Alex menelepon Kalla dengan nada datar, nyaris tanpa basa-basi. “Kamu di mana?” Kalla yang sedang menuangkan air minum ke gelas Bena sedikit terkejut, lalu menjawab jujur, “Di restoran, Pak. Makan siang sama Bena dan Victoria.” Hening sejenak di seberang. “Kirim lokasinya,” ucap Alex singkat sebelum menutup sambungan. Tak sampai dua puluh menit kemudian, pintu restoran kembali terbuka. Suasana yang tadinya biasa saja seolah berubah saat sosok Alex melangkah masuk. Jas kerjanya masih rapi, rambutnya sedikit berantakan seperti baru saja melewati hari yang panjang. Tatapannya langsung menyapu ruangan, dan berhenti. Victoria. Perempuan itu sedang duduk berhadapan dengan Bena, sendok di tangannya terhenti di udara saat dia menyadari kehadiran Alex. Untuk beberapa saat, waktu seperti mela

