Happy Reading Roni menutup pintu perlahan, memastikan Sonya benar-benar pergi. Suara langkah kaki wanita itu menjauh, disusul isak yang tertahan di luar. Begitu semuanya sunyi, ia menoleh ke arah Levina. “Sudah, Vin. Dia nggak akan ganggu kamu lagi,” katanya sambil berjalan mendekat, suara beratnya mengandung nada lega. “Aku udah buktiin, kan? Aku cuma mau kamu.” Levina tersenyum tipis. “Aku tahu,” jawabnya pelan, tapi ada sesuatu di matanya—bukan bahagia, lebih seperti kepuasan yang dingin. Roni duduk di sebelahnya, mendekat begitu cepat hingga Levina bisa mencium aroma parfumnya yang maskulin. Tangannya terulur, menyentuh jemari Levina yang sedari tadi terlipat rapi di pangkuan. “Sekarang cuma kita berdua,” bisik Roni. “Tanpa Sonya, tanpa kebohongan. Aku pengin kita mulai dari awal

