Malam itu Daniel duduk di ruang tengah apartemennya yang sepi. Di meja, surat ancaman tanpa nama baru saja dikirim. Hanya satu kalimat yang tercetak rapi, “Jika kau melawan kami lagi, keluargamu akan lebih dulu hancur sebelum perusahaanmu.” Dia memandangi foto lama, foto ayah, ibu, dan dirinya saat masih kecil. Lalu foto yang lebih baru, dia dan Helva saat makan siang diam-diam di sela pekerjaan, tertawa karena hal kecil. Daniel ingat itu. Kepalanya tertunduk. Dia merasa kalah. Lelah. Sendirian. Dia tidak tahu Helva ada di mana. Belakangan ini gadis itu jarang pulang, lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit, atau pergi ke rumah temannya. Apartemennya masih dia anggurkan sebab rasanya terlalu menjijikan jika kembali dan ingat adegan itu. Helva enggan dan dia berniat menjual apa

