Bab 6. Jadi Kambing Hitam

1229 Kata
Kabut sore di Istanbul semakin pekat. Dari lorong menuju dapur, langkah-langkah para maid terdengar sayup, namun tidak menutupi jelasnya percakapan yang baru saja pecah di ruang makan keluarga Alberto. Allysa berdiri terpaku, punggungnya menempel pada dinding dingin batu marmer. Telinganya mendengar setiap kata yang keluar dari mulut para tetua. Nama “wanita itu” yang dimaksud berulang kali, dan ia tahu persis siapa yang sedang dibicarakan: dirinya. Tubuhnya bergetar hebat. Tangannya yang pucat meremas apron pinjaman yang masih melilit pinggangnya. Hati Allysa terasa digilas kenyataan pahit—ia, Allysa Maharani, dulu adalah mahasiswi Indonesia yang datang ke Turki berbekal beasiswa, yang dulu begitu bangga bisa berdiri mandiri di negeri orang, kini justru dipandang sebagai aib dan ancaman oleh sebuah keluarga mafia paling ditakuti. Air matanya jatuh, panas, membasahi pipi yang pucat. “Ya Allah … kenapa semua ini menimpaku?” bisiknya, suara parau nyaris tenggelam oleh bunyi langkah para pelayan. Ia ingin menjerit, ingin lari, tapi kedua kakinya seperti membeku. Dalam hati ia meratap: untuk apa ia berjuang begitu keras di negeri orang, jika akhirnya hidupnya hanya dihargai sebatas nyawa yang bisa ditebus dengan darah? Allysa teringat kembali—satu tahun penuh ia jalani bersama Kendrick, lelaki yang membuatnya percaya bahwa cinta bisa menjadi rumah di tanah asing. Kendrick bukan hanya seorang dokter tampan, melainkan pria yang tulus, sabar, dan selalu melindunginya. Mereka bahkan telah merencanakan kepulangannya ke Indonesia, mempertemukannya dengan kedua orang tuanya. Harapan sederhana itu kini runtuh. Kekasihnya terbujur kaku tanpa nyawa, dan ia bahkan tak tahu siapa yang tega menghabisinya. Dengan langkah goyah, Allysa meninggalkan lorong. Ia tidak peduli lagi apakah ada yang melihatnya. Dalam benaknya hanya satu: ia harus menemui Lucas. Pria itu satu-satunya yang bisa memutuskan hidup atau matinya. Lucas baru saja menutup pintu besar ruang makan. Bahunya berdenyut, namun matanya tetap tajam, menatap mobil-mobil hitam keluarga Alberto yang menjauh. Udara dingin dari laut menampar wajahnya, seakan mengingatkan bahwa badai sudah menunggu di depan. Saat ia berbalik, sosok mungil berdiri di ambang tangga—berdiri dengan wajah pucat, mata bengkak, tubuh bergetar hebat. “Tuan Lucas ….” Suara itu lirih, tapi penuh ketakutan. Lucas mendengus pelan. “Apa yang kau lakukan di sini?” Allysa menahan tangis, mencoba tegar. Ia melangkah maju, meski lututnya gemetar. “Aku mendengar mereka. Aku tahu … aku tahu semua mata tertuju padaku. Mereka ingin aku mati.” Lucas tidak menjawab, hanya menatap dingin, seperti menilai keberanian perempuan itu. “Aku … aku tidak membunuh Kendrick,” suara Allysa pecah, air matanya jatuh semakin deras. “Demi Allah aku tidak melakukannya. Tapi jika memang keluargamu menuntut darahku … aku tidak punya tempat lari lagi. Izinkan aku hanya pulang sekali ke Indonesia. Aku ingin melihat Ayah dan Ibu untuk terakhir kalinya. Setelah itu … bunuh aku dengan tanganmu sendiri.” Perkataan itu menembus d**a Lucas, tapi wajahnya tetap membeku. Ia melangkah maju mendekat, jarak tinggal satu lengan. Tatapannya bagai belati, menusuk tanpa ampun. “Jangan pernah berani bicara seperti itu lagi.” Suaranya rendah, namun menggelegar. Allysa menggigit bibir, menahan isak. “Aku bersumpah … aku tidak membunuh adikmu, Tuan Lucas. Aku mencintainya. Kendrick adalah satu-satunya alasan aku bertahan hidup di sini. Kalau aku ingin melihatnya mati, untuk apa aku bertahan selama ini di sisinya?” Lucas terdiam sepersekian detik, tapi kilatan emosinya justru berubah menjadi amarah. Tangan dinginnya melayang cepat—plak!—menampar pipi Allysa keras. Tubuh mungil itu terhuyung lalu jatuh berlutut di lantai marmer. Sakit itu membuat Allysa memejamkan mata. Luka di tubuhnya dari insiden tempo hari seakan kembali terbuka, ditambah lagi tamparan pria yang kini berdiri tegak di hadapannya. Nafasnya tercekat, d**a sesak, namun ia tidak menjerit. Lucas menunduk, menatapnya dari atas dengan sorot penuh bara. Tanpa banyak kata, ia menarik lengan Allysa kasar, menyeretnya menaiki tangga. Perempuan itu meronta, tapi tenaganya tak sebanding dengan kekuatan dingin Lucas. “Lepaskan aku, Tuan!” jerit Allysa, tangannya berusaha menepis. Lucas tidak peduli. Ia menyeret hingga ke kamar yang ada di lantai dua, lalu mendorong tubuh lemah itu masuk ke dalam. Pintu dibanting hingga bergetar. “Jangan pernah bermimpi pulang ke Indonesia.” Suara Lucas meledak, penuh wibawa seorang pemimpin sekaligus amarah seorang saudara yang berduka. “Sekali kau melangkah keluar, kau tidak hanya mengantarkan dirimu ke liang kubur, tapi juga menodai harga diri keluarga ini!” Air mata Allysa mengalir tanpa bisa dibendung. Ia berdiri dengan tubuh gemetar, namun kali ini matanya menatap berani. “Jadi lebih baik aku mati di sini? Menjadi kambing hitam bagi keluargamu? Aku tidak pernah membunuh Kendrick! Kenapa Tuan tidak percaya?! Apa karena aku orang luar? Karena aku perempuan lemah yang tidak punya siapa-siapa di negeri ini?” Lucas mendekat cepat, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Allysa. “Karena semua bukti mengarah padamu! Dan, mereka menyakini itu!” desisnya. “Kau ada di sisinya saat ia mati. Kau orang terakhir yang melihatnya bernyawa. Apa itu kebetulan?” Allysa terisak, suaranya pecah. “Kalau aku pembunuhnya, kenapa aku masih di sini? Kenapa aku tidak kabur jauh-jauh? Karena aku tidak bersalah, Tuan Lucas! Aku mencintainya … aku kehilangan dia, sama seperti kau kehilangan adikmu. Bedanya … Tuan masih punya keluarga untuk bersandar. Aku? Aku sendirian di negeri asing ini. Dan sekarang … bahkan Tuan ingin menghabisiku!” Kalimat itu membuat d**a Lucas sesak, namun ia menyembunyikannya di balik wajah dingin. Keheningan menekan. Nafas mereka berat, terdengar jelas dalam ruangan. Allysa melangkah maju, meski tubuhnya goyah. “Kalau benar Tuan pemimpin, kalau benar Tuan punya wibawa … kenapa Tuan tidak mencari kebenaran? Kenapa Tuan memilih percaya pada desas-desus, pada tatapan penuh kebencian dari keluarga Tuan? Apa bedanya Tuan dengan mereka kalau begitu? Mana janjimu yang akan mencari pelaku sebenarnya!” Lucas mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. Pertanyaan itu menghantam harga dirinya, membuat amarah dan keraguannya bertabrakan. “Aku sudah bilang … aku yang akan menyelidiki kematian Kendrick.” Suaranya berat, namun masih dingin. “Tapi jangan pernah lagi menguji kesabaranku, Allysa. Mulai malam ini, kau tidak akan keluar dari kamar ini tanpa izin dariku. Anggap saja ini penjara … karena di luar sana, keluargaku sudah siap menuntut darahmu.” Allysa menatapnya, air mata menetes tanpa henti. Namun dari bibirnya keluar kata-kata lantang, penuh putus asa tapi juga keberanian. “Kalau memang mereka menginginkan darahku, silakan! Tapi percayalah, membunuhku tidak akan membuat Kendrick kembali. Justru kalian akan kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya tanpa pamrih. Dan itu … adalah aib yang lebih besar daripada gosip apa pun.” Lucas terpaku. Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada tamparan yang ia layangkan barusan. Dalam hati, ia benci mengakui ada kebenaran di balik tangisan perempuan itu. Namun egonya terlalu tinggi untuk mengalah sekarang. Ia memalingkan wajah, berjalan ke arah pintu. “Istirahatlah. Besok … kita bicara lagi.” Klik! Pintu dikunci dari luar. Allysa terjatuh ke lantai, menangis terisak dalam kesunyian. Dadanya sesak, tubuhnya sakit, namun hatinya lebih hancur. Ia merapatkan lutut ke d**a, berdoa lirih agar kebenaran suatu hari nanti bisa terungkap. Di luar pintu, Lucas berdiri beberapa detik, punggungnya bersandar pada dinding. Tangannya mengepal, hatinya diliputi badai. Ia ingin percaya pada kata-kata Allysa, namun bayangan wajah adiknya yang terbunuh terus menghantui. Tatapannya tajam menembus kegelapan lorong. Ia tahu satu hal: entah Allysa bersalah atau tidak, mulai saat ini perempuan itu terjebak dalam pusaran konflik keluarga Alberto. Dan Lucas … tidak bisa lagi berpura-pura bahwa perasaannya sama sekali tidak terlibat. Badai itu telah resmi pecah—dan darah mungkin hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali tumpah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN