Bab 2. Misteri Catatan Varela

1033 Kata
Lucas melangkah perlahan menuju kamar Kendrick, begitu masuk ke dalam, jemarinya menyentuh bingkai foto yang berdebu tipis. Di dalamnya, ia dan Kendrick berdiri bersebelahan, mengenakan jaket kulit yang sama, tertawa lepas di bawah cahaya matahari sore. Senyum itu—senyum yang kini tak akan pernah kembali. Ia duduk di tepi ranjang, menatap lama gambar itu, hingga matanya panas dan kabur. Air mata turun begitu saja, membasahi pipi keras yang selama ini jarang menunjukkan kelembutan. "Kau satu-satunya keluargaku, Ken ... Dan aku gagal melindungimu." Keheningan itu dipecah tiba-tiba oleh suara telepon di saku jasnya. Nada dering yang tajam menusuk keheningan kamar. Lucas menghela napas, mengusap matanya sebelum mengangkat. “Lucas.” Suara berat dari seberang terdengar tegas, “kami semua sudah menunggu langkah tegas darimu. Dua hari berlalu sejak Kendrick mati, dan kau belum memberi contoh bahwa darah harus dibayar dengan darah.” Lucas menahan amarahnya. “Aku sedang mengurusnya.” “Terlalu lambat.” Suara itu kini mengeras. “Beberapa orang mulai meragukan kepemimpinanmu. Bahkan … ada yang sudah bicara dengan pihak luar. Kau tahu artinya.” Lucas terdiam. Hatinya berdegup keras. Dalam dunia ini, tanda sekecil itu berarti pengkhianatan. “Bereskan,” ucap orang itu singkat sebelum memutus sambungan. Lucas memandangi ponselnya lama. Situasi ini bukan sekadar soal dendam pribadi—ini menyangkut posisinya, hidupnya, dan sisa kehormatan keluarga mereka. Ia tak punya pilihan selain bergerak cepat. *** Lucas berdiri, mulai menggeledah kamar. Laci demi laci ia buka, memeriksa setiap lembar kertas, setiap benda kecil yang mungkin memberi jawaban. Saat membuka laci meja di sudut, tangannya menyentuh secarik kertas kusut. Ia meraihnya, membuka lipatan itu perlahan. Tulisan tangan Kendrick—terburu-buru, goresannya miring. Beberapa kata terbaca samar: “pengiriman … dermaga … 2 kilo … Varela.” Lucas menyipitkan mata. “Narkoba?” gumamnya pelan. Ia menatap kertas itu lagi. Kendrick tak pernah mau terlibat dalam bisnis kotor keluarga, apalagi narkoba. Jika benar ia mencatat ini, berarti ada sesuatu yang besar … atau seseorang yang menjebaknya. Wajah Lucas mengeras. "Kalau ini penyebab kematianmu, Ken … aku akan hancurkan mereka satu per satu." *** Di sisi lain kota, di ruang isolasi yang dingin, Allysa terbaring dengan rantai di kaki. Luka di punggungnya masih basah, setiap gerakan kecil membuatnya meringis. Napasnya berat, tapi pikirannya tak berhenti bekerja. Ia memejamkan mata, mencoba mengulang semua yang terjadi di hari itu. Bau antiseptik rumah sakit, langkah-langkah terburu-buru di lorong, suara Kendrick bercanda di telinganya … lalu, momen ia menyadari name tag-nya hilang di ruang ganti. Allysa membuka mata mendadak. Ruang ganti. Saat itu, ia sempat melihat sosok wanita berambut sebahu, memakai masker, mondar-mandir di dekat loker perawat. Allysa ingat jelas—rambutnya dikuncir rendah, tidak dikepang. "Itu … bisa jadi dia yang mengambil name tag-ku." Jantungnya berdetak lebih cepat. Petunjuk itu mungkin satu-satunya yang bisa menyelamatkan nyawanya. Tapi masalahnya, bagaimana ia bisa memberi tahu Lucas tanpa terlihat seperti sedang berbohong? Ia menoleh ke pintu. Dua pria berjaga di luar, suara langkah mereka sesekali terdengar. Allysa tahu ia harus menunggu waktu yang