Konsfirasi kecil sang nyonya kecil.

1185 Kata

Tedy segera melangkah maju, tubuhnya tegak, tatapannya lurus. Ia mengabaikan sorot mata tajam Karlota yang seperti pisau yang mengintai, dan sinisme dingin Soraya yang menetes seperti racun di ujung senyum. Tapi Tedy tidak gentar. Dalam dadanya, ada sesuatu yang lebih kuat dari ketakutan—sebuah rasa hormat dan tanggung jawab yang tak bisa ia abaikan. Dengan penuh kelembutan, ia menunduk dan meraih tubuh Gendis yang mulai limbung. Gadis itu nyaris tak mampu berdiri sendiri, namun tetap mencoba menegakkan kepalanya dengan sisa harga diri yang belum tercerabut. Tedy mengangkatnya, membopongnya seolah ia mengangkat bunga yang layu karena badai, namun masih memiliki aroma keindahan yang belum padam. Dari jendela atas, Selin melihat semuanya. Bibirnya mengukir senyum tipis, meski matanya memba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN