“Jadi apa tugasku?” tanya Helva malas.
Daniel bersandar pada ujung meja kerjanya yang kokoh. Dia melipat kedua tangannya di depan d**a. Sebelum menjawab dia menatap Helva dari ujung kepala hingga kaki lalu menggeleng samar.
Dua orang berdiri di belakangnya gadis itu.
“Kau adalah sekretaris baruku. Jadi, kau pasti tahu tugas seorang sekretaris, bukan?” Daniel balas bertanya.
Sekretaris? Helva seketika ingin berubah pikiran lagi dan memilih mundur tapi bayangan ibunya melintas dalam benak.
“Emery, dia adalah sekretarisku, tugasnya akan dialihkan padamu setelah kau melakukan beberapa hal sebagai sekretaris baru. Jadi sekarang, tugasmu adalah mendengarkan arahan Emery,” terang Daniel.
Sial! Bagaimana pria itu menjelaskan dengan aura berwibawa membuat Helva tersihir hingga lupa kalau Daniel adalah mantan rivalnya dulu.
“Itu Alby,” dagu Daniel mengarah pada satu pria yang sejak tadi ada di sana. “Dia asistenku. Kau bisa memberi tahu apapun yang kau butuhkan padanya. Meskipun sekretaris dan asisten biasa bekerja bersama, kau akan lebih banyak berhubungan aku, Helva.”
Mata Helva melotot. Tidak terima dengan apa yang dikatakan Daniel.
“Tidak. Aku tidak mau,” tolaknya terang-terangan.
Sebelah alis Daniel terangkat. “Kenapa?”
“Aku membencimu. Kau pun tahu itu, bajingan.”
Hanya 2 orang yang diperkenalkan Daniel sebagai sekretaris dan asisten yang menatap Helva kaget. Daniel menanggapi dengan santai seolah itu bukan hal aneh untuknya.
“Ya, aku tahu. Tapi kenyataannya sekarang aku adalah bosmu, Helva. Jadi berhentilah menyebut aku b******n seperti itu. Kecuali di luar kantor dan jam kerja, kau boleh menyebutku sebagai apapun yang kau mau. Profesional itu dibutuhkan, Helva.” Daniel menegur.
Helva hanya memutar matanya malas. Dia tahu sistem profesional tanpa harus diberitahu tapi khusus hari ini saja dia diingat sebab baginya Daniel adalah b******n.
“Baiklah. Kalian berdua boleh keluar. Aku akan membahas sesuatu yang pribadi dengan Helva,” perintah Daniel pada kedua bawahannya itu.
Tanpa adanya protesan keduanya patuh tapi Emery, sekretaris perempuan itu sempat menatap Helva takjub.
Setelah hanya mereka berdua, raut wajah Daniel berubah serius dan Helva bisa merasakannya juga, dia mundur satu langkah.
“Kau memang luar biasa sekali, Helva. Bisa-bisanya kau menyebutku b******n di depan bawahanku?”
Helva berdecih. “Sengaja. Supaya mereka tahu betapa kau bajingan.”
“Hei!” Daniel menegur dingin. Tapi kemudian dia menghembuskan napasnya. “Terserahlah.” Dia berdiri tegak dan pergi ke kursinya sendiri dan duduk nyaman di sana.
Helva tanpa diizinkan lebih dulu sudah duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
“Jadi, kau memang menyelidiki aku, Dan?” Todong Helva.
Daniel tidak menjawab, tapi Helva tahu itu benar. Maka dia berdecih semakin keras.
“Aku butuh kerja profesionalmu, Helva. Jadi, ayo kerjasama denganku,” kata Daniel dengan nada serius.
Tapi itu membuat Helva waspada dan menatap Daniel lagi dengan memicingkan matanya. Pasalnya, Helva tahu perjanjian yang dibuat Daniel itu selalu aneh.
“Apa itu?” tanya Helva.
“Jadilah kekasihku di luar job resmi perusahaan. Kau hanya akan menjadi sekretarisku dari pagi hingga sore dan saat jam kerja selesai kau akan melakukan sesuatu untukku. Setelah jam kerja itu, kau adalah kekasihku.”
Helva tidak percaya dengan apa yang baru saja Daniel sampaikan, to the point sekali. Dia lantas tertawa sinis.
“Jangan bilang, bahkan jika sekretaris barumu itu bukanlah aku, kau akan tetap menjadikannya sebagai kekasih? Jangan-jangan, sekretarismu yang tadi itu adalah mantanmu?” katanya sarkas.
Daniel tak membalas, hanya menatap Helva dengan sorot dingin, raut datar yang berarti dia tidak sedang bisa diajak bercanda.
“Aku serius, Helva. Apa seburuk itu aku di matamu? Kejadian itu sudah lama sekali, Helva. Kau tidak tahu apa-apa tentang itu,” kata Daniel terselip nada tak suka dalam pembelaannya.
Maka Helva pun bungkam, ikut memasang wajah serius. Daniel tidak tahu apa-apa.
“Lantas, apa yang kau lakukan di ruang kelas dengan gadis itu? Kau melukainya bagaimana? Kau ambil keperawanannya atau —”
“Helva!” Daniel menegur sambil menggebrak meja. “Cukup!”
Jujur saja, Helva terlonjak kaget tapi dia tak mengatakan apa-apa. Dadanya naik turun, napasnya memburu karena emosinya ikut tersulut karena Daniel marah padahal Helva sendiri yang mulai.
“Kita tidak sedang membahas masa lalu. Jadi tolong profesional.”
“Kau pikir, aku bisa bersikap seperti itu saat di depanku adalah sosok yang aku sumpahin lebih parah dulu? Kau pikir, berhadapan dengan seseorang yang menghancurkan semuanya, aku akan baik-baik saja?” Helva membalas dan menatap serius Daniel. “Asal kau tahu saja, aku tidak sudi berhadapan denganmu lagi. Tapi aku harus bertahan. Aku harus menahan diri karena seperti yang kau katakan, aku butuh uang.”
Daniel bungkam, tidak menyangka dengan serangan yang dilemparkan Helva. Dia akui pernah berbuat salah pada Helva dulu ketika mereka sama-sama duduk di bangku sekolah, mengenakan seragam yang sama sebagai seorang siswa. Dulu, bertahun-tahun lalu mereka adalah rival. Teman seangkatan bahkan para guru dan siswa lain mengakui mereka sebagai rival abadi.
Mereka tidak bersaing secara kotor. Bersaing secara sehat walaupun sering kali sengit sebab perbedaan kelas keduanya jauh. Helva di kelas D, kelasnya pada pembuat onar. Sedangkan Daniel di kelas A, kelasnya para elit. Helva akui, Daniel dipandang sempurna oleh warga sekolah, Helva sebaliknya. Tapi dengan prestasi, keberanian, dan keyakinannya, Helva berhasil membawa kelas D ke puncak kejayaan antar kelas. Tapi, semuanya hancur tepat setelah mereka usai ujian dan sekolah mengadakan pesta.
“Helva … .” Daniel memanggil dengan nada rendah, tak menyangka akan seputus asa itu bicara dengan Helva.
Helva sendiri membuang muka. Muak dengan kenangan itu. Dia berdiri dari duduknya. “Buatkan saja kontraknya, aku akan melakoni apapun itu asal kau tepati janji. Itu saja.” Setelahnya dia berlalu dari sana meninggalkan Daniel sendiri.
Luka itu membekas. Kenangan itu membuatnya tak bisa lupa bahwa dulu mereka pernah dekat walau dikenal sebagai rival.
Daniel tidak tahu Helva menahan tangisnya. Memang benci tapi tak dipungkiri masa itu indah.
“Kamu sungguh dekat dengan Direktur?” Emery bertanya saat Helva bergabung dengannya di meja sekretaris.
“Iya, dulu,” jawab Helva singkat tidak berniat menyembunyikan perkenalan masa lalunya dengan Daniel.
“Oh, begitu.” Emery mengangguk. “Kalau begitu, mari kita mulai. Aku akan mengajarimu beberapa hari, sedikit informasi yang harus dan tidak saat bekerja dengan Direktur.”
“Baik. Tapi, kenapa Anda mengundurkan diri?” tanya Helva.
Emery menatapnya dan tertawa. “Santai saja, Helva. Panggil aku Emery,” katanya.
“Bagaimana mungkin? Itu nggak sopan,” katanya.
Sekali lagi Emery tertawa. “Ya sudah. Usiaku 33 tahun. Kalau kamu di bawahku, panggil saja aku kakak, bagaimana?”
Helva mengangguk. “Usiaku 30 tahun. Oke, Kak Emery. Kenapa mundur?” Dia mengulang pertanyaan.
“Hm. Bagaimana ya. Aku sudah menikah, dan sedang hamil. Aku putuskan untuk resign saja karena tidak mau kejadian anak pertama terulang, aku keguguran. Suami setuju dan Direktur menyetujuinya,” jawabnya.
“Begitu. Kalau begitu, semoga anakmu yang sekarang bisa bertahan sampai dia lahir.”
“Amin. Terima kasih, Helva. Dan aku harap kita bisa banyak bertemu.” Emery tersenyum ramah. Sekali lagi Helva hanya mengangguk dan mulai nyaman bersama Emery tanpa mengetahui ada sorot mata mengawasi dari jauh.