Klontang klontang srenggg. Suara berisik dari arah dapur membuat Vito sedikit terganggu. Bahkan ketika sudah memakai headphone, dia masih bisa mendengar perang antara sodet dengan wajan. Akhirnya Vito menyerah. Meletakkan handphone di atas meja makan, lalu berjalan menuju dapur. “Masak apa sih? Berisik banget.” Eve menoleh, tersenyum pada Lee Dong Wook versi muda-an. “Tadi di kulkas aku lihat daging utuh, masih segar. Aku cincang aja terus aku masak ini nih—nasi goreng daging cincang!” “Ohh. Boleh juga.” Vito tidak terpengaruh dengan semangat Eve yang membara. Dia hanya mengangguk pelan beberapa kali. Namun aroma nasi goreng ternyata cukup menggugah selera. Sehingga dia masih berdiri di sana, tidak jauh dari gadis itu. “Umm ada yang bisa kubantu?” Vito serius. Sebab dia merasa bosan

