Malam itu rumah kecil mereka terasa begitu damai. Zahra sudah terlelap, tubuh mungilnya berbalut selimut tipis, napasnya teratur. Laura menatap wajah putrinya lama-lama sebelum bangkit pelan, lalu duduk di ruang tamu. Ia berniat membaca buku yang diberikan Raihan siang tadi. Namun sebelum membuka halaman pertama, ponselnya bergetar. Ada notifikasi dari salah satu ibu jamaah yang pernah ia kenal. Dengan santai, Laura membukanya. Sekejap wajahnya pucat. Matanya menatap layar ponsel lekat-lekat, jantungnya berdegup keras. Foto-foto dirinya dulu—dengan gaun mini, dengan minuman di tangan, dengan laki-laki asing di sisinya—berderet jelas di layar. Tak hanya foto, ada pula pesan menyakitkan yang menyertainya: "Inikah yang kalian banggakan? Istri ustaz? Malu sekali." Tangannya gemetar, dadan

