Hari telah berganti. Siang ini Rama baru saja sampai di rumahnya. Ia pulang setelah menjaga Shila semalaman karena ia harus segera berangkat bekerja. Padahal, keadaan Shila masih belum stabil. Gadis itu belum sadarkan diri juga. Setelah mandi, Rama mengecek handphonenya. Terdapat belasan panggilan tak terjawab dari Dea. Ia pun ingat. Ia harusnya menemui Dea kemarin. Kemudian ia menelpon nomor sahabatnya itu. Tak lama kemudian, panggilannya di angkat. Namun bukan Dea yang mengangkatnya. Melainkan suara seorang pria yang tak lain adalah Haru, suami Dea. “Ru, Dea mana?” Rama. Ia sangat mengenali pemilik suara itu dari logatnya yang kurang fasih berbahasa Indonesia. Dia adalah Haru, suami Dea. “Dea.. dia belum sadar sejak kemarin.” Haru. Rama mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti akan ucapa

