Saat ruangan masih hening Helva melanjutkan, suaranya tajam namun terkendali. “Aku punya salinan email, transaksi keuangan yang mengalir ke rekening pihak luar, hingga dokumen yang sengaja diubah untuk membuat perusahaan terlihat gagal memenuhi kontrak. Semua mengarah padamu. Aku mengumpulkan ini selama bertahun-tahun, diam-diam. Menunggu saat yang tepat,” tuturnya dengan senyum lebar yang bak belati beracun. “Bahkan yang hadir di ruangan ini pun, seluruhnya terlibat.” Tatapan Helva mengarah pada Edmund yang diam. Dia sama sekali tak menyangka. Rendo tertawa pendek, tapi suaranya terdengar kaku. “Kau pikir ancaman ini akan membuatku terburu-buru menyetujui bantuan?” Helva mencondongkan tubuhnya. “Bukan ancaman, Om Rendo. Ini fakta. Dan kalau Artha Capital menunda bantuan, aku pastikan