tepat. Beberapa jam kemudian, pintu besi itu terbuka. Lucas berdiri di sana, masih dengan jas hitamnya yang rapi. Pandangannya tajam, tapi ada sedikit keraguan yang tersembunyi di balik mata itu. “Bangun,” perintahnya dingin. Allysa perlahan duduk, menahan nyeri. “T–Tuan … aku harus bicara denganmu.” Lucas menaikkan alis. “Kau sudah banyak bicara, tapi tidak ada yang berguna.” “Aku ingat sesuatu,” Suara Allysa serak, tapi tegas. “Hari itu, name tag-ku hilang di ruang ganti. Dan aku lihat seseorang yang … tidak kukenal, mondar-mandir di sana.” Lucas menatapnya lama, mencoba menilai apakah ini hanya akal-akalan untuk memperpanjang hidup. “Rambutnya?” “Dikuncir rendah. Bukan dikepang seperti punyaku. Pakai masker, jadi wajahnya tidak jelas.” Allysa menelan ludah. “Aku rasa … dia sengaja mengambil name tag-ku. Dan jika kau mau memeriksa CCTV ruang ganti … kau akan tahu aku tidak bohong.” Lucas memicingkan mata. “Kalau aku periksa, dan kau bohong .…” “Aku tidak bohong,” potong Allysa, suaranya pecah tapi penuh keyakinan. “Tuan mungkin tidak percaya, tapi Kendrick berarti segalanya bagiku. Aku tidak akan pernah menyakitinya.” “Kau pikir, aku akan semudah itu percaya!” sentaknya. Dengan keberanian yang menyelusup di benak Allysa, ia menatap dalam wajah pria itu. “Kalau aku pembunuhnya, bunuh aku aja sekarang. Apa itu Kendrick mau darimu, Tuan!” Hening. Lucas memutar pikirannya. Potongan informasi ini … bisa jadi tak berguna, atau justru kunci. Akhirnya, ia menoleh pada penjaga. “Kunci rantainya. Bawa dia ke ruang atas. Aku mau dia di bawah pengawasanku langsung.” Allysa menatapnya dengan mata melebar. Ia tidak tahu apakah ini awal kebebasan, atau sekadar memindahkannya dari satu neraka ke neraka lain. Malam itu, di ruang kerja pribadinya, Lucas duduk memandangi layar laptop. Ia mengakses rekaman CCTV rumah sakit—bukan dari sumber resmi, tapi dari jaringan bayangan yang dimilikinya. Ia memutar rekaman ruang ganti. Dan di sana, tepat pada jam yang disebut Allysa, seorang perempuan masuk. Postur tubuhnya mirip, seragamnya sama. Tapi … gerakannya aneh—tergesa, seperti sedang mencari sesuatu. Lalu, di detik berikutnya, terlihat jelas ia mengambil sesuatu dari loker dengan label Allysa M. sebelum pergi. Lucas menatap layar itu lama, rahangnya mengeras. "Jadi memang ada orang lain … tapi siapa?" Di ruangan sebelah, Allysa duduk di kursi dengan tangan terikat longgar. Ia tidak tahu bahwa Lucas kini memegang bukti yang bisa membebaskannya—atau membunuhnya, jika ternyata ini bagian dari permainan yang lebih besar. Ketukan pintu terdengar. Anak buah Lucas masuk, membawa map hitam. “Tuan … kami baru mendapat informasi. Perempuan dalam rekaman itu … bekerja untuk Varela.” Lucas membeku. Nama itu—sama dengan yang tertulis di kertas milik Kendrick. Lampu ruangan terasa lebih redup. Udara menegang. Perlahan, Lucas berdiri dan mengambil pistol yang sempat ia simpan di dalam laci. Kemudian ke ruangan sebelah. “Akh!” pekik Allysa saat dagunya dicengkeram kuat oleh Lucas. Dan pistol itu sudah menodong ke arah kening gadis itu. Allysa menggigit bibirnya, menanti akhir nasibnya di tangan pria bermata elang itu. Lucas menarik napasnya dalam-dalam, sedalam api yang membara di matanya. “Mulai besok kau ikut denganku, Kalau kau bohong, aku sendiri yang akan mengubur jasadmu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN