Bab 22

1414 Kata

Pagi itu, udara di halaman masjid masih sejuk. Usai salat Subuh, Raihan sengaja menunggu di pelataran, duduk dengan tenang, namun hatinya penuh bara. Ia tahu Zaki akan datang—pesan semalam terlalu jelas untuk diabaikan. Benar saja. Dari kejauhan, Zaki muncul dengan wajah percaya diri, setelan rapi, dan senyum sinis yang membuat darah Raihan mendidih. “Assalamualaikum, Ustaz,” sapa Zaki dengan nada mengejek. “Waalaikumsalam,” jawab Raihan pendek, tatapannya dingin. Keduanya duduk berhadapan di sebuah bangku kayu. Sekilas, orang-orang yang lewat mungkin mengira itu pertemuan biasa. Padahal, kata-kata yang keluar di antara mereka bagaikan pedang yang saling menghunus. “Aku nggak suka caramu, Zaki,” Raihan membuka suara, nada tegasnya membuat lawan bicara terdiam sesaat. “Mengganggu rumah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN