Bab 2. Debar yang sama

1458 Kata
Pesawat akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno–Hatta. Begitu roda pesawat menyentuh landasan, tim medis sudah bersiap di pintu kabin. Kiara hampir tidak sepenuhnya sadar saat tubuhnya dipindahkan ke tandu. “Pelan, dia masih sadar,” ujar Ansel tegas kepada petugas medis. Tabung oksigen dipasang di wajah Kiara, nafasnya masih pendek-pendek, jantungnya berdetak tidak stabil. Lampu ambulans yang berkedip merah biru menyilaukan matanya ketika ia dibawa keluar dari pesawat. Malam Jakarta terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Ansel ikut naik ke dalam ambulans tanpa ragu. Seorang perawat sempat menatapnya. “Dokter keluarga pasien?” Ansel menggeleng singkat. “Bukan. Tapi kondisi jantungnya tidak stabil. Saya ikut memantau.” Ambulans melaju kencang membelah jalanan menuju rumah sakit terdekat. Di dalam kendaraan yang berguncang itu, Ansel terus memperhatikan monitor kecil yang menunjukkan denyut jantung Kiara. Masih belum stabil. Sesekali matanya beralih ke wajah pucat gadis itu. “Kiara, dengar saya,” katanya pelan namun tegas. “Tetap sadar. Tarik napas pelan.” Kiara membuka matanya sedikit. Pandangannya kabur, tapi sosok pria itu masih terlihat di depannya. Suara sirine memekakkan telinga, beberapa menit kemudian ambulans berhenti di depan instalasi gawat darurat. Kiara langsung dibawa masuk dengan cepat. “Pasien wanita, riwayat penyakit jantung bawaan. Aritmia, sesak napas saat penerbangan,” lapor Ansel singkat kepada tim IGD. Para dokter segera mengambil alih. Obat disuntikkan, alat monitor dipasang, oksigen diperbesar. Setelah beberapa saat yang menegangkan, detak jantung Kiara mulai perlahan stabil. Tubuhnya masih lemah, tetapi nyeri di dadanya tidak sekuat sebelumnya. Beberapa waktu kemudian, ketika kondisinya sudah cukup stabil, seorang perawat memberikan ponselnya yang tadi ikut diamankan bersama barang-barangnya. Kiara menatap layar itu cukup lama. Ponselnya masih dalam keadaan mati sejak ia mematikannya di Bali. Ia menyalakannya perlahan, begitu menyala, puluhan notifikasi langsung masuk. Panggilan tak terjawab dari Rafa memenuhi layar. Kiara hanya menatapnya beberapa detik, lalu mengabaikannya. Tangannya gemetar saat mencari satu nama di daftar kontak. Ayah. Ia menekan tombol panggil, telepon itu diangkat hanya dalam dua dering. “Kiara?” Suara Adrian langsung terdengar cemas di seberang sana. Air mata Kiara tiba-tiba jatuh lagi, tapi kali ini bukan karena Rafa. “Ayah…” suaranya serak. “Kiara di rumah sakit.” Adrian langsung berdiri dari kursinya di rumah. “Rumah sakit mana? Kamu kenapa? Jantung kamu kambuh lagi?” “Aku… sudah ditangani. Ayah jangan panik,” Kiara mencoba menenangkan, meski suaranya sendiri masih bergetar. “Aku baru sampai dari Bali.” Tidak butuh waktu lama bagi Adrian untuk mengambil kunci mobilnya. “Tunggu di sana. Ayah kesana sekarang juga.” Telepon ditutup. Di ruang rawat yang masih sunyi itu, Kiara menyandarkan kepalanya lemah ke bantal. Beberapa menit kemudian pintu kamar sedikit terbuka. Sosok tinggi yang tadi berada di ambulans masuk perlahan. Ansel. Ia berdiri beberapa langkah dari ranjang Kiara, memastikan kondisinya baik-baik saja. “Kondisi kamu sudah lebih stabil,” ucapnya tenang. “Tapi kamu tetap harus observasi malam ini.” Kiara menatapnya cukup lama. Pria itu lagi, yang menyelamatkannya di pesawat dan ikut sampai ke rumah sakit. “Terima kasih, dokter Ansel,” bisiknya pelan. Ansel mengangguk kecil, namun entah kenapa, saat mendengar namanya disebut oleh Kiara, ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya sendiri. Seolah pertemuan mereka malam ini bukan sekadar kebetulan. Langkah Adrian hampir berlari menyusuri lorong rumah sakit. Nafasnya sedikit terengah, namun ia tidak peduli. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya hanya Kiara, putri pertamanya. Anak yang sejak lahir selalu membuat jantungnya sendiri berdebar karena takut kehilangan. Kiara lahir dengan kelainan jantung. Sejak kecil Adrian sudah terlalu sering duduk di kursi ruang tunggu rumah sakit, menunggu dengan perasaan yang tidak pernah benar-benar siap. Operasi pertama saat Kiara berusia enam tahun. Ia masih ingat jelas bagaimana tubuh kecil putrinya dibawa ke ruang operasi dengan wajah pucat, sementara Kiara justru tersenyum dan berkata, “Ayah jangan takut.” Operasi kedua terjadi saat Kiara berusia delapan belas tahun. Lebih besar, lebih berani, tapi tetap sama rapuhnya di mata Adrian. Sejak itu kondisi Kiara memang membaik, walau kadang naik turun. Namun setiap kali Adrian bertanya, jawabannya selalu sama. “Aku baik-baik saja, Ayah.” Padahal Adrian tahu, Kiara hanya tidak ingin membuatnya khawatir. Pintu kamar rawat terbuka dengan cepat. “Kiara!” suara Adrian penuh kepanikan. Kiara yang sedang bersandar di ranjang langsung menoleh. Matanya melembut melihat sosok ayahnya. “Ayah…” Adrian menghampiri tanpa berkata apa-apa lagi. Ia langsung memeluk Kiara erat, seolah ingin memastikan putrinya benar-benar ada di sana. “Ya ampun…” bisiknya pelan. “Ayah hampir gila di jalan tadi.” Kiara memeluk balik ayahnya dengan lembut. “Maaf bikin Ayah khawatir.” Adrian menarik tubuhnya sedikit menjauh, menatap wajah Kiara dengan cemas. Tangannya menyentuh pipi putrinya yang masih pucat. “Kamu kambuh lagi? Dadanya sakit?” “Sedikit tadi di pesawat. Tapi sekarang sudah lebih baik,” jawab Kiara pelan. Adrian menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Namun matanya kemudian menangkap sosok pria yang berdiri tidak jauh dari sana. Pria tinggi dengan jas dokter, tatapan mereka bertemu. Kiara menyadari itu dan segera berkata, “Ayah… ini dokter Ansel.” Adrian langsung berdiri tegak dan menghampiri pria itu. “Dokter Ansel?” ulangnya. Ansel mengangguk sopan. “Saya yang kebetulan berada di pesawat yang sama dengan Kiara. Kondisinya sempat tidak stabil di penerbangan, jadi saya membantu sampai ambulans datang.” Adrian menatapnya beberapa detik, lalu tanpa ragu ia mengulurkan tangan. “Terima kasih banyak, Dokter. Saya Adrian… ayah Kiara.” Ansel menjabat tangan itu dengan hormat. “Senang bertemu dengan Anda, Pak Adrian.” Nada suaranya tenang, namun Adrian bisa melihat kesungguhan di mata pria itu. “Kalau bukan karena dokter… mungkin keadaan Kiara bisa lebih buruk,” kata Adrian jujur. Ansel menggeleng pelan, “Beruntung saja saya ada di sana.” Kiara memperhatikan percakapan keduanya dari ranjang. Ada sesuatu yang terasa aneh di hatinya saat melihat mereka berdiri berhadapan seperti itu. Entah kenapa, suasana itu terasa seperti awal dari sesuatu yang belum ia mengerti. Adrian kembali duduk di samping ranjang Kiara. “Dokter bilang kamu harus observasi dulu malam ini,” ucapnya lembut. Kiara mengangguk, namun di sudut ruangan, Ansel masih berdiri beberapa saat sebelum akhirnya berpamitan. “Saya permisi dulu. Tim dokter di sini sudah menangani dengan baik.” Sebelum pergi, ia sempat menoleh ke arah Kiara. Hanya sebentar. Namun cukup untuk membuat jantung Kiara berdebar sedikit lebih cepat. Bukan karena penyakitnya. Melainkan karena tatapan yang terasa, terlalu hangat untuk seseorang yang baru ia kenal malam ini. Kiara terdiam setelah Ansel keluar dari kamar rawatnya. Suasana kembali sunyi, hanya terdengar bunyi pelan dari alat monitor jantung di samping ranjangnya. Bip… bip… bip… Ia menatap langit-langit kamar rumah sakit, namun pikirannya justru berputar ke arah yang sama. Ansel. Kiara mengerutkan keningnya sendiri. Kenapa? Kenapa jantungnya bisa bereaksi seperti itu? Selama hidupnya, Kiara sangat terbiasa menjaga jarak dengan laki-laki. Bukan karena ia tidak ingin dicintai, tetapi karena penyakit jantungnya selalu membuatnya berhati-hati. Ia tidak ingin terlalu bergantung pada seseorang lalu membuat orang itu terbebani oleh kondisinya. Bahkan saat bersama Rafa pun, perasaan berdebar itu tidak pernah benar-benar terasa seperti ini. Namun dengan Ansel? Hanya dengan beberapa jam pertemuan, jantungnya justru bereaksi lebih cepat dari biasanya. Dan yang paling aneh, perasaan itu terasa tidak asing. Seolah ia pernah merasakannya sebelumnya. Kiara memejamkan mata perlahan, mencoba mengingat, debar yang sama,hangat yang sama. Rasa aman yang sama saat seseorang berkata, “Tenang, aku di sini.” Tiba-tiba sebuah nama muncul di kepalanya. Axel. Napas Kiara tertahan, ia membuka matanya kembali, menatap kosong ke depan. “Iya…” bisiknya lirih. Debar itu, perasaan itu, sama persis seperti yang dulu ia rasakan. Axel adalah seseorang yang pernah mengisi bagian paling lembut di hatinya. Teman masa remaja yang selalu ada di saat-saat sulitnya. Orang yang pertama kali membuat Kiara percaya bahwa meskipun ia memiliki jantung yang lemah, ia tetap pantas dicintai. Axel yang selalu duduk di samping tempat tidurnya setiap kali Kiara harus dirawat. Axel yang diam-diam belajar tentang penyakit jantung hanya agar ia bisa mengerti kondisi Kiara. Axel yang selalu berkata dengan senyum nakalnya, "Kalau jantung kamu lemah, ya sudah. Aku yang jadi jantung cadangannya." Kiara menelan ludahnya pelan, namun semua itu sudah menjadi masa lalu. Axel sudah tiada. Kejadian beberapa tahun lalu merenggut nyawanya begitu saja, meninggalkan ruang kosong yang sampai sekarang tidak pernah benar-benar bisa diisi siapa pun. Bahkan Rafa pun tidak pernah benar-benar menyentuh bagian hati Kiara yang dulu dimiliki Axel. Dan sekarang, seorang pria bernama Ansel tiba-tiba muncul dalam hidupnya. Dengan suara yang menenangkan, tatapan yang hangat dan cara memperlakukannya yang terasa begitu familiar. Kiara menekan pelan dadanya, jantungnya kembali berdetak sedikit lebih cepat. “Axel…” gumamnya lirih. Ia tidak tahu apakah ini hanya kebetulan yang kejam atau semesta sedang mempermainkannya lagi, namun satu hal yang Kiara sadari malam itu, untuk pertama kalinya sejak Axel pergi, jantungnya kembali berdetak dengan cara yang sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN