadi, tapi perjanjian politik antar-mafia. Menghancurkannya sama saja dengan membuka perang baru. Namun bayangan wajah pucat Allysa, tatapannya yang penuh luka dan keberanian, kembali menghantui benaknya. Kata-kata perempuan itu siang tadi bergema di telinganya: “Membunuhku tidak akan membuat Kendrick kembali.” Lucas meremas gelas wiski hingga jemarinya memutih. “Demi Kendrick … aku harus tahu kebenaran. Dan demi itu … aku harus melindunginya.” Marco menggeleng pelan, gelisah. “Tuan, keputusan ini gila. Saya hanya mengingatkan, konsekuensinya bisa lebih buruk dari yang Anda bayangkan.” Lucas menatapnya tajam. “Aku tidak butuh pengingat, Marco. Aku butuh kesetiaanmu.” Marco menunduk, akhirnya menghela napas berat. “Selalu, Tuan.” Sementara itu, di kamar lantai dua, Allysa duduk bersandar di sudut ranjang. Matanya bengkak karena tangis, tubuhnya lelah, tapi pikirannya terus berputar mencari jalan keluar. Ia menatap jendela besar yang terkunci rapat. Balkon kecil terlihat di luar, namun dijaga besi tebal. Ia sudah mencoba pintu berkali-kali—semuanya sia-sia. Lucas benar, kamar itu penjara. “Harus ada cara … harus ada jalan keluar ….,” gumamnya lirih, jemarinya gemetar. Ia teringat pada kedua orang tuanya di Indonesia. Rindu menusuk d**a, bercampur putus asa. “Ayah … Ibu … maafkan Allysa. Jika aku tak bisa pulang … jika aku tak bisa kembali ….” Air matanya jatuh lagi. Tiba-tiba suara langkah berat terdengar di luar. Allysa menegakkan tubuh, jantungnya berdegup kencang. Pintu berderit terbuka—Lucas muncul, berdiri tegak dengan sorot mata dingin. “Kenapa Tuan datang lagi?” Suara Allysa bergetar, tapi ada keberanian yang tersisa. “Ingin menyiksaku lagi!” Lucas masuk, menutup pintu di belakangnya. “Kita perlu bicara.” Allysa bangkit dari ranjang, menatapnya dengan marah. “Bicara? Setelah Tuan menyeretku, mengurungku, memperlakukanku seperti tahanan? Apa lagi yang mau Tuan katakan? Bahwa Tuan akan menyerahkanku pada keluargamu agar mereka bisa memenggal kepalaku?” Lucas mendekat, suaranya berat. “Aku bisa menyelamatkanmu, Allysa. Tapi kau harus melakukan apa yang aku katakan.” Allysa menatapnya dengan tatapan tak percaya. “Menyelamatkanku? Tuan sudah menamparku, mengurungku, menghancurkan semua sisa harga diriku … dan sekarang Tuan bicara soal menyelamatkan? Sungguh lelucon yang tidak lucu!” Lucas menahan emosi, tapi nada suaranya tetap tajam. “Kalau kau tetap keras kepala, kau akan mati. Para tetua sudah mengirim orang untuk mencarimu. Mereka tidak peduli pada kebenaran. Bagi mereka, kau hanya kambing hitam yang harus dikorbankan.” Air mata Allysa jatuh, tapi suaranya bergetar penuh keberanian. “Lebih baik aku mati daripada jadi boneka dalam permainan kotor keluargamu.” Lucas mendekat lebih jauh, kini jarak mereka hanya sejengkal. Nafasnya berat, sorot matanya bagai api. “Aku bisa melindungimu. Satu-satunya cara … adalah menikahimu.” Allysa terdiam. Kata-kata itu seperti petir menyambar di malam sunyi. “Apa?!” Suaranya pecah, tak percaya. Lucas menegaskan. “Jika kau jadi istriku, tidak ada yang berani menyentuhmu. Tidak tetua, tidak musuhku, tidak siapa pun. Kau akan aman di bawah namaku.” Allysa menatapnya dengan sorot penuh luka. “Tuan gila … Tuan pikir pernikahan itu tameng? Tuan pikir aku akan menikahi lelaki yang memperlakukanku seperti tahanan? Yang bahkan tidak percaya pada kata-kataku?” Lucas terdiam, tapi matanya menunjukkan konflik batin yang dalam. Allysa melangkah maju, mendorong dadanya dengan tangan gemetar. “Aku sudah kehilangan Kendrick … jangan paksa aku kehilangan diriku sendiri hanya demi ambisimu!” Lucas menahan tangannya, menggenggam erat. “Ini bukan ambisi. Ini satu-satunya cara agar kau tetap hidup.” Allysa berusaha melepaskan, air matanya semakin deras. “Lebih baik aku mati sebagai Allysa yang bebas … daripada hidup sebagai istri pria yang membenciku.” Kata-kata itu menghantam Lucas tepat di dadanya. Rahangnya mengeras, tapi tatapannya penuh gejolak. Baru kali ini ada gadis yang menolaknya secara terang terangan. Padahal secara fisik dan kekayaan, ia dipuja oleh banyak perempuan di luar sana. Keheningan menekan ruangan. Dua jiwa yang sama-sama terluka, terjebak dalam pusaran keluarga mafia yang tak mengenal belas kasihan. Di luar kamar, angin malam Istanbul berhembus kencang, membawa isyarat—badai besar baru saja dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN