Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit, kehidupan Kiara perlahan kembali berjalan seperti biasa.
Pagi itu ia sudah berada di studionya. Ruangan yang dipenuhi gulungan kain, sketsa desain, dan beberapa manekin yang mengenakan gaun setengah jadi.
Kiara berdiri di depan meja kerjanya sambil memegang pensil, menatap lembar sketsa dengan fokus.
Tangannya kembali bergerak menggambar garis demi garis.
Dunia ini selalu berhasil menenangkannya.
Dunia yang ia pilih sendiri.
Kiara memang tidak mengikuti jejak Adrian, ayahnya, yang dikenal sebagai dokter bedah jantung yang cukup disegani. Sejak kecil banyak orang mengira Kiara akan menjadi dokter seperti ayahnya.
Namun ternyata tidak, yang justru tertarik pada dunia medis adalah adiknya, Kiandra. Gadis itu bahkan sekarang sedang menempuh pendidikan kedokteran dengan penuh semangat.
Sementara Kiara, memilih jalan yang sama sekali berbeda.
Fashion.
Sejak remaja ia sudah suka menggambar desain pakaian. Awalnya hanya hobi untuk mengisi waktu saat ia harus sering beristirahat karena kondisi jantungnya.
Namun tanpa disadari, hobi itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius.
Sekarang Kiara memiliki studio desain kecil miliknya sendiri.
Namanya memang belum terlalu dikenal luas di dunia fashion, tetapi hasil karyanya perlahan mulai mendapat perhatian. Beberapa pelanggan setianya bahkan berasal dari kalangan penting, istri pejabat, pengusaha, hingga beberapa petinggi negeri yang memesan gaun khusus untuk acara resmi.
Semua itu membuat Kiara cukup bangga dengan jalannya sendiri.
Ia tidak perlu berdiri di ruang operasi, tidak perlu memegang pisau bedah seperti ayahnya.
Namun dengan caranya sendiri, ia tetap bisa menciptakan sesuatu yang indah.
Kiara menghela napas pelan sambil memperhatikan desain gaun yang baru saja ia buat, gaun malam berpotongan sederhana namun elegan.
“Lumayan,” gumamnya pelan.
Sekilas, hidupnya memang terlihat kembali normal. Ia bekerja seperti biasa, bertemu klien, mengurus pesanan.
Bahkan Rafa masih beberapa kali datang menjemputnya pulang seolah hubungan mereka baik-baik saja, namun hanya Kiara yang tahu, tidak semua hal benar-benar kembali seperti dulu.
Setiap kali Rafa tersenyum padanya, ada bagian kecil di dalam hatinya yang tetap terasa dingin dan setiap kali malam tiba, ketika ia sendirian di kamarnya, pikirannya sering kembali pada satu hal yang bahkan tidak ia mengerti.
Seorang pria yang hanya ia temui sekali, dokter yang menolongnya di pesawat.
Ansel.
Kiara bahkan tidak tahu apakah ia akan bertemu dengannya lagi.
Namun entah kenapa, setiap kali ia menutup matanya, wajah pria itu selalu muncul sebentar di benaknya.
Bersama satu nama lama yang belum pernah benar-benar hilang dari hatinya.
Axel.
“Mbok Kia, ada tamu.”
Suara Laras terdengar dari pintu studio.
Kiara yang sedang menata beberapa sketsa langsung menoleh. Alisnya sedikit terangkat.
“Siapa?”
Ia tidak merasa memiliki janji dengan klien hari ini.
Laras tersenyum kecil sebelum menjawab.
“Bu Dewan.”
Kiara langsung mengerti hanya dari dua kata itu.
“Oh… Bu Sofia?”
Laras mengangguk.
Kiara tersenyum tipis. Ia memang menyebut wanita itu sebagai pelanggan istimewa. Bukan hanya karena statusnya sebagai istri salah satu pejabat negara, tapi juga karena Bu Sofia adalah orang yang pertama kali memperkenalkan karya Kiara kepada banyak kalangan penting.
Berkat wanita itu, nama Kiara perlahan mulai dikenal di antara para istri pejabat dan sosialita ibu kota.
“Persilakan masuk, Laras.”
“Baik, Mbak.”
Beberapa detik kemudian pintu studio terbuka.
Bu Sofia masuk dengan langkah anggun seperti biasa. Wanita itu mengenakan setelan elegan dengan tas branded yang menggantung di lengannya.
“Kiara, sayang,” sapa Bu Sofia hangat.
Kiara segera berdiri dari kursinya.
“Bu Sofia,” balasnya dengan senyum sopan. “Senang sekali Ibu datang.”
Namun hari ini Bu Sofia tidak datang sendirian.
Di sampingnya berdiri seorang wanita muda yang belum pernah Kiara lihat sebelumnya. Wajahnya cantik dengan aura elegan. Rambutnya yang panjang jatuh rapi di bahunya, dan senyumnya tampak ramah.
“Ini Calista,” kata Bu Sofia memperkenalkan. “Keponakan saya.”
Calista maju sedikit dan mengulurkan tangan.
“Halo, Kiara. Aku sering dengar tentang kamu dari Tante Sofia.”
Kiara menjabat tangannya dengan sopan.
“Senang bertemu denganmu.”
