Bab 3. Luka Dan Rahasia

1425 Kata
Lucas masih menodongkan pistol ke arah kening Allysa ketika pintu ruang kerja tiba-tiba diketuk terburu-buru. Suara napas terengah-engah terdengar dari luar. “Tuan! Mereka sudah masuk area belakang! Orang-orang Varela!” Suara Marco pecah, penuh alarm. Lucas mendesis, rahangnya mengeras. Ia melepaskan cengkeraman di dagu Allysa, lalu melempar pistol ke atas meja kayu bergores darah lama. Namun, tak butuh waktu lama untuk meraih kembali senjata itu. Tangannya bergerak cepat, penuh pengalaman. “Apa?” Allysa berbisik panik, matanya membesar. Lucas menoleh singkat, menatapnya tajam. “Diam. Ikuti aku.” Tanpa memberi kesempatan untuk bertanya, Lucas meraih lengan gadis itu dengan kasar. Allysa meringis kesakitan, tapi ia tahu melawan hanya akan memperburuk nasibnya. Tepat ketika pintu ruang kerja terbuka, dentuman pistol bergema dari arah halaman. Suaranya menusuk telinga, pecah berulang kali seperti kembang api neraka. BRAK! BRAK! BRAK! “Cepat, Tuan!” Marco menerobos masuk, wajahnya sudah dipenuhi goresan darah di pipi, entah miliknya atau musuhnya. Senjatanya masih mengepulkan asap. Lucas menggeret Allysa keluar dari ruang kerja. Mereka menuruni koridor sempit, lalu menembus anak tangga yang remang. Di luar jendela kaca, cahaya tembakan berpendar-pendar seperti kilat di langit malam. Allysa tersentak ketika suara peluru melesat melewati kaca dan menghantam dinding tepat di samping kepalanya. Serpihan batu berjatuhan, mengenai pipinya. “Ahh!” pekiknya ketakutan. Lucas mendengus, lalu tanpa ragu menundukkan kepala Allysa dengan tangannya yang kuat. “Jangan berdiri! Kau ingin mati lebih cepat?” Tubuh Allysa digeret paksa, seakan nyawanya tak lebih berharga daripada sehelai rumput kering di bawah sepatu mafia itu. Namun, di balik kekasaran itu, Lucas justru menahannya agar tidak menjadi sasaran empuk peluru. Mereka hampir mencapai pintu belakang ketika seorang pria berpakaian hitam melompat masuk melalui jendela. Senjatanya teracung lurus ke arah Lucas. “Lucas Alberto!” teriaknya. Tanpa pikir panjang, Lucas mendorong Allysa ke samping, membuat tubuh gadis itu jatuh terbanting ke lantai dingin. Dalam detik yang sama, pistol Lucas menggelegar. DOORR! Peluru bersarang di d**a pria itu, membuatnya terjengkang ke belakang dengan darah menyembur deras. Allysa terperanjat, tubuhnya bergetar. Ia tak pernah melihat nyawa manusia melayang begitu cepat dan brutal di depan matanya. Namun Lucas tak punya waktu memedulikan ketakutannya. “Berdiri!” bentaknya. Ia kembali menyeret Allysa, menuruni anak tangga menuju garasi bawah tanah. Di sisi lain, Marco sedang bertarung mati-matian dengan salah satu penyusup lain yang berhasil menembus pertahanan. Tubuh besar Marco bergerak lincah meski napasnya memburu, tangan kirinya menahan pisau lawan, tangan kanannya mencoba meraih pistol di pinggang. “Marco, cepat ke mobil!” seru Lucas. Namun sebelum Marco sempat melepaskan diri, letusan pistol terdengar. DOR! Lucas menjerit tertahan ketika panas menyambar bahunya. Darah langsung mengucur, membasahi jas hitamnya. Tubuhnya terhuyung. “Tuan!” Allysa menjerit histeris, wajahnya memucat. Ia berusaha meraih lengannya, tapi pria itu buru-buru membekap mulutnya dengan tangan berdarah. “Diam. Jangan buat mereka tahu aku terluka,” bisiknya tajam di telinga Allysa. Meski tangannya gemetar, Lucas tetap memaksa dirinya maju. Ia menahan sakit, darah menetes sepanjang jalan, namun tekadnya lebih keras dari peluru yang bersarang di dagingnya. Marco akhirnya berhasil menumbangkan lawan, meski lengannya juga terluka sobekan pisau. Ia berlari ke arah Lucas, membantu membuka pintu garasi tempat sebuah mobil sport hitam sudah menunggu dengan mesin meraung. “Cepat naik!” Marco berteriak. Lucas menarik Allysa, hampir menyeretnya masuk ke kursi penumpang depan. Allysa gemetar hebat, napasnya tersengal, tapi Lucas sama sekali tak peduli. Ia sendiri masuk ke kursi pengemudi, meski bahunya berdenyut hebat. Marco menutup pintu di belakang mereka, lalu menembakkan peluru ke arah musuh yang mencoba mendekat. Mobil melaju kencang menembus gerbang belakang vila, diiringi suara peluru yang menghujani bodi besi. Kaca spion pecah, bodi mobil penuh goresan, tapi mesin bertenaga itu tetap melesat di jalanan gelap. *** Di dalam mobil, suasana hening namun mencekik. Hanya suara deru mesin dan napas berat yang terdengar. Allysa melirik Lucas. Bahu pria itu sudah basah kuyup oleh darah, wajahnya pucat, tapi matanya tetap tajam menatap jalan. “Tuan … Tuan tertembak! Kau harus berhenti!” seru Allysa dengan suara gemetar. Lucas menoleh cepat, tatapannya dingin menusuk. “Tutup mulutmu. Aku tidak butuh belas kasihanmu.” “Tapi darahmu—” “Diam!” Lucas menghardik, suaranya membuat Allysa tersentak. Air mata Allysa menetes. Ia menggenggam roknya erat, mencoba menahan ketakutan yang makin menyesakkan d**a. Baginya, malam ini adalah neraka. Namun, di balik kekerasan kata-kata Lucas, Allysa melihat satu hal: pria itu tetap memegang setir dengan tangan kokoh meski tubuhnya melemah. Ia bukan hanya melarikan diri untuk dirinya sendiri—tapi juga menyeret Allysa bersamanya, seakan memastikan ia tak mati di tangan musuh. Marco yang duduk di kursi belakang menekan luka di lengannya, matanya sesekali menatap Lucas melalui kaca spion. “Tuan, kita butuh tempat aman. Mereka pasti membuntuti.” Lucas menggertakkan gigi, menahan rasa sakit yang membuat kepalanya hampir pening. “Aku tahu!” Kita pergi ke gudang pelabuhan tua. Tidak ada yang akan mencariku di sana.” *** Mobil sport hitam itu akhirnya berhenti di sebuah rumah kosong di pinggiran kota—bukan gudang pelabuhan, melainkan persembunyian darurat yang sebelumnya hanya dipakai anak buah Lucas. Begitu pintu mobil terbuka, Lucas hampir terhuyung jatuh. Bahunya terus mengucurkan darah, membuat jas hitamnya lengket dan berat. Marco buru-buru menopangnya. “Tuan, kau harus diobati, sekarang juga.” Lucas menggeleng keras, wajahnya pucat tapi penuh tekad. “Tidak. Yang penting kita—” “Cukup!” Suara Allysa memotong, tak lagi bergetar. Gadis itu turun dari mobil, lalu meraih lengan Lucas dengan keberanian yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. “Kalau kau tetap keras kepala, kau akan mati kehabisan darah sebelum sempat membalaskan dendammu.” Lucas menatapnya tajam, ingin melawan, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk membantah. Akhirnya ia membiarkan Allysa menyeretnya masuk ke dalam rumah tua itu. Allysa segera menggeledah