“Terimakasih untuk nasi goreng dan telur gorengnya, enak seperti biasa.” Sebuah pesan yang dikirim Miko menjelang malam itu, sukses menerbitkan senyum di bibir Bina. Ternyata jantungnya masih berdebar, ternyata ketakutan yang selama ini mengganggunya adalah bentuk dari perlindungan dirinya karena sebenarnya masih mencintai laki-laki itu. Lima tahun berlalu dan mengetahui, Miko tidak pernah dekat dengan wanita manapun termasuk laras entah kenapa membuat Bina melambungkan harapannya lagi sekalipun masih belum berani melangkah lebih jauh dari sekarang. “Sama-sama mas, jangan nggak makan. Keichi butuh papa yang kuat.” Balas Bina kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas. Sekarang sudah pukul tujuh malam, Bina juga sudah berada di rumah yang terasa sepi karena Keichi tidak ada. Tapi Bina ti