Laura duduk terpaku di kursi makan, ponselnya masih bergetar di atas meja. Pesan itu terasa seperti bisikan setan yang menusuk langsung ke dalam hatinya. Nama Alya saja sudah cukup membuat seluruh tubuhnya dingin. Tangannya gemetar saat menekan layar, menutup aplikasi. Tapi entah mengapa, jemarinya kembali ingin membukanya. Seperti ada rasa penasaran bercampur takut yang tak bisa ia kendalikan. “Kenapa harus sekarang? Kenapa ketika aku baru saja merasa kuat, dia muncul lagi?” batinnya gundah. Suara Raihan dari ruang tamu memecah lamunannya. “Sayang, airnya sudah matang? Zahra minta dibuatkan teh hangat.” Laura tersentak. “I..iya, Mas. Sebentar.” Ia menuangkan air panas ke dalam teko, menambahkan teh, lalu membawanya ke ruang tamu. Senyum Raihan selalu menenangkan, tapi malam itu Laura

