TRAGEDI
Jakarta, Mei 1998
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Surya, 38 tahun, seorang jurnalis investigasi sekaligus aktivis reformasi, duduk di ruang tamu. Map berisi dokumen tebal baru saja ia tutup rapat. Di balik ketenangannya, hatinya penuh was-was. Ia tahu, kebenaran yang ia pegang adalah bara yang bisa membakar siapa pun yang menyentuhnya.
“Mas … apa benar ada teman-teman aktivis yang hilang?” suara Rini, istrinya, pelan dan bergetar.
“Kita doakan mereka segera ditemukan, Ma,” jawab Surya, menatap istrinya penuh resah.
“Jadi … berita itu benar?” Rini mendesak, wajahnya cemas.
“Sepertinya begitu, negara ini sedang tidak baik-baik saja, semoga perjuangan mereka tidak sia-sia.” Surya menghela napas panjang, lalu merangkul istrinya. “Ayo kita tidur, sudah larut.”
Tiba-tiba …
BRAKK!
Suara dobrakan pintu memecah malam.
Surya tersentak. “Ma! Cepat bawa Satria sembunyi!”
Rini segera berlari ke kamar, di sana, Satria—anak laki-laki mereka yang baru berusia tujuh tahun sudah terbangun, ia mengucek mata sambil bergumam, “Ma, ada suara apa?”
Rini berjongkok, menahan tangis, lalu memeluk erat tubuh mungil itu.
“Sayang … kita main sembunyi-sembunyian ya, tapi kali ini Satria harus diam, jangan sampai ketahuan Papa, biar Papa jadi kasih hadiah.”
Satria mengangguk patuh, meski bingung.
Satria dibawa masuk ke lemari kayu, Rini menutup pintunya rapat, berusaha tersenyum meski air matanya jatuh.
“Diam ya nak … jangan keluar … apa pun yang terjadi.”
Rini menutup lemari, lalu berlari kembali ke ruang tamu.
Pemandangan di sana membuat dadanya pecah, Surya sudah dipukuli, tangan diikat, mulut disumpal, beberapa pria bersenjata menariknya kasar.
“Lepaskan suamiku!” Rini menjerit, berusaha menahan, mencakar, memukul siapa pun yang bisa ia jangkau.
DOR!
Sebuah tembakan meledak dari prajurit yang lepas kendali karena amukan Rini, Rini terhuyung, darah membasahi bajunya, tubuhnya roboh ke lantai.
Surya meraung dari balik sumbatan di mulutnya, matanya merah penuh amarah. Namun para penculik itu tak peduli, mereka menyeretnya keluar, ke truk militer yang sudah menunggu.
Keheningan.
Di dalam lemari, Satria menahan napas, baginya suara tembakan tadi terdengar seperti petasan. Saat semuanya sunyi, ia keluar pelan-pelan, berjalan kecil ke ruang tamu.
“Ma …?” Suaranya lirih.
Pandangan matanya langsung membeku, ibunya terkapar di lantai, darah merembes deras.
“MAMA!!!”
Tangisan histeris pecah, anak kecil itu berlari, memeluk tubuh ibunya yang sudah dingin.
“Bangun, Ma! Mama kenapa, Ma! MAMA!!”
Rini masih sempat menggerakkan tangannya, dalam genggamannya ada sebuah liontin perak berbentuk lingkaran.
Dengan sisa tenaga terakhir, ia meraih tangan mungil putranya, lalu meletakkan liontin itu di genggamannya.
“Sa–tria ….” Suaranya lirih nyaris tak terdengar.
Detik berikutnya, tangan itu lunglai, nafas terakhirnya pergi bersama tangisan Satria yang menggema.
Satria hanya bisa menangis, mengguncang tubuh ibunya, memanggil-manggil tanpa henti.
Malam itu, ia belum mengerti arti kehilangan, belum tahu apa itu dendam, yang ia tahu hanya satu, dunia kecilnya runtuh seketika.
****
Papua, Agustus 2025
Prajurit Bayangan
Tembakan senapan otomatis memecah sunyi hutan Papua. Suara dentuman bergema di antara tebing terjal, bercampur teriakan panik yang bersahut-sahutan dalam bahasa daerah.
“Kontak kiri! Tutup pergerakan mereka!” suara tegas Mayor Satria Wiratama menggetarkan udara.
Panas dan lembab hutan tropis bercampur dengan aroma mesiu, Satria berlari rendah, tubuhnya gesit menembus semak belukar. Keringat bercucuran di wajahnya, tapi sorot matanya tetap fokus.
Di depannya, anggota KKB melepaskan tembakan sporadis dari balik batu besar, mereka tak tahu, formasi pasukan Kopassus sudah mengepung dari tiga arah.
Satria memberi kode tangan, dalam hitungan detik, pasukannya bergerak senyap.
Dor!
Dor!
Dor!
Kontak tembak hanya berlangsung singkat, beberapa anggota KKB roboh, sisanya melarikan diri ke dalam hutan.
“Clear!” suara prajurit melapor.
Satria menurunkan senjatanya perlahan, nafasnya terengah, tapi tatapannya tetap tajam, ia sudah terbiasa dengan panasnya pertempuran.
****
Satu bulan kemudian
Panti Asuhan Kasih Ibu
Alya duduk di kursi panjang dekat ruang tengah.
“Sita kenapa gak mau main sama yang lain?” tanyanya sambil tersenyum tipis.
Tangan Alya membelai kepala seorang bocah perempuan berkuncir kuda yang baru saja dititipkan di panti asuhan itu.
“Semua teman-teman di sini senang ada teman baru, Sita harus coba bermain dengan teman-teman yang lain ya ….” Ucap Alya dengan nada lembut.
Sita menggeleng, dia hanya menunduk merasa asing di tempat baru, Sedangkan anak-anak lain riuh berlarian, ada pula yang duduk melantai.
Tiba-tiba—
PRAANG!
Suara keras memecah keheningan, sebuah peluru menembus kaca jendela ruang tengah, membuat serpihan beterbangan.
Anak-anak menjerit panik, beberapa langsung bersembunyi di balik kursi, sebagian berlari ke arah pengasuh.
“ASTAGHFIRULLAH!” jerit salah satu pengasuh yang biasa di panggil Bunda Eni, sambil meraih anak-anak terdekat.
Alya terlonjak dari kursinya, jantungnya berdetak kencang, matanya refleks menoleh ke jendela yang kacanya retak parah.
Suara deru motor keras membisingkan telinga, terdengar meraung.
“Tenang! Jangan keluar! Semua tetap di sini!” suara pengasuh lain mencoba menenangkan, meski suaranya sendiri bergetar.
Alya merunduk, menarik dua anak kecil ke dalam pelukannya, tubuh mungil mereka gemetar ketakutan.
Alya menatap kaca yang hancur, ia menggenggam tangan anak-anak erat-erat.
Siapa yang ingin mencelakai mereka? atau … aku?
Tapi sebelum ia sempat berpikir lebih jauh—
DUA LETUSAN LAGI terdengar, kali ini lebih dekat, membuat dinding bergetar, anak-anak kembali menjerit.
Alya menahan napas, pandangannya tajam menembus kegelapan luar jendela.
“Ya Tuhan …” bisiknya pelan, “Ada apa ini?”
****
Ruang kerja Jenderal Mardani
Perwira muda yang masuk tampak terburu, ia memberi hormat pendek, nafasnya masih tercekat. “Laporan, Jenderal.”
Mardani menatap tajam. “Sampaikan.”
“Telah terjadi penembakan di panti asuhan Kasih Ibu, Jenderal”.
“APA!” Mardani langsung terkejut
“Saat kejadian Nona Alya ada di lokasi—”
“Bagaimana keadaan Alya?” Mardani panik.
“Tidak ada luka jenderal, tidak ada korban, hanya saja—”. Sang perwira ragu untuk melanjutkan.
“Lanjutkan!”
“Analisis awal yang kami terima dari polisi—”
Perwira itu membuka map, menyodorkan foto selongsong dan sketsa tembakan.
“Selongsong yang ditemukan bukan jenis amunisi pasar gelap, ini selongsong dengan ciri-ciri amunisi yang biasa digunakan oleh satuan-satuan resmi—kode produksi dan pola pembakaran menunjukkan itu berasal dari peralatan militer terstandar.”
Kata-kata itu bagai bara dalam ruangan, Mardani berjalan beberapa langkah, lalu kembali menatap perwira.
“Jadi kau bilang … mereka pakai peluru militer?” suaranya dingin.
“Betul, Jenderal.”
Mardani menutup mata sesaat, lalu membuka lagi, wajahnya berubah bukan hanya marah, tapi waspada, ia memahami implikasinya, penggunaan amunisi militer bukan sekadar soal kemampuan, melainkan mengandung sebuah pesan.
“Artinya …” gumam Mardani perlahan, “ini bukan hanya upaya untuk menakut-nakuti, ini sebuah pesan —dari seseorang yang ingin memperlihatkan kekuasaannya.”
Mardani melangkah ke jendela, ia menoleh kemudian, mata berkilat tajam. “Kerahkan pasukan khusus, dan—” suaranya menjadi lebih dingin, terkontrol, “—cek rantai distribusi amunisi dan logistik satuan kita, apakah itu dari satuan kita atau satuan lain, pastikan!”
Perwira itu memberi hormat cepat. “Siap, Jenderal!”
Mardani menatap foto Alya di mejanya sekali lagi, ada yang mulai menargetkanmu Alya, gumamnya.
****
Beberapa hari kemudian, di Markas Besar TNI AD, Jakarta.
Seorang jenderal membaca profil Satria di sebuah kertas, Satria berdiri tegap di depan seorang jenderal bintang dua tersebut.
“Mayor Satria Wiratama,” ucap sang jenderal sambil membuka map laporan operasi, setelah meletakkan secarik kertas berisi profil Satria.
“Operasi di Papua berhasil, kau menunjukkan disiplin dan kepemimpinan yang luar biasa.”
“Siap, Jenderal, semua berkat kerja tim.” Satria menjawab mantap.
Jenderal itu menatapnya lama. “Ada penugasan baru untukmu, kali ini bukan di medan tempur … tapi kau tetap harus menganggapnya sama seriusnya.”
Satria mengernyit. “Mohon izin, penugasan seperti apa Jendral?”
Sang jenderal menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kau akan menjadi ajudan pribadi putri Pak KSAD.”
“Siap Jenderal.” Satria menjawab mantap.
Jenderal itu tersenyum tipis. “Perintah ini datang langsung dari atas, kau tidak bisa menolak, anggap ini latihan menghadapi wanita, umurmu sudah pantas untuk segera mencari jodoh.” Sang jendral mengatakan dengan nada santai, sedangkan Satria masih berdiri hormat penuh keseriusan.
“Siap Jenderal.” Satria mengangkat tangannya untuk memberi hormat.
Begitu keluar dari ruangan sang jenderal, ponsel Satria bergetar. Sebuah pesan masuk tanpa suara, hanya deretan kata singkat yang terasa menekan.
“Mereka sudah menyelesaikan bagiannya, kini giliranmu. Jangan gagal … aku menaruh seluruh rencana ini di pundakmu, Satria.”
Keningnya berkerut Satria menatap sekitar, mendadak merasa diawasi. Detik berikutnya, layar ponselnya kembali berkedip—sebuah foto terkirim. Foto dirinya, diambil hanya beberapa menit lalu, tepat di depan pintu ruangan jenderal.
****