Happy Reading "Sonya....!" “Sudah cukup, Roni! Aku tidak mau mempermalukan diriku lebih jauh di depan orang-orang!” ujar Sonya berbisik tajam. Wajahnya memerah bukan hanya karena marah, tapi juga karena malu — kerumunan wajah di siang hari kini menoleh, pemandangan itu menambah pedih hatinya. “Sonya, tolong dengar aku dulu—” Roni meraih, suaranya tercekat. “Diam!” Sonya memotong, lalu mencengkeram lengan Roni. Ia menariknya keras hingga kursi bergeser. Langkahnya cepat, berisik di lantai keramik; beberapa pelayan yang hendak mendekat mundur karena takut turut terseret dalam konflik. Levina duduk tenang, menatap mereka pergi sambil menutup napas dengan senyum tipis — permainan sudah sesuai rencananya. Begitu keluar, udara siang menyambut mereka, panas yang bukan hanya soal suhu, tapi

