Bab 24

1298 Kata

Pagi itu udara masih sejuk ketika Raihan hendak berangkat ke pesantren. Laura menyiapkan sarapan dengan senyum tipis, meski hatinya masih penuh kegelisahan soal Alya. “Mas, hati-hati ya di jalan,” katanya sambil menyodorkan bekal. Raihan mengusap kepala istrinya lembut. “Iya, Sayang. Jangan terlalu banyak pikiran. Ingat, kamu nggak sendirian.” Laura tersenyum samar, lalu melambaikan tangan sampai motor Raihan hilang di tikungan. Ia mencoba menenangkan diri dengan membereskan rumah, lalu bermain dengan Zahra, putri kecil Raihan. Namun, ketenangannya tidak bertahan lama. Sekitar pukul sepuluh, ponselnya bergetar bertubi-tubi. Grup w******p ibu-ibu pengajian penuh dengan pesan: “Astaghfirullah, ada apa ini dengan Ustaz Raihan?” “Benarkah ini foto lama beliau dengan seorang wanita?” “Se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN