Bab 3. pemain ulung

1214 Kata
Dua hari berlalu sejak Kiara dirawat di rumah sakit. Kondisinya menunjukkan perkembangan yang jauh lebih baik. Denyut jantungnya sudah kembali stabil, napasnya tidak lagi sesak, dan wajah pucatnya mulai digantikan warna yang lebih segar. Para dokter mengatakan ia hanya perlu beristirahat dan menghindari stres berlebihan. Namun ada satu hal yang tidak mereka tahu. Selama dua hari itu, Kiara justru merasa ada sesuatu yang tidak stabil, bukan di jantungnya, tapi di pikirannya. Setiap kali pintu kamar terbuka, matanya akan langsung menoleh. Setiap kali langkah kaki dokter terdengar di lorong, ia tanpa sadar menunggu. Dan setiap kali sosok yang masuk bukan orang yang diharapkan, ada perasaan kecil yang aneh… seperti kecewa. Pagi itu Adrian masuk ke kamar rawat dengan jas dokternya. Ia baru saja selesai memeriksa kondisi Kiara bersama dokter jaga. “Tekanan darah kamu bagus hari ini,” kata Adrian sambil melihat hasil monitor. “Kalau terus stabil, mungkin besok kamu sudah boleh pulang.” Kiara mengangguk pelan, namun sebelum sempat menjawab, matanya sempat melirik ke arah pintu, seolah berharap seseorang lain akan masuk. Adrian memperhatikan itu. “Kamu nunggu seseorang?” tanyanya santai. Kiara sedikit terkejut. “Enggak kok, Yah.” Ia buru-buru mengalihkan pandangannya. Padahal di dalam hatinya sendiri, Kiara tahu ia sedang menunggu, Ansel. Nama itu terus muncul di kepalanya sejak malam di pesawat. Selama dua hari ini, ia belum melihatnya lagi. Tidak sekali pun. Kiara bahkan tidak tahu apakah pria itu memang bekerja di rumah sakit ini, atau hanya kebetulan lewat malam itu dan sudah kembali ke kehidupannya sendiri. Namun entah kenapa, setiap kali dokter datang memeriksa, hatinya selalu berharap, tapi yang datang selalu orang lain. Kadang dokter jaga, kadang perawat, kadang Adrian, ayahnya sendiri yang memeriksanya dengan teliti seperti biasa. Kiara menghela nafas pelan ketika pintu kembali tertutup setelah Adrian selesai memeriksa. Ia menatap jendela kamar rumah sakit yang memperlihatkan langit Jakarta yang cerah. “Aneh banget…” gumamnya pelan. Ia menekan dadanya sedikit. Jantungnya baik-baik saja. Tapi perasaan ini justru membuatnya bingung. Ia bahkan tidak benar-benar mengenal Ansel. Mereka hanya bertemu beberapa jam. Namun kenapa… ia terus mencarinya seperti ini? Kiara memejamkan matanya sebentar. Satu nama kembali muncul di benaknya. Axel. Debar yang dulu pernah ia rasakan untuk orang itu… sekarang muncul lagi dengan cara yang hampir sama. Dan itu justru yang membuatnya semakin takut. “Jangan sampai…” bisiknya lirih. Ia tidak berani melanjutkan kalimatnya sendiri. Karena Kiara tahu, jika perasaan itu benar-benar mulai tumbuh lagi, ia tidak yakin jantungnya atau hatinya cukup kuat untuk menghadapinya. Adrian duduk di kursi di samping ranjang Kiara sambil membaca hasil pemeriksaan terakhir. Wajahnya sudah jauh lebih tenang dibanding dua hari lalu ketika ia datang dengan panik. Kiara sendiri sedang bersandar, menatap keluar jendela. Langit Jakarta siang itu cerah, tapi pikirannya masih penuh dengan hal-hal yang tidak ingin ia pikirkan. Adrian tiba-tiba berkata pelan, seolah memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Kiara…” Kiara menoleh. “Rafa sudah menghubungi Ayah.” Tubuh Kiara langsung sedikit menegang, meski ia berusaha menyembunyikannya. “Dia bilang baru bisa datang hari ini,” lanjut Adrian. “Katanya dia sangat menyesal tidak tahu kamu masuk rumah sakit.” Kiara menarik napas pelan. Menyesal. Kata itu terasa pahit di telinganya, ia sudah tahu Rafa pasti akan menghubungi ayahnya. Ponselnya sendiri dipenuhi puluhan panggilan yang belum ia balas. Tapi Kiara benar-benar tidak punya tenaga untuk menghadapi semuanya. Bahkan mendengar namanya saja sudah cukup membuat dadanya terasa sesak lagi. “Dia bilang ingin menjenguk kamu,” tambah Adrian. Kiara menunduk sedikit, menatap jemarinya sendiri di atas selimut. Beberapa detik ia hanya diam. Di dalam kepalanya, pemandangan di kafe Bali itu kembali muncul begitu jela. Rafa dan anita itu. Tangan Rafa yang memegang wajah