3. Bos Baru

1372 Kata
“Pelan-pelan. Kau bilang akan melakukannya pelan-pelan. Sakit,” keluh Helva. “Ini juga sudah pelan, Helva. Ini terlalu kecil. Nggak pas.” “Ya, mau bagaimana lagi? Aku cuma punya itu. Lagi pula, nyaman walau sakit.” “Jangan ngaco. Sakit ya sakit, mana ada nyaman tapi sakit? Lepas aja, ya? Gantian, mau?” “Nggak. Maunya itu.” “Sialan. Ribet sekali kau.” “Hei, sakit!” “Aku melakukannya pelan juga, Helva. Tapi ini … uh! Kecil.” “Ah! Sakit sekali. Lepas aja, lepas. Aku mau ganti.” “Udah ganti. Cepat. Kau kehabisan waktu.” “Ya, salah siapa mengganti minumanku, sialan?” Perempuan itu nyengir. “Lupa kalau kau ada wawancara pagi ini. Masih sisa satu jam, Hel. Bakal sempat.” “Iya. Tapi kepala dan kakiku sakit. Sepatunya kekecilan.” “Kan udah aku bilang ganti saja, bandel. Udah sakit tetap maksa masuk. Dasar gila!” Perempuan itu berjongkok di depan Helva, membantunya memasangkan sepatu sedangkan Helva sendiri sibuk dengan riasannya. Helva ada wawancara kerja hari ini jadi dia harus datang tepat waktu. Tapi sialnya dia malah teler setelah minum alkohol semalam. “Sudah. Itu lebih nyaman.” Perempuan itu bangun dari jongkoknya dan menatap Helva. “Bagaimana kepalanya?” “Masih sedikit pengar tapi aku baik-baik saja.” “Ya, sudah. Ayo berangkat. Aku akan mengantarmu ke tempat kerja.” “Oke.” Helva pun bersiap. Tapi tiba-tiba ingatannya tentang semalam melintas membuat dahinya mengerut. “Aku tidak berbuat ulah kan semalam?” Dia bertanya. Perempuan yang merupakan bartender semalam itu menatapnya canggung lantas berdeham. “Tidak. Aku segera membawamu ke kamar dan kau pun tidur,” katanya berdusta. Helva menganggukkan kepalanya, lega juga. “Tapi, aku mendapati tanda merah di bahu dan bagian dadaku. Tidak mungkin seseorang melakukan itu padaku, kan?” Kedua mata perempuan itu mengerjap. “Aku tidak tahu. Hei, ayo cepat, kau bisa terlambat.” Pada akhirnya Helva mengabaikan hal itu dan memilih untuk pergi wawancara. *** Duduk di antara para peserta yang hendak wawancara di suatu perusahaan besar kota Leophi, Negara Morphile itu tidak hanya Helva saja. Tersisa tiga orang lagi sekarang. Yang sebelumnya sudah mulai. “Peserta terakhir, silakan masuk,” ujar salah seorang pria. Helva menarik napasnya panjang. Dia gugup tapi punya tekad dan tujuan yang jelas untuk melamar kerja di sana. Syukurlah dia punya latar pendidikan yang bagus walaupun kehidupannya tidak sebagus gelarnya. Ada tiga orang yang duduk di meja depan, di ruangan luas itu tiga kursi ditaruh di tengah ruangan. Pertanyaan demi pertanyaan dijawab Helva dengan lancar dan sigap. Setelah beberapa saat, mereka selesai melakukannya. Para peserta tidak langsung dipulangkan sebab hasil akan segera diumumkan saat itu juga. Helva menunggu walau perutnya keroncongan. Dia tidak sempat sarapan pagi tadi. “Baiklah. Terima kasih sudah menunggu,” ucap seorang pria paruh baya dengan senyum ramahnya. “Saya ketua HRD, Harrisma, senang bertemu kalian semua,” lanjutnya dan menjeda beberapa saat untuk menatap kertas di tangannya. “Sejak awal kami sudah menentukan satu peserta untuk ditunjuk langsung di hari yang sama. Atasan kami sudah memberikan perintah secepatnya. Satu orang akan dipilih hari ini, sisanya akan menunggu kabar resmi yang dikirim ke nomor telepon masing-masing.” Jantung Helva berdecak cepat, telapak tangannya berkeringat, pun keringat dingin di wajahnya. Helva menunduk dalam, tidak berani mengangkat wajahnya. “Baiklah tanpa membuang waktu. Kami akan mengumumkan satu peserta hari ini. Dia adalah … Helva Williana. Silakan ke depan yang namanya saya sebutkan.” Helva mengerjapkan mata ketika namanya disebut dengan lantang. Semua mata tertuju padanya. Rasa senang membuncah di dadanya. Helva maju sesuai instruksi. “Kalau begitu, terima kasih semuanya. Semangat menunggu. Kami permisi.” Pria yang mengaku sebagai ketua HRD itu menutup pertemuan dan semua orang bubar. Hanya Helva yang masih tetap di sana bersama para karyawan perusahaan itu. Helva tidak menyangka akan ditunjuk begitu mudah. “Helva, kamu ikuti Alby. Bosmu menunggu,” kata ketua HRD itu. “Secepat itu?” Helva bertanya polos yang membuat pria paruh baya itu tertawa dan mengangguk. Mau tak mau Helva mengikuti pria yang disebutkan. Entah akan pergi ke mana, dia sama sekali tidak diberitahu apa pekerjaannya sekarang. Penerimaan pun sat set. Mana ada perusahaan besar yang begitu kecuali bosnya tidak sabaran. “Masuk!” Suara berat dari dalam ruangan terdengar. Saking larutnya dalam lamunan Helva tidak sadar sudah tiba di depan pintu ruangan dengan papan penanda di depan pintu bertuliskan CEO. Pria yang sejak tadi Helva ikuti itu membuka pintu tersebut dan mempersilahkan Helva masuk lebih dulu. Ruangan luas menyambut Helva. Tapi perhatiannya tertuju pada satu sosok pria yang membelakanginya, yang suaranya sudah Helva kenali di luar ruangan. “Pak, Direktur, saya membawa sekretaris baru Anda dari wawancara hari ini,” lapor pria itu. Pria tersebut membalik kursi putarnya dan menatap siapa sekretaris barunya itu. Baik Helva atau pria tersebut sama-sama terbelalak mendapati satu sama lain. “Kau!” Helva spontan mengangkat tangannya, telunjuknya mengarah lurus pada sosok itu. “Dia sekretaris barunya?” Pria itu malah bertanya. Helva menatap si pria tak percaya. “Dia bosku?” Helva bertanya pada pria yang datang bersamanya tadi. Pria itu mengangguk. “Kalau begitu, terima kasih. Aku akan mengundurkan diri saja. Aku tidak mau berurusan dengan pria itu.” Dengan kurang ajarnya tangan Helva terangkat tegas, jari telunjuknya mengarah lurus pada sosok yang masih duduk di kursinya dengan santai bahkan menyeringai. Sontak saja pria bernama Alby itu melotot panik. “Tidak bisa Nona. Kami sudah —” “Kau semuak itu bertemu denganku, ya, Hel?” Sela pria itu yang merupakan pemilik ruangan, CEO perusahaan Sky Light, suatu perusahaan korporat terbesar di Morphile. “Ya! Aku benci sekali.” Helva mengakui tanpa ragu, membalas tatapan pria itu tajam. “Oh, oke. Tidak masalah. Tapi, aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja setelah lolos wawancara untuk menjadi sekretaris baruku, Helva,” katanya masih tetap santai. “Persetan dengan itu. Aku akan tetap pergi. Jadi cari saja penggantinya.” Helva lantas berbalik dan hendak meninggalkan ruangan itu membuat Alby kelabakan. “Kau akan berubah pikiran jika aku bilang kau butuh uang?” Suara berat itu menghentikan langkah Helva. “Ya. Aku tidak menyangka jika kau akan ikut wawancara hari ini. Aku tidak tahu apa-apa, keputusan itu murni dari pihak HRD. Tapi aku yakin, kau punya alasan melamar di sini, bukan?” Sial! Pria itu menebak tepat sekali. “Jika kau melewati pintu itu, sudah dipastikan kau tidak akan mendapatkan apapun. Jadi pikirkan. Bukankah kau butuh uang untuk membayar biaya medis ibumu?” Mendengar hal itu dari mulut si pria yang paling Helva benci sejagat raya, dia berbalik demi memastikan dia tak salah dengar. “Kau menyelidiki aku, Daniel?” tanyanya murka. Daniel Hannes Wilder, si CEO dingin tak tersentuh itu hanya mengangkat bahu acuh. “Sialan! Apa maumu, hah?” Daniel membalas tatapan Helva tak kalah tajam. Dia bangun dari duduknya dan berjalan mantap ke hadapan Helva. “Ayo bekerjasama denganku, Helva. Aku akan memberikan apapun untukmu, termasuk mencarikan dokter terbaik untuk merawat ibumu, bagaimana?” Tawaran yang sangat Helva butuhkan. Sial. Daniel seakan tahu titik lemahnya adalah sang ibu. Helva menatap pria di depannya itu dengan tatapan benci tapi di saat yang sama ada sorot rindu yang samar. “Kau tak akan menarik janjimu lagi?” Helva memutuskan menerima permainan. Dia menyadari alasan Daniel ingin dia tetap di sana. “Asal kau bisa bekerjasama denganku, bahkan di luar job resmi perusahaan. Bagaimana?” Helva diam, memikirkan tawaran itu. Dia punya tujuan dan tekad agar diterima di sana, demi ibunya, demi perawatan medis agar ibunya bertahan lebih lama walau dia tahu hanya akan menyiksanya. Tapi dia rela melakukan apapun agar sang ibu bertahan. “Asal kau buatkan perjanjiannya.” Pada akhirnya, Helva menerima tawaran itu. Tapi tak sepenuhnya percaya. Daniel tersenyum lebar. “Tenang saja. Aku pasti akan menepati janji.” “Aku tidak percaya padamu, dasar b******n!” Helva mengumpat tajam tapi Daniel hanya tertawa padahal semalam mereka bergumul bersama di bawah selimut tapi sikap Helva berubah drastis saat siang. Daniel menatap Helva, bertanya-tanya apakah gadis itu mengingat apa yang mereka lakukan? Sementara Helva menatap Daniel dengan penuh kebencian. “Apa bos barunya harus dia? Mantan rival sialan.” Helva mengumpat dalam hati. Tapi Helva sadar sepenuhnya, bahwa hari-harinya mulai sekarang pasti akan berat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN