“Ventilator tidak memberikan respon apapun untuk beberapa saat. Jantungnya sempatnya berhenti. Kami sudah berusaha, tapi syukurlah detak jantungnya kembali.” Penjelasan sang dokter perempuan yang menangani ibunya itu tidak begitu terdengar oleh Helva yang menempelkan wajahnya di kaca ruang ICU. Ibunya terbaring lemah di sana.
Dunia Helva entah untuk beberapa kalinya kembali hancur, tak lagi berbentuk.
“Helva, kau harus merelakan ibumu,” kata dokter tersebut yang mengubah nada suaranya tak lagi formal.
“Tidak!” Helva menentang keras, menatap dokter itu marah. “Sudah berapa kali aku bilang tidak? Kenapa kau masih saja berkata untuk merelakan Mama? Aku tidak mau, Ra, tidak!” tolaknya dengan gelengan kepala yang kuat.
Alora, dokter yang penanggung jawab ibunya sekaligus teman Helva hanya bisa menghela napas. Untuk kesekian kalinya Helva menolak saran itu. Ibunya tidak punya harapan. Setidaknya itu dari sisi medis.
“Mau sampai kapan kau mempertahankan ibumu, Hel? Ibumu lelah, begitu juga kau. Hidupmu kacau karena kau terus mempertahankan sesuatu yang tidak ada harapan,” ujar Alora bicara jujur karena dia pun lelah melihat Helva yang berantakan, yang selalu tak bisa mengurus dirinya.
“Aku bilang tidak, ya tidak!” tegas Helva. Dia menatap temannya itu tajam. “Tugasmu hanya menjaga ibuku untuk tetap bernapas dengan alat medis. Berapapun biayanya akan aku bayar walaupun aku harus kelaparan. Walau harus menjadi gelandangan. Asalkan ibuku tetap ada di dunia ini. Kau paham?”
Alora tidak menyahut, hanya menatap temannya itu nanar. Wajahnya merah, kedua matanya sembab, bahkan rambut hitamnya acak-acakan, begitu pula dengan penampilannya. Betapa hidup Helva hancur. Semuanya.
“Tapi Helva —”
“Tolonglah … ,” suara itu berubah lirih dengan air mata menggenang di pelupuk, siap untuk tumpah lagi. “Tolong sekali ini aja, Ra. Aku … masih butuh Mama. Aku … masih ingin mendengar suaranya. Jadi tolong!” Pintanya dengan segenap hati, menundukkan kepalanya dalam pada sang teman.
Jika takdir mempermainkan, apa yang bisa dilakukan? Pasrah. Tapi hebatnya, Helva masih berjuang dalam ketidakmungkinan sebuah harapan.
“Oke. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Tapi Helva, kau tau, akan ada waktunya batas itu berakhir,” kaya Alora.
Ya, Helva tahu. Lima tahun sejak ibunya berbaring di ranjang rumah sakit. Lima tahun sejak keruntuhan megahnya kekayaan keluarganya. Lima tahun pula ayahnya pergi tanpa pamit dalam kecelakaan hebat usai mendapat tekanan karena kejatuhan perusahaannya. Helva sendirian. Alora tahu perkataannya terlalu kejam, tapi dia pun tahu bebannya adalah ketidakrelaan kepergian ibunya itu.
Dia menunduk dalam, tangisnya pecah. Di lorong ICU yang sepi itu hanya terdengar suara tangis Helva yang menyedihkan. Alora menariknya dalam dekapan, menahan tangisnya. Ah, takdir, entah hadiah apa yang telah disiapkan untuk Helva.
***
Gema musik yang memekkan telinga, lampu remang dan orang-orang yang berjoged ria itu tidak dipedulikan Helva yang duduk di kursi bar seorang diri. Di seberangnya seorang bartender hanya menggelengkan kepala ketika melihat Helva menegak isi gelas lain. Entah untuk berapa gelas cairan putih itu masuk ke mulutnya, memenuhi lambungnya. Dia pasti kembung.
“Hei, Hel, bagaimana kau bisa melupakan masalahnya jika hanya minum air putih saja?” Suara bartender yang seorang perempuan itu berkata.
Helva mengabaikannya. Yah, yang dia minum itu bukan Vodka, whisky, anggur atau apapun minuman yang selalu tersedia di bar, di kelab malam. Siapa pula yang datang ke tempat itu hanya untuk numpang minum air putih? Hanya Helva.
Tanpa sepengetahuan Helva, diam-diam bartender itu menukar minuman Helva dengan sesuatu yang kadar alkoholnya cukup tinggi. Bartender itu teman Helva yang juga tahu masalah yang tengah dihadapi temannya itu.
“Sialan! Kau menukar minumannya?” Helva menatap bartender itu tajam kala merasakan minumannya tidak biasa. Wajahnya mengerut menahan sesuatu yang terasa pahit dan panas di kerongkongannya. Si perempuan hanya nyengir.
“Aku akan menjagamu, Hel.”
“Bukan perkara menjaga. Tapi — uh, sial!” Helva merasakan tubuhnya terasa ringan, melayang, kepalanya berputar dan pandangannya buram. Dadanya terasa panas. Itu efek dari minuman yang baru saja dia habisnya. Hanya satu gelas sloki saja kesadarannya sudah terampas. Itu sebabnya Helva hanya minum air putih, berlagak seperti yang lain.
Kakinya menjejak di lantai bar, tidak ada yang mengawasi tapi tiba-tiba saja seseorang menahan tubuh Helva yang limbung.
“Helva?” Suara itu menyapa membuat Helva mengangkat wajahnya lalu nyengir.
“Hei … ah, kau … .” Pandangan Helva buram, tapi dia seperti melihat seseorang. “Dan.” Senyumnya mengembang.
“Kau tahu siapa aku?”
Helva menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku hanya mengenalimu dari aroma,” katanya melantur. “Hei, Dan. Kau menemukan aku, ya?” Tawa Helva terdengar menyedihkan.
“Maaf, kau mengenalnya?” Bartender bertanya pada pria yang menahan Helva.
“Ya. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya padanya. Tapi, kenapa dia mabuk?” tanya pria itu.
“Ah, dia tidak kuat minum alkohol,” jawab bartender. “Jika kau mengenalnya, tolong jaga dia. Aku tidak bisa meninggalkan tempatku sekarang.”
“Oh, tidak apa-apa.” Pria itu beralih pada Helva yang cengengesan.
“Dan … ini sungguh kau, ya?” Helva masih meracau. Bahkan tangannya bergerak di wajah pria itu, menangkup kedua sisi wajahnya. Jarinya bergerak mengitari garis bibir tebal pria itu. “Hei. Kau mungkin tak tahu. Tapi aku … .” Gadis itu tidak melanjutkannya. Kepala Helva tiba-tiba terkulai.
“Aku akan membawanya ke kamar di lantai tiga,” kata pria itu. “Aku akan menemuimu lagi nanti.”
Bartender itu mengangguk. Si pria membopong tubuh Helva. Kedua tangannya mengalung di leher pria itu.
“Dan … Daniel,” panggilan Helva dalam ketidaksadarannya itu. “Hei … kau ke mana selama ini?” Helva bertanya, suaranya serak, seperti menahan tangisnya.
Daniel, pria itu tidak menjawab tidak pula mempedulikan sekitarnya yang ramai, riuh akan musik dan orang-orang yang bergoyang. Bar itu menyediakan kamar di lantai tiga. Lantai dua itu khusus tamu VVIP. Setibanya di salah satu kamar, Daniel membaringkan Helva di kasur. Tapi ketika dia hendak menjauh, gadis itu menahannya.
“Dan … ayo lakukan itu denganku,” katanya dengan kedua mata terbuka tapi sorotnya tampak kosong.
“Apa? Kau mau melakukan apa?”
“Lakukan itu … kau pasti tau.”
“Hei. Jangan gila. Kita tidak — mmmp.” Protes Daniel terbungkam oleh ciuman sepihak dari Helva.
Hanya sesaat tapi perasaannya berhasil membuat Daniel diam.
Helva menangkup wajah Daniel. Ujung ibu jari Helva bergerak di sepanjang garis bibir tebal Daniel.
“Kenapa kau tak mau melakukan itu denganku? Apa karena aku malang? Apa karena aku miskin? Apa karena aku kacau? Kau … tega sekali mereka melakukan itu padaku hanya karena aku tidak bisa bermain di atas ranjang,” ceracau Helva tanpa melepaskan tangannya dari wajah Daniel yang berusaha menahan tubuhnya agar tidak menimpa gadis itu di bawahnya.
“Apa maksudmu? Aku tidak — mmpp.” Sekali lagi Helva membungkam Daniel tapi kali ini ciumannya sedikit menuntut. Helva bahkan memaksa Daniel membuka mulutnya dengan cara menggigit bibir bawahnya.
Melihat bagaimana mata itu tertutup, Daniel mulai membalas ciuman Helva, mengikuti irama yang dibuat gadis itu.
Ciumannya terlepas. Helva terengah, begitu juga Daniel.
“Kau tau, Dan. Satu hal yang selalu aku ingat darimu,” kata Helva dengan kedua mata terbuka. “Aromamu. Aku bisa mengenalimu dari aroma parfum yang kau pakai,” lanjutnya lalu terkekeh. Tapi detik berikutnya, Helva seperti hendak menangis.
Daniel yang melihat perubahan itu heran.
“Hei, ayo lakukan saja. Aku tidak akan menyesal.”
“Kau yakin?” Daniel bertanya, memastikan.
“Iya, aku yakin. Tapi janji, kau akan melakukannya pelan-pelan, ya, Dan?”
“Aku tidak sekasar itu. Kau juga tau itu, Hel.”
“Iya, aku tahu. Jadi — mmmp.” Kali ini Helva yang dibungkam oleh Daniel.
“Ayo lakukan, Helva. Tapi tolong ingat aku besok, ya, Helva.”
Anggukkan kepala dari Helva itu adalah undangan bagi Daniel yang kemudian dia mulai mencium Helva lembut tanpa tahu ada sakit yang tertahan dari Helva.