wanita tersebut dan ciuman yang menghancurkan semua yang ia percaya selama ini. Kiara menelan ludahnya sendiri saat bayangan itu kembali muncul. “Ayah bilang dia boleh datang,” ucap Adrian hati-hati. “Tapi kalau kamu tidak mau—” “Tidak apa-apa, Yah,” potong Kiara pelan. Adrian memperhatikan putrinya dengan seksama. “Dia tetap pacarku, kan…” lanjut Kiara lirih. Kalimat itu terdengar datar. Terlalu datar. Padahal hanya Kiara yang tahu betapa beratnya mengucapkannya. Ia tidak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di Bali, tidak kepada ayahnya, Adrian. Ayahnya sudah terlalu sering khawatir tentang jantungnya. Ia tidak ingin menambah luka baru dengan cerita pengkhianatan yang bisa membuat Adrian marah, sedih, atau bahkan menyalahkan dirinya sendiri. Lagipula, apa gunanya? Apa yang ia lihat sudah cukup jelas. Kiara menghela napas lemah, lalu mengangguk samar. “Kalau dia mau datang… biarkan saja.” Adrian mengangguk, walau ada sesuatu di matanya yang seolah merasa ada yang tidak beres. Namun ia tidak memaksa, setelah beberapa saat, Adrian keluar sebentar untuk menemui dokter jaga. Begitu pintu kamar kembali tertutup, Kiara memejamkan matanya, dadanya terasa berat lagi. Bukan karena sakit jantung. Tapi karena ia tahu, beberapa jam lagi ia harus menatap wajah orang yang sudah menghancurkan hatinya, seolah tidak terjadi apa-apa dan entah kenapa, di tengah kekacauan itu, satu pikiran justru muncul di benaknya. Bukan Rafa. Melainkan seseorang yang bahkan belum ia temui lagi sejak malam itu. Ansel. Siang itu kamar rawat Kiara tidak lagi sepi. Adrian duduk di kursi dekat jendela sambil membaca beberapa berkas medis. Di sisi lain, Alifa, duduk di tepi ranjang, membelai lembut rambut putrinya yang masih terlihat lemah. Kinadra, adik Kiara, berdiri di dekat meja kecil sambil memainkan ponselnya, sesekali melirik kakaknya dengan wajah khawatir. Suasana keluarga itu hangat, sampai akhirnya pintu kamar diketuk. Tok… tok… Semua mata langsung menoleh, dan pintu terbuka perlahan. Sosok yang berdiri di sana membuat d**a Kiara langsung terasa sesak lagi. Rafa. Lelaki itu masuk dengan langkah pelan, wajahnya dipasang sedemikian rupa seolah dipenuhi penyesalan. Matanya langsung tertuju pada Kiara di atas ranjang. “Kiara…” Suaranya terdengar berat, seperti seseorang yang benar-benar khawatir. Alifa berdiri dari kursinya. “Rafa?” katanya sedikit terkejut. “Kamu baru tahu Kiara sakit?” Rafa mengangguk cepat. “Iya, Tante. Saya baru dikabari Om Adrian. Saya langsung datang.” Ia berjalan mendekat ke ranjang Kiara. Wajahnya terlihat cemas, bahkan matanya sedikit memerah seolah kurang tidur. “Kenapa kamu nggak bilang kalau kondisi kamu memburuk?” katanya pada Kiara dengan suara lembut. Kiara menatapnya dan tatapan mereka bertemu. Dalam satu detik itu, kilasan pemandangan di kafe Bali kembali muncul begitu jelas di kepalanya. Ciuman, wanita itu, namun Rafa sekarang berdiri di depannya seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tangannya bahkan dengan hati-hati menyentuh tangan Kiara di atas selimut. “Aku khawatir banget,” ucapnya pelan. “Kalau terjadi apa-apa sama kamu, aku nggak tahu harus gimana.” Kiandra yang melihat itu sedikit tersenyum lega. “Untung Kak Rafa datang juga,” katanya. Alifa pun terlihat mengangguk kecil. “Kamu memang harus lebih sering jaga Kiara,” ujar Alifa lembut. “Dia suka bilang baik-baik saja padahal sebenarnya tidak.” Rafa langsung mengangguk. “Iya, Tante. Mulai sekarang saya akan lebih perhatian.” Kalimat itu diucapkannya dengan begitu meyakinkan, seolah ia benar-benar pria yang mencintai Kiara sepenuh hati. Namun Kiara hanya menatapnya diam, tidak ada senyum, tidak ada kehangatan, hanya pandangan tenang yang terasa sangat jauh. Di dalam dirinya, sesuatu sudah berubah sejak hari di Bali itu dan yang paling menyakitkan bukan hanya pengkhianatan Rafa, melainkan fakta bahwa lelaki itu sekarang berdiri di depannya, memerankan sosok kekasih yang penuh cinta, tanpa sedikit pun terlihat merasa bersalah. Rafa memang pemain ulung..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN