Emma tahu statusnya sebagai seorang istri bukan hanya menemani dalam suka tapi juga dalam duka. Dulu, saat ia memasuki rumah ini, yang sebenarnya adalah milik Nazla, Emma bersuka cita. Hingga ia tak sadar, masa bahagia yang ia pupuk di atas tangis dan air mata sang sahabat harus ia tuai. Seiring dengan vonis dokter mengenai kemandulannya. Sebisa mungkin menyembunyikan keputusan dokter tentang rahimnya dari sang suami, tapi sebenarnya percuma. Alih-alih berubah menjadi bersikap baik, Fendi semakin antipati. Fendi yang sekarang seolah Fendi yang dulu ia lihat menjadi suami Nazla, bersikap kasar. "Jangan keras-keras tekannya." Fendi protes ketika jari Emma mengobati pipinya. Sudah diobati, Emma juga mendapat bentakan berulang kali. "Sebenarnya apa yang membuat kamu kayak gini sih Mas