Malam semakin larut. Di dalam kamar, Laura masih terpejam di balik selimut, padahal matanya sama sekali belum mau terpejam. Hatinya berkecamuk, rasa bersalah bercampur dengan perasaan aneh yang bahkan ia sendiri tak bisa jelaskan. Pintu kamar terbuka pelan. Raihan masuk dengan langkah tenang, membawa segelas air hangat. “Kamu belum tidur, kan?” tanyanya lembut. Laura kaget, buru-buru menyeka pipinya. “Sudah… eh, maksudku… sebentar lagi.” Raihan duduk di tepi ranjang, menatap istrinya dengan sorot mata yang dalam. Ada kelembutan, tapi juga ada ketegasan yang tak bisa ditutupi. Ia menyodorkan segelas air itu. “Minumlah dulu. Kamu pasti butuh.” Laura menerimanya dengan tangan bergetar. Keheningan menyelimuti kamar. Raihan menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara rendah namun jela

