Sejak kabar Zaki mendatangi rumah itu, hati Laura tak pernah benar-benar tenang. Ia seperti dihantui bayangan, selalu menoleh ke jendela setiap mendengar suara motor lewat, selalu berdebar setiap ponselnya bergetar. Suatu malam, saat Raihan sedang keluar menghadiri rapat majelis taklim, Laura terduduk di ruang tamu sendirian. Jemarinya gemetar ketika membuka pesan baru dari Zaki. > Zaki: “Aku punya sesuatu yang menarik. Foto-fotomu dulu, waktu masih suka berpesta dengan teman-temanmu. Aku yakin suamimu yang alim itu tidak akan suka melihat siapa kamu sebenarnya. Jangan buat aku menyebarkannya. Temui aku besok. Kalau tidak…” Pesan itu berhenti di situ. Namun ancamannya jelas. Laura menjatuhkan ponselnya, tubuhnya bergetar hebat. Ingatan tentang masa lalunya yang liar menyeruak. Foto-

