Srett. Darah mengalir dari pergelangan tangan kiri Leon, bagian atas. Ujung pisau mengkilap itu berhasil menyentuhnya. Padahal targetnya saat ini seharusnya tidak terlalu sulit. Hanya saja fokus Leon agak terganggu. Dia sendiri sedikit kaget ketika merasa benda dingin tajam itu menyentuh kulitnya. “Siapa sebenarnya kamu? Dan mau apa?! Boy! Jhon! Kemana kalian?!” teriak pria empat puluhan yang berdiri gemetar di depan tubuh jangkung Leon. Tangan kanannya memegang pisau belati, juga gemetar. Yang dia takutkan belakangan ini akhirnya terjadi. Kemarin dia merasa curiga di parkiran mobil sebuah bar. Dan sekarang, rumah megahnya benar-benar diterobos orang tak dikenal. Yang wajahnya ditutup masker hitam. “Boy! Jhon! Atau siapapun cepat kesini!” teriaknya lagi. Nyaris frustasi. Dia sengaja

