Dari kejauhan Denis menatap nanar pada sosok wanita yang tengah terbaring lemah dengan berbagai alat yang kini jadi penunjang hidupnya. Ia tidak berani mendekat dan hanya menatapnya dari jarak cukup jauh. "Masuklah, Nak." Dito menepuk pelan pundak Denis dari arah belakang. "Aku disini saja, Ayah." Jawab Denis. "Nadira pasti senang kamu datang." Denis tersenyum getir. "Justru dia tidak menyukai kehadiranku, buktinya sejak kemarin dia masih saja menutup mata." Dito menghela lemah. Sebagai seorang Ayah tentu saja ia menginginkan yang terbaik untuk putrinya. Bukan hanya harta, namun tenaga pun sudah dikerahkannya untuk menyelamatkan Nadira. Tapi sampai saat ini Nadira tidak kunjung membuka matanya. Bukan hanya keadaan Nadira yang terlihat begitu memprihatinkan, keadaan Dini pun tidak