Kabut pagi Istanbul masih menyelimuti jalanan ketika ketukan sepatu berat menggemuruh di kamar kecil. Allysa yang tertidur lelah di ranjang kecil dengan tangannya kembali dirantai, terbangun dengan kasar karena satu tamparan ringan mengenai pipinya.
“Bangun!” bentak seorang anak buah Lucas, tubuhnya besar, tato menjalar dari leher hingga lengan.
Allysa membuka mata dengan berat. Kepalanya masih pening, tubuhnya lunglai. Kedua tangannya segera ditarik paksa, borgol dingin kembali mengikat pergelangan halusnya. Rantai itu berderik keras, menyayat perasaan sekaligus kebebasannya.
“Ke mana kau membawaku?” Suara Allysa parau, penuh protes. "Ke mana Tuan Lucas?"
Lelaki itu tidak menjawab. Ia hanya menarik lengannya dengan kasar. Allysa terseret, langkah kakinya goyah. Belum sempat bertanya lagi, selotip hitam menutup rapat bibirnya. Rasa lengketnya menusuk, membuat napasnya terasa sesak.
“Diam! Kau hanya akan ikut,” ujar lelaki itu dingin.
Allysa menatapnya tajam, namun matanya hanya mendapat balasan sinis. Gadis itu tidak punya pilihan selain pasrah. Mereka melewati koridor bawah tanah yang pengap, lalu menaiki tangga besi berderit menuju garasi luas. Di sana, sebuah mobil hitam sudah menunggu, mesin berderum.
Ia didorong masuk ke kursi belakang. Dua pria bertubuh kekar mengapitnya, wajah mereka tanpa ekspresi, hanya tatapan dingin yang membuat d**a Allysa kian sesak. Mobil itu meluncur menembus jalanan kota, meninggalkan rumah persinggahan Lucas yang suram.
***
Dua jam perjalanan terasa bagai siksaan tanpa ujung. Allysa hanya bisa menatap keluar jendela, melihat bayangan bangunan tua berganti dengan gedung-gedung megah Istanbul. Saat mobil melewati jembatan Bosphorus, ia sempat terpaku oleh keindahan panorama laut yang berkilau diterpa matahari pagi. Tapi rasa kagum itu cepat hilang, ditelan rasa takut yang mencekik.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah mansion megah. Gerbang besi berukir simbol elang hitam terbuka perlahan, memperlihatkan taman luas dengan air mancur tinggi di tengahnya. Allysa menelan ludah. Tempat itu terlalu indah untuk sebuah sarang mafia.
Di halaman depan, sebuah mobil lain—juga hitam—sudah lebih dulu parkir. Dari balik kaca, Allysa melihat sosok Lucas turun dengan langkah mantap. Bahunya memang sudah terbalut, namun wibawa dan auranya masih sama: menakutkan. Ia berjalan masuk melalui pintu utama, tanpa menoleh sedikit pun ke arah mobil tempat Allysa berada.
Tak lama kemudian, pintu mobil dibuka. Allysa ditarik kasar keluar. Sepasang mata para maid yang berjajar di samping tangga besar menatapnya dengan sinis, sebagian berbisik dengan nada menghina.
“Siapa gadis itu? Mengapa terlihat seperti tawanan?”
“Pantas wajahnya lelah, lihat saja caranya jalan ….”
Allysa pura-pura tidak mendengar. Ia terlalu letih untuk membalas tatapan atau bisikan itu. Langkahnya terseok, tapi kedua penjaga tetap menyeretnya melalui pintu samping yang lebih sempit dan gelap, bukan pintu utama yang penuh kemegahan.
Di dalam, mereka langsung berhadapan dengan seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun. Rambutnya disanggul rapi, seragam hitam-putihnya memberi kesan tegas. Dialah Ermit, kepala pelayan.
“Bawa dia ke kamar pembantu,” perintah salah satu anak buah Lucas. “Kunci dari luar. Jangan biarkan dia keluar tanpa izin Tuan Lucas.”
Ermit menatap Allysa dari atas hingga bawah. Tatapannya tajam, seakan menilai harga diri Allysa lebih rendah dari debu di karpet mansion itu. Namun, tanpa berkata banyak, ia memberi isyarat dengan dagu pada dua maid muda untuk menuntun Allysa.
Kamar pembantu yang dituju ternyata berada di sayap belakang mansion, jauh dari keramaian. Ruangannya kecil, dindingnya polos, jendela sempit dengan jeruji besi. Begitu Allysa masuk, pintu itu langsung dikunci rapat dari luar. Borgol di tangannya baru dilepas, tapi pintu besi memastikan ia tetap terpenjara.
Allysa duduk di tepi ranjang sederhana. Napasnya berat. Ia menatap sekeliling kamar yang asing, mencoba memahami nasibnya sendiri. “Apa aku hanya pion di permainan ini?” pikirnya getir.
***
Sementara itu, di ruang kerja lantai dua, Lucas berdiri di depan layar besar yang menampilkan rekaman CCTV. Marco berada di sisinya, tangan memegang remote, menghentikan video pada satu titik penting.
“Tadi malam aku menganalisa ulang,” kata Marco serius. “Lihat. Waktu Kendrick mau disuntik, ada wanita lain di ruangan itu. Tuan lihat? Rambut panjang, tubuhnya mirip Allysa … tapi perhatikan detail wajahnya dan ikatan rambutnya.”
Lucas mendekat, menatap layar. Sorot matanya menajam. “Kemiripan ini terlalu nyata ….”
“Ya,” sambung Marco. “Aku sudah cari di database. Wanita itu bukan Allysa. Dia salah satu eksekutor milik Varela. Namanya Camilla.”
Lucas mengatupkan rahangnya. Nama itu bagai racun. Varela—musuh lamanya—lagi-lagi menabur benih pengkhianatan. Dan kini, gadis yang ia kurung mungkin benar-benar tidak bersalah.
“Tapi ….” Lucas menahan kata-katanya. “Aku tidak bisa percaya begitu saja. Bisa saja rekaman ini direkayasa.” Pria itu masih menyanggahnya, tidak mau membenarkannya.
Marco menoleh cepat. “Tuan, dengan semua bukti ini, apa masih perlu ragu? Gadis itu menyelamatkan hidupmu. Kalau ia ingin membunuhmu, semalam ia punya banyak kesempatan. Kita sudah salah tangkap.”
Lucas terdiam. Ingatannya kembali ke momen ketika jarum jahit menembus daging bahunya, dan tatapan Allysa yang dingin namun tulus. Ia tahu betul, Allysa bisa saja menusukkan jarum ke lehernya. Tapi ia tidak melakukannya.
Tetap saja, hati Lucas belum bisa tenang. Luka masa lalu, pengkhianatan, dan kematian Kendrick membuatnya sulit percaya pada siapa pun. Ia memukul meja kayu keras-keras. “Sampai wanita itu—Camilla—tertangkap, aku tidak akan percaya seratus persen.”
Marco menghela napas, namun mengangguk. “Baik, Tuan.”
***
Di kamar sempitnya, Allysa berbaring menatap langit-langit. Kelopak matanya berat, tapi pikirannya terlalu gaduh untuk tidur. Setiap bayangan masa lalu muncul: tatapan sinis Lucas, ancaman maut, luka yang ia rawat, dan kata-katanya sendiri yang masih menggema—‘aku ingin kau tahu rasanya diselamatkan oleh orang yang kau siksa.’
Hatinya kacau. Antara benci dan rasa iba. Antara ingin lari dan ingin membuktikan kebenarannya.
Ketukan pintu tiba-tiba terdengar. Keras. Allysa langsung bangkit, jantungnya berdegup kencang.
“Bangun.” Suara Lucas terdengar dari luar, berat dan berwibawa. “Ikut aku.”
Pintu terbuka. Dua penjaga masuk, menarik Allysa lagi. Ia masih lelah, tapi tatapannya menyalakan api kecil perlawanan.
Lucas berdiri di koridor, jas hitam terpasang rapi, meski wajahnya tetap pucat. Ia menatap Allysa lama, lalu berkata datar. “Hari ini, kau akan tinggal di sini, bertugas sebagai maid sampai pelaku pembunuh adikku benar-benar tertangkap. Dan jika kau terbukti berbohong … jangan harap aku akan membiarkanmu hidup.”
Allysa mendongak, matanya penuh tekad. “Aku tidak butuh belas kasihanmu. Yang aku butuh hanya kebenaran, Tuan.”
Ada ketegangan aneh yang kembali bergetar di udara. Tatapan mereka saling terkunci—dua jiwa yang dipaksa bekerja sama oleh keadaan, namun diikat kebencian yang belum padam.
Marco yang menyaksikan dari dekat hanya bisa menarik napas panjang. Ia tahu, badai yang lebih besar sedang menunggu. Karena persekutuan rapuh ini bukan hanya soal nama Allysa … tapi soal dendam, darah, dan kehormatan yang dipertaruhkan di medan perang dunia bawah tanah Istanbul.
Dan di balik semua itu, bayangan Varela semakin mendekat, menunggu waktu untuk menghancurkan mereka berdua.