laci dan lemari kecil di dapur. Tangannya cekatan, matanya waspada. “Ada alkohol… perban… dan—” ia menemukan kotak medis berdebu di sudut ruangan. Di dalamnya terselip pinset, sarung tangan, juga pisau bedah kecil yang sudah berkarat. “Ini cukup.” Marco menutup pintu dengan waspada, lalu berjaga di luar ruangan. Sementara itu Lucas duduk di kursi kayu, tubuhnya bersandar lelah. Matanya menatap setiap gerakan Allysa, seakan tak percaya seorang tawanan berani bersikap seperti ini. Allysa mengikat rambutnya ke belakang, lalu menyalakan lampu meja yang redup. “Aku butuh Tuan diam. Jangan banyak bergerak.” Lucas menyeringai lemah, meski wajahnya berlapis keringat. “Kalau kau berniat membunuhku, ini saat yang tepat.” Allysa mendengus, menyiapkan alat seadanya. “Kalau aku ingin kau mati, aku tinggal biarkan peluru itu di bahumu. Kau akan mati perlahan karena infeksi.” Hening sejenak. Hanya terdengar napas berat Lucas. Allysa merobek sisa kain jas yang menempel di luka. Darah kembali mengalir deras, membuat tangannya bergetar. Namun ia menahan diri, lalu mensterilkan pinset dengan alkohol sebelum mulai mencari peluru. Lucas mendesah pelan, giginya terkatup rapat menahan sakit. Matanya sesekali melirik wajah Allysa yang serius, bibirnya terkatup rapat meski matanya berkaca-kaca. “Kenapa kau melakukan ini?” Suara Lucas akhirnya terdengar, berat dan serak. Allysa terdiam, tangannya tetap bekerja. “Karena aku perawat. Menolong orang yang terluka adalah kewajibanku.” “Bahkan kalau orang itu menodongkan pistol ke kepalamu?” Lucas menatapnya lekat. Allysa berhenti sebentar, lalu kembali melanjutkan. “Aku tidak memilih pasienku. Kau butuh pertolongan, dan aku… tidak tega membiarkanmu mati.” Lucas menahan erangan, tubuhnya menegang saat pinset menemukan logam kecil yang bersarang di bahu. Dalam sekali tarikan, peluru itu keluar, bercampur darah segar. Allysa segera menekan luka dengan kain steril. “Ahh—!” Lucas meringis keras, kepalanya terlempar ke belakang. Namun pandangannya tetap tak lepas dari wajah Allysa. Ada sesuatu yang aneh—di balik ketakutan gadis itu, ada ketulusan yang tak bisa ia mengerti. Allysa cepat-cepat membersihkan luka, lalu menjahitnya seadanya dengan benang kasar yang ia temukan di kotak medis. Tangannya gemetar, tapi ia bertahan. Beberapa menit kemudian, luka itu sudah diperban dengan rapi. Allysa duduk lelah, tangannya berlumuran darah Lucas. Lucas menunduk, menatapnya lama. “Kau tahu… aku bisa saja membunuhmu kapan saja. Tapi kau tetap memilih menyelamatkan nyawaku. ” Allysa menatap balik dengan mata berkaca. “Mungkin karena aku masih percaya… bahwa meski hidupmu dipenuhi darah, Tuan tetap punya sisi manusia yang ingin dilindungi. Dan aku … aku ingin percaya Kendrick tidak salah memilih mempercayakan hidupnya padamu.” Ucapan itu membuat d**a Lucas terasa sesak, lebih sakit daripada luka pelurunya sendiri. Ia terdiam lama, lalu bersandar kembali di kursi. “Ingat, jangan salahkan aku kalau besok kau menyesal telah menyelamatkan nyawaku!” Untuk pertama kalinya, Lucas Alberto menatap Allysa bukan sebagai tawanan… tapi sebagai seseorang yang entah bagaimana berhasil menembus dinding dingin di sekeliling dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN