Duduk santai sambil menyandarkan punggungnya di kursi malas, pandangan lurus ke depan memandang sebuah foto dua orang yang ditancapkan di sebuah dinding dengan busur panah yang mengelilingi foto tersebut. Pandangan itu penuh dengan kebencian dan emosi, merasa tak sanggup lagi untuk bertahan dan bersikap baik. Ia merasa harus menyelesaikan misi ini hingga akarnya. Beberapa waktu kebelakang ini, berpikir bisa menyelesaikan misi dan menghancurkannya secara bersamaan bisa dengan tangan sendiri. Tapi, ia salah. Ternyata semua tak bisa dilakukan olehnya sendiri. Dan sekarang, sudah waktunya ia membutuhkan peran orang lain di dalamnya. Keputusannya sudah bulat, tanpa ragu lagi untuk melangkah. Ia memastikan misi kali ini sukses dan tak akan gagal. Ia sudah bersiap untuk berperang demi semua apa

