Makan malam berlangsung seperti biasanya.
Meja makan dipenuhi hidangan hangat buatan Alifa. Aroma masakan rumah yang sederhana tapi menenangkan memenuhi ruangan. Kiandra terlihat paling bersemangat, sesekali mengambil lauk dengan lahap, sementara Adrian makan dengan tenang seperti biasa.
Namun suasana itu… tidak sepenuhnya sama.
Setidaknya bagi dua orang di meja itu.
Kiara dan Ansel.
Kiara duduk di salah satu sisi meja, berhadapan dengan Ansel. Ia berusaha terlihat biasa saja—mengambil nasi, menyuap perlahan, sesekali ikut tersenyum saat percakapan mengalir.
Tapi di dalam dirinya tidak setenang itu.
Setiap kali tanpa sengaja matanya bertemu dengan Ansel, ada debar yang langsung muncul. Cepat, tidak beraturan, dan membuatnya harus menunduk lagi, pura-pura sibuk dengan makanannya.
Sementara itu, Ansel justru menikmati sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Kehangatan,suasana keluarga, tawa kecil dan obrolan ringan yang tidak kaku.
Hal-hal sederhana yang selama ini terasa jauh sejak ia merantau. Tatapannya sempat berkeliling meja, Adrian yang tenang, Alifa yang hangat,Kiandra yang ceria dan Kiara yang terlihat berusaha keras untuk tidak menatapnya.
Senyum kecil muncul di bibir Ansel.
Percakapan pun mengalir.
“Ansel, keluarganya di mana?” tanya Alifa ramah.
Ansel mengangkat wajahnya. “Di Singapura, Tante.”
“Oh jauh juga ya,” sahut Alifa.
“Iya.”
“Kamu sendiri di sini?”
“Iya, Tante.”
Alifa mengangguk pelan.
“Pasti kangen ya sama keluarga.”
Ansel tersenyum tipis. “Lumayan.”
Jawaban yang sederhana, tapi cukup jujur.
“Kalau pacar?” tanya Alifa lagi, nada suaranya santai tapi jelas penuh rasa ingin tahu.
Kiara yang sedang minum langsung berhenti sejenak. Entah kenapa ia ikut menunggu jawaban itu.
Ansel terlihat tenang.
“Saya sudah punya pacar, Tante.”
Deg.
Ada sesuatu yang jatuh di dalam d**a Kiara, pelan namun terasa.
“Namanya Calista,” lanjut Ansel.
Alifa tersenyum. “Oh, yang waktu itu ya?”
Ansel mengangguk.“Iya.”
Kiara menunduk, menatap piringnya.
Entah kenapa, makanan yang tadi terasa biasa saja kini sulit ia telan, padahal ia sudah tahu,sudah mengingatkan dirinya sendiri Tapi tetap saja…
“Wah,” celetuk Kiandra tiba-tiba.
Semua menoleh padanya. “Kirain Dokter Ansel belum punya siapa-siapa.”
Ia melanjutkan makan dengan santai, seolah tidak menyadari efek dari kata-katanya.
“Tadinya mau aku jodohin sama Kak Kiara.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Dan Kiara langsung tersedak.
“Uhuk—!”
Ia buru-buru mengambil air minum, wajahnya langsung memerah.
“Pelan-pelan,” kata Alifa sambil menepuk punggungnya pelan.
Kiara mengangguk cepat, masih batuk kecil.
Sementara itu Ansel diam, namun sorot matanya jelas berubah, sedikit terkejut dan ada sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Kiandra masih melanjutkan dengan polosnya.
“Soalnya aku nggak suka Kak Rafa.”
Suasana mendadak berubah lebih hening.
Kiara langsung menoleh.
“Kian…”
Tapi adiknya itu tetap santai.
“Dia kayak nggak tulus sama Kak Kiara.”
Kalimat itu menggantung di udara, terlalu jujur.
Adrian menatap Kiandra sekilas, memberi isyarat halus agar tidak bicara sembarangan.
Namun kata-kata itu sudah terlanjur keluar.
Kiara menunduk. Tangannya menggenggam sendok lebih erat.
Sementara Ansel tidak mengatakan apa-apa.
Namun matanya perlahan beralih ke arah Kiara.
Memperhatikan reaksinya dan di saat itu ia semakin yakin bahwa apa yang ia lihat malam di parkiran, bukan sekadar kesalahpahaman.
Alifa berusaha mencairkan suasana.
“Sudah, makan saja dulu,” ucapnya lembut.
Kiandra mengangguk.
“Iya, Bun.”
Namun suasana tidak sepenuhnya kembali seperti semula. Ada sesuatu yang tertinggal, sesuatu yang belum selesai.
Kiara masih menunduk,berusaha mengontrol dirinya, berusaha tetap terlihat normal.
Namun di dalam hatinya ada perasaan yang perlahan tumbuh dan semakin sulit untuk diabaikan.
Sementara di seberangnya Ansel diam-diam menatapnya dengan perasaan yang… mulai sama.
Ansel akhirnya berdiri dari kursinya setelah makan malam selesai. Suasana hangat di meja makan masih terasa, bahkan ketika piring-piring mulai dibereskan oleh Kiandra dan Alifa.
“Terima kasih banyak, Tante, terimakasih semuanya,” ucap Ansel dengan sopan, sedikit membungkukkan badan.
Alifa tersenyum hangat.
“Iya, sama-sama. Kapan-kapan datang lagi ya.”
“Pasti, Tante.”
Kiandra langsung menyahut dari belakang.
“Besok juga boleh!”
Semua tertawa kecil.
Adrian menepuk bahu Ansel pelan.
“Hati-hati di jalan.”
“Iya, Dok.”
Sebelum benar-benar keluar, Alifa sempat menghampirinya, menyerahkan satu toples berisi cookies.
“Ini buat kamu. Buatan Tante sendiri.”
Ansel sedikit terkejut.
“Wah… terima kasih banyak, Tante.”
“Dicoba ya, kalau enak nanti bilang.”
Ansel tersenyum tulus.
“Pasti enak.”
Ada sesuatu dalam dirinya yang terasa hangat.
Sederhana namun berarti. Setelah berpamitan dengan semuanya, Ansel melangkah keluar rumah. Udara malam menyambutnya dengan sejuk yang pelan. Namun ia belum benar-benar pergi karena Kiara mengikutinya,mengantar sampai ke pintu gerbang.
Langkah Kiara pelan seperti ada sesuatu yang masih tertinggal. Mereka berdiri berhadapan di dekat gerbang. Cahaya lampu taman menerangi wajah mereka dengan lembut.
Beberapa detik hening, Ansel yang lebih dulu membuka suara.
“Makasih untuk jamuan makan malamnya,” ucapnya sambil tersenyum tipis, tatapannya tertuju pada Kiara.
“Jadi pengen sering-sering datang.” Nada suaranya ringan,seperti bercanda.
Namun ada makna lain yang terselip di dalamnya.
Kiara menatapnya beberapa detik,lalu tersenyum kecil.
“Aku nggak keberatan…” ucapnya pelan.
Ansel sedikit mengangkat alis.
“…asal bersama Calista.”
Senyum Ansel tidak hilang, namun matany sedikit berbeda.
Lebih dalam.
Lebih sulit dibaca.
Ia mengangguk kecil.
“Iya.” jawaban yang singkat.
Namun terasa seperti menyimpan banyak hal yang tidak diucapkan.
Angin malam berhembus pelan di antara mereka.
Kiara memeluk lengannya sendiri, sedikit kedinginan.
Ansel memperhatikan.
“Kamu masih kelihatan lemas.”
Kiara menggeleng kecil. “Cuma sedikit aja.”
“Bukan cuma itu.”
Kiara menatapnya lagi, Ansel melanjutkan dengan nada yang lebih serius. “Kondisi kamu harus dijaga.”
“Selama ini juga aku jaga.”
“Sekarang lebih harus.”
Ada penekanan di sana, Kiara sedikit mengernyit.
“Karena?”
Ansel terdiam sejenak,seolah menahan sesuatu.
Namun akhirnya ia hanya berkata,
“Karena kamu lagi nggak stabil.”
Kalimat itu ambigu, bisa tentang kesehatan, bisa juga tentang perasaan.
Kiara mengalihkan pandangan.
“Semua orang juga pernah nggak stabil.”
Ansel tersenyum kecil.
“Tapi nggak semua orang punya riwayat jantung seperti kamu.”
Kiara tidak membalas. Namun kali ini tidak canggung. Lebih seperti dua orang yang sama-sama berpikir.
“Aku akan kirim vitamin untukmu besok,” ucap Ansel tiba-tiba.
Kiara menoleh.
“Nggak usah repot.”
“Aku yang akan mengantarkan langsung.”
Deg.
Kalimat itu kembali membuat sesuatu bergetar di dalam diri Kiara. Ia menatap Ansel, Lebih lama kali ini.
“Kenapa harus kamu?” tanyanya pelan.
Ansel tidak langsung menjawab.
Tatapannya tetap tenang.
“Karena aku dokter kamu.”
Jawaban yang logis.
Masuk akal.
Namun, tidak sepenuhnya menjawab.
Kiara tersenyum tipis.
“Banyak dokter lain.”
“Yang ngerti kondisi kamu sekarang… cuma aku.”
Lagi-lagi jawaban itu terasa lebih dalam dari yang seharusnya.
Kiara menunduk, menggigit bibir bawahnya pelan.
Berusaha mengontrol sesuatu yang mulai sulit dikendalikan.
“Ansel…” Ia memanggil pelan.
Ansel menatapnya.
“Jangan terlalu baik sama aku.” Kalimat itu keluar begitu saja, jujur dan sedikit rapuh.
Ansel tidak langsung menjawab, Ia justru melangkah sedikit lebih dekat.
Jarak mereka kini lebih dekat dari sebelumnya, namun masih dalam batas yang aman.
“Kenapa?” tanyanya pelan.
Kiara mengangkat wajahnya, menatap mata lelaki itu. “Aku bisa salah paham.” kalimat itu menggantung di antara mereka.
Jujur dan berbahaya.
Ansel tidak mengalihkan pandangan,justru semakin dalam.
“Kalau kamu salah paham…” ucapnya perlahan.
“itu berarti aku juga salah.”
Kiara benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.
Jantungnya berdetak cepat, lebih cepat dari biasanya.
Namun kali ini bukan karena sakit melainkan karena sesuatu yang lain. Perasaan yang tidak seharusnya ada.
“Ansel… kamu punya Calista.”.
Akhirnya Kiara mengingatkan, seperti menarik dirinya sendiri kembali ke batas.
Ansel terdiam beberapa detik, lalu mengangguk kecil. “Iya.”
Namun anehnya tidak ada penjelasan lanjutan.
Tidak ada penegasan.
Hanya satu kata itu, yang justru membuat semuanya terasa semakin rumit.
Kiara menghela napas pelan.
“Jadi… jangan buat aku berharap sesuatu yang nggak boleh.”
.
“Baik.” jawaban yang sederhana.
Tapi terasa berat, Kiara tersenyum kecil.
“Terima kasih sudah datang.”
Ansel membalas senyum itu.
“Terima kasih sudah nerima aku.”
Beberapa detik mereka saling diam lalu Ansel mundur selangkah.
“Besok aku datang.”
Kiara tidak langsung menjawab namun akhirnya,
“Iya.” jawabnya pelan, nyaris seperti bisikan.
Ansel berbalik berjalan menuju mobilnya.
Sementara Kiara tetap berdiri di tempatnya.
Menatap punggung lelaki itu yang perlahan menjauh.
Sampai akhirnya mobil itu benar-benar pergi.
Dan Kiara masih belum bergerak, ia menyentuh dadanya pelan. Jantungnya masih berdetak cepat.
Namun kali ini bukan karena sakit, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih rumit.
Perasaan yang mulai tumbuh di waktu yang salah.
Pada orang yang tidak seharusnya.
Kiara menutup mata sejenak.
“Ini nggak boleh…” bisiknya pelan. Namun untuk pertama kalinya ia tidak yakin bisa menghentikannya.