Eve tersenyum sumringah. Dia senang akhirnya mendapat kepercayaan dari Leon dan diizinkan pulang. Padahal dari sisi Leon, dia tidak percaya sama sekali pada Eve, makanya mempercayakan pada Vito. Dan dari sisi Vito, dia sadar tanggung jawab ini sangat besar. Salah melangkah, nyawa bisa melayang kapan saja. Dan Vito juga tahu, gadis ini istimewa bagi sang sepupu. “Kalau begitu, ayo berangkat sekarang! Ke rumahku!” Eve menatap Vito. Sorot matanya bersemangat. “Nanti saja. Aku berangkat ke kantor. Kalian juga berangkat.” Leon melirik jam di pergelengan tangan. “Satu jam lagi.” Vito tersenyum pada Eve. “Nah, sudah dijawab. Jadi aku bisa menikmati nasi goreng ini dulu.” Vito melanjutkan makannya. Eve terdiam. Dia memilih menurut saja kali ini. Daripada kesempatan pulang dibatalkan. Lagipu

