Pagi itu udara masih sejuk ketika Raihan hendak berangkat ke pesantren. Laura menyiapkan sarapan dengan senyum tipis, meski hatinya masih penuh kegelisahan soal Alya. “Mas, hati-hati ya di jalan,” katanya sambil menyodorkan bekal. Raihan mengusap kepala istrinya lembut. “Iya, Sayang. Jangan terlalu banyak pikiran. Ingat, kamu nggak sendirian.” Laura tersenyum samar, lalu melambaikan tangan sampai motor Raihan hilang di tikungan. Ia mencoba menenangkan diri dengan membereskan rumah, lalu bermain dengan Zahra, putri kecil Raihan. Namun, ketenangannya tidak bertahan lama. Sekitar pukul sepuluh, ponselnya bergetar bertubi-tubi. Grup w******p ibu-ibu pengajian penuh dengan pesan: “Astaghfirullah, ada apa ini dengan Ustaz Raihan?” “Benarkah ini foto lama beliau dengan seorang wanita?” “Se

