bc

Kiara, Detak yang Dipinjam

book_age18+
11
IKUTI
1K
BACA
family
HE
fated
like
intro-logo
Uraian

Kiara tak pernah menyangka bahwa patah hatinya akan berujung pada pertemuan dengan seseorang yang mengingatkannya pada sosok lama yang sudah pergi dari dunia ini, dia adalah Ansel. Sosok itu hadir saat Kiara parah hati juga saat jantungnya kembali bermasalah. Ansel tidak hanya seorang dokter yang bisa mengobati sakit jantung Kiara tapi juga membuat getar halus dalam dirinya muncul. siapakah sosok Ansel? benarkah dia hanya seorang dokter penyelamat untuk Kiara? atau justru ada kaitannya dengan sosok di masa lalunya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab. Pertemuan pertama
Kiara tidak pernah menyangka liburan ke Bali yang ia impikan sejak lama akan menjadi akhir dari segalanya. Sore itu, matahari Bali sedang turun perlahan. Langit berwarna jingga keemasan. Ia bahkan masih tersenyum ketika melangkah masuk ke kafe tempat Rafa bilang ia sedang menunggunya. Namun langkahnya terhenti. Di sudut ruangan, dekat jendela dekat pantai, Rafa duduk berhadapan dengan seorang wanita. Bukan sekadar duduk. Bukan sekadar berbincang. Rafa menggenggam wajah wanita itu. Dan mencium bibirnya. Waktu seperti berhenti. Suara ombak yang tadi terdengar merdu berubah menjadi dengung yang menyakitkan di telinga Kiara. Tubuhnya kaku. Tangannya gemetar. Ia bahkan tidak sadar tasnya terjatuh ke lantai. Rafa menoleh. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kaget yang berlebihan di wajah pria itu. Tidak ada panik. Hanya ada rasa bersalah… yang terlambat. “Kiara—” Namanya terdengar asing ketika keluar dari bibir Rafa. Langkah Kiara terasa berat ketika mendekat. Dadanya sudah mulai terasa sesak, tapi sakit itu masih kalah dibandingkan apa yang ia lihat. “Sejak kapan?” suaranya lirih, hampir tak terdengar. Wanita itu buru-buru melepaskan diri. Rafa berdiri. “Kita bisa jelasin—” “Sejak kapan, Raf?” ulang Kiara, kali ini lebih tegas meski air mata sudah menggantung. “Liburan ini…?” suara Kiara pecah. “Buat apa?” Rafa terdiam sesaat, lalu berkata pelan, “Aku mau ngomong baik-baik. Kamu salah paham.” Jantung Kiara berdenyut tidak wajar. Nyeri halus mulai muncul di d**a kirinya. Kiara tidak membuat keributan. Tidak menampar. Tidak berteriak. Ia hanya memungut tasnya yang terjatuh. “Oke,, sekarang aku tahu, ternyata hubungan kita nggak sebaik yang kupikir.” ucapnya pelan. Lalu ia berbalik. Setiap langkah terasa seperti meninggalkan bagian dari dirinya sendiri di kafe itu. Matahari Bali benar-benar tenggelam saat ia keluar. Begitu pintu cafe tertutup di belakangnya, Kiara akhirnya menangis. Malam itu juga, tanpa berpikir dua kali, Kiara memesan tiket penerbangan paling cepat menuju Jakarta. Ia tidak kembali ke hotel untuk menunggu pagi. Tidak ingin ada ruang sedikit pun untuk Rafa menemuinya dan menjelaskan sesuatu yang baginya sudah selesai. Ponselnya terus bergetar, Rafa calling… Nama itu berkedip di layar, seperti mengejek keteguhan hatinya yang mulai rapuh. Air mata kembali jatuh. Bukan karena ia ingin mendengar penjelasan. Tapi karena hatinya, bodohnya, masih bergetar setiap kali melihat nama itu. Satu pesan masuk. “Kiara, tolong angkat. Aku bisa jelasin semuanya. Ini nggak seperti yang kamu lihat.” Kiara tertawa kecil di tengah tangisnya. “Kalau bukan seperti yang aku lihat, lalu apa?” gumamnya pelan. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik. Jempolnya sempat melayang di atas tombol jawab. Hatinya berbisik untuk memberi kesempatan, namun pikirannya yang lelah menang. Dengan satu gerakan tegas, ia menekan tombol power, layar itu gelap. Seperti hubungan mereka. Tidak ada lagi getaran. Tidak ada lagi panggilan. Tidak ada lagi kesempatan untuk Rafa mengurai alasan-alasan yang hanya akan menambah luka. Kiara menyandarkan kepala di kursi taksi menuju bandara. Lampu-lampu Bali melintas di luar jendela seperti bayangan masa lalu yang cepat memudar. Beberapa jam yang lalu, ia masih membayangkan makan malam romantis. Masih membayangkan Rafa mungkin akan melamarnya di tepi pantai. Ternyata yang ia dapatkan adalah perpisahan tanpa peringatan. Tangannya perlahan menyentuh d**a kirinya. Nyeri itu mulai datang lagi. Bukan hanya karena kata-kata Rafa. Tapi karena ia sadar… pria yang selama ini ia jadikan alasan untuk bertahan hidup, ternyata tidak pernah benar-benar ingin tinggal. “Aku nggak akan tanya apa-apa lagi,” bisiknya lirih. Ia memilih pulang, memilih pergi sebelum harga dirinya benar-benar hancur. Dan malam itu, di ruang tunggu bandara yang dingin, Kiara duduk sendirian. Tanpa kekasih hanya dengan jantung yang mulai berdenyut tidak teratur… dan hati yang sudah lebih dulu patah. Kiara duduk di kursi dekat jendela pesawat. Lampu kabin diredupkan. Langit di luar gelap, hanya ada kerlip bintang yang terlihat samar. Namun yang lebih gelap dari malam itu adalah perasaannya. Tangannya menggenggam d**a sebelah kiri. Awalnya hanya sesak ringan. Ia mencoba mengatur napas. “Tenang, Kiara… ini cuma karena kamu banyak nangis.” Namun denyut itu semakin tidak teratur. Bukan sekadar sakit karena melihat Rafa berciuman dengan wanita lain di kafe Bali tadi. Ini berbeda. Ini familiar, terlalu familiar. Sakit yang pernah ia rasakan sejak kecil. Riwayat penyakit jantung bawaan yang selama ini berhasil ia jaga, seolah memberontak. Tangannya mulai dingin. Pandangannya berkunang-kunang. Pramugari yang lewat menyadari wajah Kiara semakin pucat. “Ma’am, are you okay?” Kiara mencoba tersenyum, tapi nafasnya terputus-putus. “Saya… sesak…” Tangannya jatuh lemas, detik berikutnya suasana kabin berubah panik. “Apakah ada dokter di dalam pesawat?!” Suara itu menggema. Seorang pria yang duduk beberapa baris di belakang segera berdiri. Posturnya tinggi, wajahnya tegas namun tenang. Ia bergerak cepat mendekati Kiara. “Aku dokter,” ucapnya singkat. Tangannya memeriksa nadi Kiara. Alisnya berkerut. Detaknya tidak stabil. “Riwayat jantung?” tanyanya cepat. Kiara berusaha mengangguk pelan. “Iya…” Ia hampir tak sadarkan diri. Pria itu meminta ruang, memposisikan Kiara lebih nyaman, memantau detaknya dengan alat darurat yang tersedia di pesawat. Wajahnya fokus, namun ada sesuatu yang terus membuatnya menatap gadis itu lebih lama dari seharusnya. Bukan hanya karena ia pasien. Ada luka di wajah Kiara yang tidak terlihat secara fisik—tapi jelas terasa. “Tenang. Saya di sini,” ucapnya pelan. Nada suaranya rendah, menenangkan. Pesawat memutuskan melakukan pendaratan darurat setibanya di Jakarta. Selama penerbangan yang tersisa, pria itu tak pernah melepas perhatian dari Kiara. Saat akhirnya roda pesawat menyentuh landasan, Kiara sudah hampir kehilangan kesadaran sepenuhnya. Kabinnya masih dipenuhi ketegangan saat pria itu menggenggam pergelangan tangan Kiara, menghitung detak nadinya dengan fokus. “Saya dokter,” ucapnya tenang. “Nama saya Ansel.” Ansel. Nama itu meluncur begitu saja, namun di telinga Kiara terdengar berbeda. Ansel bukan Axel. Tapi cukup mirip untuk membuat sesuatu di dalam dirinya bergetar. Matanya yang setengah terpejam berusaha menatap wajah pria itu. Garis rahangnya tegas. Tatapannya tajam tapi lembut. Suaranya rendah, stabil, menenangkan, persis seperti seseorang yang pernah begitu berarti dalam hidupnya. Axel. Nama yang sudah lama ia kubur rapat-rapat. Nama yang dulu pernah membuat jantungnya berdetak lebih cepat, sebelum akhirnya pergi tanpa sempat ia pertahankan. Entah karena takdir atau hanya kebetulan yang kejam, bunyi dua nama itu terasa seperti gema masa lalu. “An…sel…” lirih Kiara hampir tanpa suara. Ia tidak tahu kenapa hatinya bergetar seperti ini. Padahal ini pertama kalinya mereka bertemu. Seharusnya ia hanya merasa aman karena ada dokter yang menolongnya. Tapi ada sesuatu yang familiar, cara Ansel menyentuh tangannya sangat hati-hati, seolah ia adalah sesuatu yang rapuh. Cara ia berkata, “Tenang, nafas pelan-pelan. Saya di sini.” Dulu, Axel juga pernah mengatakannya saat Kiara kambuh di bangku SMA. “Fokus ke saya,” ucap Ansel lembut ketika melihat mata Kiara mulai berkaca-kaca bukan hanya karena sakit. Kiara tidak tahu apakah getaran di dadanya ini karena gangguan jantungnya, atau karena takdir sedang mempermainkannya lagi. Axel telah lama menjadi luka yang belum benar-benar sembuh dan sekarang, saat ia baru saja dihancurkan oleh Rafa, semesta seperti mengirim seseorang dengan nama yang hampir sama. Ansel. Nama yang berbeda, namun entah mengapa terasa terlalu akrab. Di antara rasa sakit di dadanya, Kiara menyadari satu hal, untuk pertama kalinya malam itu, bukan hanya sesak yang dirasakan, tapi ada debar halus. Debar yang mengingatkannya bahwa meski hatinya patah, ia masih bisa merasakan sesuatu.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.2K
bc

TERNODA

read
200.7K
bc

Kali kedua

read
220.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
82.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook