Matahari siang menyinari halaman luas mansion keluarga Alberto. Langit Istanbul yang biru kontras dengan ketegangan yang perlahan menyelimuti udara. Gerbang besi berukir elang hitam terbuka lebar, membiarkan iring-iringan mobil mewah berwarna hitam dan abu-abu memasuki pelataran. Setiap mobil berhenti rapi di jalur berbatu marmer, dan dari dalamnya keluar para pria berjas gelap dengan sorot mata dingin—para tetua keluarga besar, orang-orang yang selama ini menjadi penopang sekaligus pengawas garis keturunan Alberto.
Di antara mereka, berdiri seorang pria berwajah keras dengan janggut tipis, berjas hitam dan scarf abu-abu melilit lehernya. Dialah Sammer Ilbiran Alberto, adik kandung mendiang ayah Lucas. Usianya mendekati enam puluh, namun wibawa dan ketegasan masih begitu tajam terpancar dari sorot matanya.
Para maid di mansion tampak sibuk menyambut kedatangan para tetua. Hidangan tradisional Turki sudah disiapkan di meja panjang ruang makan: kuzu tandır—daging kambing panggang lembut dengan rempah khas Anatolia, piring-piring berisi meze, roti pide hangat, serta teko-tembaga besar berisi teh hitam pekat. Aroma kuat bercampur di udara, namun bukan rasa lapar yang menguasai ruangan, melainkan aura berat seakan badai akan pecah.
Ermit, kepala pelayan, memastikan segalanya berjalan sempurna. Namun bahkan ia pun tak bisa menyembunyikan ketegangan di wajahnya. Ia tahu, pertemuan ini bukan sekadar jamuan makan. Ini adalah meja perundingan nyawa.
Lucas turun dari lantai dua dengan langkah mantap. Jas hitamnya rapi, namun balutan perban di bahu masih terlihat samar di balik kain. Sorot matanya tajam, dingin, namun penuh wibawa—mata seorang pemimpin muda yang dipaksa menanggung warisan darah. Marco berdiri setia di belakangnya, berjaga seperti bayangan yang siap menyambar kapan saja.
Begitu Lucas memasuki ruang besar, semua tatapan beralih kepadanya. Ada kerabat-kerabat jauh, sepupu, juga orang-orang tua yang pernah berperang bersama ayahnya di masa lalu. Masing-masing duduk di kursi ukiran kayu berlapis beludru merah. Suasana hening sesaat, hanya terdengar bunyi detik jam antik di dinding.
Sammer berdiri. Ia menepuk meja sekali dengan telapak tangannya, keras, membuat gelas teh di atasnya bergetar.
“Lucas.” Suaranya berat, bergemuruh, “kami mendengar kabar buruk. Kendrick … keponakan kami, adikmu … dibunuh. Dan menurut kabar yang beredar di jalanan, pembunuhnya adalah kekasihnya sendiri. Apa kau tahu betapa besarnya aib ini bagi keluarga Alberto?”
Tatapan Sammer menusuk. Aura amarah bercampur dengan duka yang belum tuntas.
Juliet, bibi Lucas, perempuan berusia lima puluhan dengan selendang sutra di bahunya—mengusap matanya yang sembab. Ia memang lebih halus daripada Sammer, namun kata-katanya tak kalah menusuk. “Lucas, Sayang … keluarga kita punya aturan yang jelas. Nyawa dibayar dengan nyawa. Kau tahu itu. Kau tidak boleh membiarkan wanita itu bebas begitu saja, apalagi jika benar ia kekasih Kendrick. Itu penghinaan yang tak bisa ditoleransi.”
Para kerabat lain mengangguk pelan, sebagian bergumam, sebagian hanya menatap Lucas dengan ekspresi penuh tekanan.
Lucas berdiri di ujung meja, tatapannya menyapu semua wajah yang hadir. Ia membiarkan keheningan mengisi ruangan beberapa detik sebelum menjawab. “Aku tahu aturan keluarga,” ujarnya lantang, suara beratnya mengisi ruangan. “Tapi aku juga tahu betul, aturan itu tidak boleh membutakan kita dari kebenaran.”
Sammer mengepalkan tangan. “Kebenaran apa lagi yang kau cari? Kendrick mati. Dan seorang wanita ada di sisinya sebelum darahnya berhenti mengalir. Itu cukup bagiku. Kalau kau tidak mampu membalas dendamnya, maka biarkan aku dan para tetua yang melakukannya. Wanita itu akan kami habisi dengan cara yang sama—darah dibalas darah.”
Lucas menajamkan sorot matanya, menatap pamannya tanpa gentar. “Tidak.” Suara itu tegas, bergema. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya. Selama aku yang memimpin keluarga ini, tidak ada keputusan yang keluar tanpa restu dariku. Kematian Kendrick … masih kuselidiki. Dan sampai aku menemukan pelaku sebenarnya, tidak ada seorang pun yang boleh menumpahkan darah seenaknya.”
Ruangan mendidih. Beberapa tetua berbisik, jelas tidak puas.
Juliet maju dengan suara lembut, namun penuh tekanan emosional. “Lucas, kau terlalu muda untuk bermain dengan api. Kau tahu bagaimana dunia kita bekerja. Jika kabar itu menyebar—bahwa kekasih Kendrick membunuhnya dan dibiarkan hidup—keluarga lain akan menertawakan kita. Nama besar Alberto akan runtuh.”
Lucas menarik napas panjang, menahan amarahnya. “Nama besar keluarga ini tidak akan runtuh hanya karena gosip. Justru akan runtuh jika kita mengambil keputusan gegabah. Aku tidak menolak membalas dendam—tapi dendam tanpa kepastian hanya akan membuat kita jadi boneka musuh. Varela ….” Ia menekankan nama itu, “Sudah lama mengincar kita. Kalian tidak sadar? Kabar-kabar ini bisa saja rekayasa mereka. Aku tidak akan menari mengikuti musik musuh.”
Kata-kata Lucas membuat ruangan terdiam sejenak. Namun ia bisa melihat, dari sudut mata, ada beberapa kerabat yang saling bertukar tatapan singkat—gerakan kecil, tapi cukup mencurigakan. Lucas mengenali satu-dua wajah yang memang punya hubungan jauh dengan keluarga Varela, musuh lamanya.
“Jangan-jangan pengkhianat ada di meja ini,” pikir Lucas dalam hati. Mata elangnya menyapu mereka semua, dingin, tajam, seolah ingin menelanjangi isi hati.
Sammer mencondongkan tubuh ke depan. “Lucas, jangan berlagak seperti ayahmu dulu. Terlalu berhati-hati, terlalu memikirkan strategi, sampai lupa kalau dalam keluarga mafia … hanya ada satu hukum. Darah.”
Nada itu penuh tantangan. Lucas menahan diri agar tidak meledak. Bahunya masih sakit, namun ia berdiri tegak, berusaha menunjukkan bahwa ia bukan anak muda yang bisa ditundukkan.
“Ayahku mungkin berhati-hati,” balas Lucas, “tapi justru itu yang membuat kita bertahan selama puluhan tahun. Kalau sekarang aku memilih berhenti dan berpikir sebelum membunuh, itu bukan kelemahan. Itu strategi. Kalau ada yang tidak bisa menerima ….” Ia mendekat, menatap tajam pada pamannya, “Maka mereka bebas meninggalkan meja ini.”
Keheningan lagi-lagi jatuh. Hanya terdengar bunyi pisau garpu beradu karena salah satu kerabat gemetar menahan amarah.
Juliet mencoba meredakan, meski jelas ia berdiri di sisi Sammer. Ia menggenggam tangan Lucas sebentar, suaranya menurun, penuh rasa iba tapi juga manipulatif. “Lucas … kau anak yang baik. Tapi keluarga kita tidak bisa dibiarkan dipermalukan. Kau harus tunjukkan bahwa kau bisa menghukum, sama seperti ayahmu dulu. Demi nama baik kita, demi Kendrick .…”
Lucas memandang bibinya. Ada sesaat kelembutan yang hampir membuatnya goyah, mengingat masa kecilnya saat Juliet yang mengasuhnya ketika ibunya sakit. Namun ia segera mengeraskan hati.
“Bibi,” ucapnya datar, “Aku akan menghukum orang yang pantas dihukum. Tapi aku tidak akan menyalakan api dendam pada orang yang mungkin tidak bersalah. Itu keputusan finalku.”
Sammer bangkit berdiri, kursinya bergeser keras menimbulkan suara berderit. “Kalau begitu, kau bukan pemimpin sejati. Kau hanya bocah yang terlalu sibuk mencari alasan. Jika kau tidak sanggup, maka biar aku yang mengambil alih!”
Ucapan itu membuat semua tetua terkejut. Beberapa langsung menoleh, sebagian tampak setuju, sebagian lagi menahan napas.
Lucas mendekat, berdiri sejajar dengan pamannya, hanya berjarak satu langkah. Sorot mata mereka bertemu—dua elang dari generasi berbeda, sama-sama buas.
“Coba saja, Paman,” bisik Lucas rendah tapi penuh ancaman. “Lihat siapa yang jatuh lebih dulu. Aku … atau kau.”
Ruangan seakan meledak tanpa suara. Para kerabat menahan diri, sadar pertengkaran ini bisa berujung pertumpahan darah. Marco yang sejak tadi diam, tangannya sudah siap di balik jasnya, berjaga-jaga.
Juliet buru-buru berdiri, memegang lengan Sammer. “Cukup! Kita bukan musuh di sini. Kita keluarga!” Suaranya lirih namun panik.
Sammer menepis tangannya kasar, tapi tidak melanjutkan konfrontasi. Ia hanya menatap Lucas sekali lagi, lalu duduk kembali dengan wajah keras.
Jamuan makan yang sudah disiapkan nyaris tak tersentuh. Ketegangan begitu pekat hingga aroma rempah pun terasa hambar. Para tetua akhirnya meninggalkan mansion dengan ekspresi yang masih menyimpan amarah.
Lucas berdiri di pintu besar, menyaksikan mobil-mobil hitam itu pergi satu per satu. Angin sore berhembus, membawa bau garam dari laut. Namun yang tersisa di dadanya hanyalah bara. Ia tahu, perlawanan baru saja dimulai—dan bukan hanya melawan musuh di luar, tapi juga dalam darah dagingnya sendiri.
Saat terakhir sebelum melangkah pergi, Sammer menoleh sebentar, tatapannya dingin. Pesan tanpa kata, tapi jelas: pertarungan dalam keluarga Alberto belum selesai.
Lucas menarik napas dalam-dalam, menatap ke arah langit Istanbul. Mata elangnya menyala, penuh waspada. Ia harus bersiap, karena badai sudah di depan mata—dan mungkin, badai itu akan datang dari orang-orang yang baru saja duduk bersamanya di meja siang ini.