Syasa duduk di samping Nysa. Nysa bergeser, agar Syasa bisa di antara dirinya, dan Andin. "Sya ...." Andin menggenggam jemari Syasa. Syasa menyandarkan kepala di bahu Andin. Nysa mengusap lembut punggung putrinya. Syasa terisak pelan. "Kita harus ikhlas, Sya. Papah pergi dengan tenang, semua keinginannya sudah terkabulkan. Terima kasih, Sya," ucap Andin. "Berhenti menangis, Sya. Papah tidak akan suka melihatmu begini." "Syasa tidak ingin menangis, tapi air matanya ke luar sendiri, Bunda." Nysa hanya bisa menghela napas, mendengar jawaban putrinya. Syasa menatap tubuh Tuan Hanan di depannya. Air matanya benar-benar tak bisa berhenti menetes. Namun ia berusaha tabah. Tidak meratap. 'Selamat jalan, Papah. Terima kasih atas semua yang sudah Papah berikan pada Syasa. Syasa sayang Papah