Setelah mereka duduk, Bu Sofia langsung menjelaskan maksud kedatangannya.
“Dalam waktu dekat keluarga besar kami akan mengadakan acara pernikahan,” katanya sambil tersenyum. “Dan saya serta Calista diminta menjadi bridesmaid.”
Calista mengangguk kecil.
“Kami ingin gaun yang elegan tapi tetap simple,” tambahnya.
Kiara langsung terlihat tertarik. Ia mengambil buku sketsanya.
“Tentu. Ada tema warna tertentu untuk pernikahannya?”
Bu Sofia berpikir sebentar. “Champagne gold dan ivory.”
Kiara mengangguk pelan sambil mulai menggambar beberapa garis kasar.
“Bagus. Warna itu akan terlihat sangat elegan untuk bridesmaid.”
Beberapa menit kemudian ia memperlihatkan sketsa awalnya, gaun panjang dengan potongan lembut yang mengikuti bentuk tubuh, dengan detail drapery halus di bagian bahu dan pinggang.
Calista menatapnya dengan mata berbinar.
“Cantik sekali.”
Bu Sofia juga tersenyum puas.
“Makanya saya selalu kembali ke kamu, Kiara. Kamu selalu tahu bagaimana membuat sesuatu terlihat istimewa.”
Kiara hanya tersenyum sederhana, namun saat mereka masih membicarakan detail gaun itu, ponsel Calista tiba-tiba berdering.
Wanita itu melihat layar sekilas lalu mengangkat teleponnya.
“Iya? … Oh, kamu sudah sampai?”
Ia menoleh ke arah pintu studio.
“Masuk saja.”
Pintu studio terbuka perlahan.
Sosok pria yang masuk membuat tangan Kiara yang memegang pensil langsung berhenti di atas kertas.
Untuk beberapa detik, ia benar-benar tidak bergerak.
Ansel.
Pria yang berdiri di ambang pintu itu tampak sama seperti malam di pesawat. Tinggi, rapi, dengan aura tenang yang sulit dijelaskan.
Namun sebelum Kiara sempat mengatakan apa pun, Bu Sofia sudah lebih dulu berbicara dengan santai.
“Oh ya, sekalian saya kenalkan,” katanya sambil tersenyum. “Ini Ansel.”
Ia menunjuk pria itu dengan bangga.
“Dia kekasihnya Calista. Nanti juga akan jadi salah satu groomsman di acara pernikahan keluarga kami.”
Kalimat itu terdengar sederhana, namun bagi Kiara, rasanya seperti sesuatu yang jatuh tepat di dadanya.
Kekasih Calista.
Jantungnya langsung berdetak tidak teratur.
Bukan seperti saat jantungnya kambuh.
Ini berbeda.
Debaran yang aneh, hangat sekaligus menyesakkan.
Kiara bahkan nyaris lupa untuk berkedip saat menatap pria itu.
Ansel juga tampak sedikit terkejut ketika melihat Kiara, namun ekspresinya tetap tenang.
Seolah ia juga tidak menyangka pertemuan mereka terjadi lagi di tempat seperti ini.
Calista berdiri dengan ceria, menarik tangan Ansel.
“Ansel, ini Kiara,” katanya. “Desainer yang Tante Sofia ceritakan. Dia yang akan membuat gaun bridesmaid kita.”
Ansel mengangguk sopan, mereka saling mendekat sedikit.
“Halo,” ucap Ansel singkat.
Kiara mengulurkan tangan dengan senyum profesional yang ia paksakan.
“Halo.”
Jabat tangan mereka hanya berlangsung sebentar, namun sentuhan singkat itu cukup membuat jantung Kiara kembali berdetak sedikit lebih cepat.
Ia segera menarik tangannya dan kembali duduk.
Ansel kemudian duduk di samping Calista.
Wanita itu langsung menggandeng lengannya dengan manja.
“Ansel paling malas diajak ikut urusan baju,” kata Calista sambil tertawa kecil. “Tapi aku paksa ikut hari ini.”
Ansel hanya tersenyum tipis, membiarkan Calista bersandar ringan di bahunya.
Pemandangan itu membuat sesuatu di dalam d**a Kiara terasa aneh, tidak sakit, tapi seperti kosong.
Kiara buru-buru menundukkan kepalanya kembali ke meja kerja, pensilnya kembali bergerak di atas kertas. Ia mencoba fokus pada garis-garis sketsa gaun. Namun pikirannya tidak bisa benar-benar tenang, setiap beberapa detik ia bisa merasakan keberadaan Ansel di ruangan itu.
Suaranya, keheningannya, bahkan cara Calista tersenyum manja kepadanya.
Kiara menarik nafas pelan.
Perasaan macam apa ini?
Ia sendiri tidak mengerti.
Ia bahkan baru bertemu pria itu dua kali dan pria itu jelas bukan seseorang yang bebas. Ia kekasih Calista.
Kiara menggenggam pensilnya sedikit lebih erat.
“Baik,” katanya mencoba terdengar profesional sambil menunjukkan sketsa baru. “Untuk desainnya kira-kira seperti ini.”
Suara Kiara terdengar normal, tenang dan tidak ada yang terlihat aneh.
Namun hanya Kiara yang tahu, jantungnya masih berdetak lebih cepat dari biasanya.