Laras sedang sibuk mencatat ukuran Bu Sofia, pita ukur melingkar rapi di bahu dan pinggang wanita itu. Di sisi lain, Sita mengukur Calista yang berdiri tegak di depan cermin besar studio.
Ruangan terasa hidup oleh percakapan ringan mereka. Namun Kiara justru merasakan hal yang berbeda.
Ia sadar sejak tadi dirinya beberapa kali melirik ke arah Ansel yang duduk santai di sofa kecil dekat jendela. Pria itu tampak melihat beberapa koleksi gaun yang dipajang, sesekali menanggapi cerita Calista dengan senyum tipis.
Kiara mencoba memusatkan pikirannya pada sketsa di depannya.
Sampai akhirnya Laras selesai.
“Sudah, Bu,” kata Laras ramah pada Sofia.
Bu Sofia mengangguk puas.
Sementara itu Sita juga sudah menyelesaikan pengukuran Calista.
“Udah juga, Kak.”
Kini hanya tinggal satu orang lagi. Ansel.
Calista menoleh ke arah Kiara dengan ekspresi santai.
“Mbak Kia, ukur Ansel saja biar cepat,” katanya sambil tersenyum. “Soalnya setelah ini dia harus ke rumah sakit.” Ia menepuk ringan lengan Ansel.
“Dia dokter, jadwalnya padat banget.”
Kiara sebenarnya sudah tahu itu. Ia bahkan tahu lebih dulu dari sejak malam di pesawat.
Namun tetap saja dadanya terasa sedikit menegang, ia berharap tadi Laras yang akan melakukan semuanya.
Namun Laras sedang sibuk mencatat ukuran di buku pesanan, sementara Sita merapikan pita ukur.
Tidak ada alasan untuk menolak, ini pekerjaannya. Kiara menarik nafas pelan, lalu berdiri dari kursinya.
“Baik,” katanya dengan nada profesional.
Ansel juga berdiri tanpa banyak bicara.
Mereka berjalan menuju area pengukuran di depan cermin besar.
Jarak mereka kini hanya beberapa langkah.
Kiara mengambil pita ukur dari meja, tangannya terasa sedikit lebih dingin dari biasanya, tapi ia berusaha tetap tenang.
“Berdiri tegak,” ucapnya singkat.
Ansel menurut.
Kiara mulai dari bagian bahu, pita ukur ia lingkarkan dengan hati-hati. Jarak mereka sangat dekat sekarang. Ia bahkan bisa merasakan aroma sabun yang lembut dari pria itu.
Detak jantungnya kembali terasa lebih cepat.
Namun ia memaksa dirinya tetap fokus dan profesional, itu satu-satunya hal yang harus ia ingat.
“Lingkar d**a,” gumamnya sambil mencatat ukuran.
Tangannya bergerak cepat, meski ia sadar betapa canggung situasi ini terasa.
Di belakang mereka, Calista memperhatikan dengan santai.
“Ansel tinggi banget ya?” komentarnya ringan.
Bu Sofia tertawa kecil, “Iya, cocok jadi groomsmen.”
Kiara tidak ikut menanggapi, ia hanya menyelesaikan pengukuran secepat mungkin.
Dari mulai pinggang, panjang lengan, lebar bahu, semuanya berjalan cepat dan rapi seperti biasa.
Namun saat ia menurunkan pita ukur untuk ukuran terakhir, tanpa sengaja matanya bertemu dengan tatapan Ansel di cermin besar di depan mereka.
Tatapan itu singkat, tapi cukup membuat jantung Kiara kembali berdebar aneh.
Ia langsung menundukkan pandangannya.
“Selesai,” ucapnya pelan sambil melangkah mundur.
Ansel mengangguk kecil.
“Terima kasih.”
Kiara hanya membalas dengan senyum tipis, lalu kembali ke meja kerjanya seolah tidak terjadi apa-apa, namun di dalam hatinya, ia tahu satu hal dengan sangat jelas.
Semakin sering ia berada di dekat pria itu,semakin sulit baginya memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan jantungnya sendiri.
Kiara sudah kembali ke meja kerjanya ketika tiba-tiba alisnya berkerut.
Ia menatap buku catatan ukuran yang baru saja ditulis Laras.
Ada yang terasa janggal, kiara menelusuri angka-angka itu sekali lagi, lalu napasnya tertahan kecil.
Ukuran pinggang Ansel belum tercatat, ia menutup bukunya pelan.
“Maaf,” katanya sambil berdiri lagi. “Ukuran pinggangnya belum tercatat. Saya harus ukur sekali lagi.”
Calista yang sedang melihat-lihat katalog gaun hanya mengangguk santai.
“Oh iya? Ya sudah, cepat saja Mbak Kia. Ansel juga harus segera ke rumah sakit.”
Ansel kembali berdiri tanpa protes, Kiara mengambil pita ukur lagi.
Langkahnya terasa sedikit lebih lambat dari sebelumnya ketika mendekati pria itu.
Entah kenapa, kali ini suasananya terasa lebih sunyi meski Bu Sofia dan Calista masih mengobrol di belakang mereka.
“Angkat tangan sedikit,” ujar Kiara pelan.
Ansel menurut.
Ia merentangkan kedua tangannya sedikit ke samping, Kiara melingkarkan pita ukur ke pinggangnya.
Jarak mereka kembali sangat dekat.
Terlalu dekat.
Saat pita ukur menyentuh tubuh Ansel, Kiara bisa mencium aroma parfum lelaki itu dengan jelas.
Harumnya lembut, maskulin dan entah kenapa terasa memabukkan.
Jantung Kiara kembali berdetak lebih cepat.
Ia mencoba fokus pada angka di pita ukur, tapi pikirannya terasa kacau.
Tenang… ini cuma kerjaan.
Ia menelan ludah pelan, saat ia sedikit menoleh untuk memastikan pita ukur lurus, pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan Ansel.
Pria itu sedang menatapnya, bukan tatapan kosong tapi, tatapan yang hangat dengan senyum kecil di bibirnya.
Lalu dengan suara yang sangat pelan, nyaris tenggelam oleh percakapan Bu Sofia dan Calista di belakang mereka, Ansel berkata,
“Bagaimana kabarmu, Kiara?”
Suara itu begitu dekat di telinganya, begitu lembut seolah hanya ditujukan untuknya.
Kiara sempat membeku sesaat, tangannya yang memegang pita ukur berhenti di tempat.
Ia bahkan lupa dengan angka yang sedang ia lihat.
Debaran di dadanya semakin terasa, bukan karena penyakit jantungnya, Ini berbeda.
Perasaan yang sama yang sempat muncul di pesawat, kini datang lagi dengan lebih jelas.
Kiara akhirnya berhasil menemukan suaranya.
“Baik,” jawabnya pelan.
Sangat pelan, hampir seperti bisikan.
Ia segera mencatat angka ukuran itu dengan cepat lalu mundur satu langkah.
“Selesai.”
Ansel menurunkan tangannya.
Namun senyum kecil itu masih ada di wajahnya.
Sementara Kiara buru-buru kembali ke meja kerja, mencoba terlihat sibuk dengan catatan.
Padahal di dalam dirinya, satu hal terasa sangat jelas. Hanya dengan satu pertanyaan sederhana dari Ansel, jantungnya kembali berdebar seperti orang yang baru saja jatuh cinta.
Kiara segera kembali ke meja kerjanya begitu pengukuran selesai. Ia membuka buku catatan ukuran, menuliskan angka-angka dengan rapi seolah sangat fokus pada pekerjaannya.
Padahal sebenarnya ia hanya berusaha melakukan satu hal.
Tidak memikirkan Ansel.
Ia menundukkan kepala, membiarkan rambutnya sedikit menutupi wajah. Tangannya bergerak menulis detail desain, ukuran bahu, lingkar d**a, panjang gaun, seakan semua itu sangat penting untuk diperiksa ulang.
Di belakangnya, suara Bu Sofia dan Calista masih terdengar berbincang ringan.
Calista sesekali tertawa kecil.
Suara Ansel juga terdengar sesekali menjawab.
Setiap kali suara itu sampai ke telinganya, Kiara otomatis menggenggam pulpen sedikit lebih erat.
Fokus, Kiara!!
Ia bahkan tidak berani menoleh.
Laras sempat memperhatikan Kiara yang terlihat terlalu serius menatap buku catatannya.
“Mbak Kia, semuanya sudah dicatat kok,” bisik Laras pelan.
Kiara hanya mengangguk kecil.
“Iya… aku cuma cek lagi.”
Beberapa menit kemudian Bu Sofia berdiri dari kursinya.
“Baiklah, Kiara. Kalau begitu kami pamit dulu. Nanti kabari saya kalau desain finalnya sudah siap.”
Kiara langsung berdiri, “Tentu, Bu Sofia.”
Ia akhirnya menatap mereka lagi dengan senyum profesional yang rapi.
Calista menggandeng lengan Ansel dengan santai.
“Makasih ya, Mbak Kia. Aku sudah tidak sabar lihat hasilnya,” kata Calista ceria.
“Pasti cantik,” jawab Kiara sopan.
Ansel hanya mengangguk kecil ke arahnya.
Tidak ada percakapan lagi, namun entah kenapa, satu detik sebelum mereka berbalik menuju pintu, mata Ansel sempat menatap Kiara sekali lagi.
Tatapan singkat dan tenang,seolah menyimpan sesuatu yang tidak diucapkan.
Kiara buru-buru mengalihkan pandangannya.
Pintu studio akhirnya tertutup, langkah kaki mereka perlahan menjauh di lorong luar.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka datang, Kiara menghembuskan napas panjang.
“Fiuh…”
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi.
Rasa tegang yang sejak tadi menahan dadanya perlahan mengendur.
Laras tertawa kecil melihat ekspresi Kiara.
“Mbak Kia kenapa? Dari tadi kelihatan tegang banget.”
Kiara menggeleng cepat. “Enggak apa-apa.”
Namun begitu ruangan benar-benar kembali sepi, Kiara menatap kosong ke arah pintu yang baru saja tertutup tadi.
Aneh.
Baru beberapa menit lalu ia ingin mereka segera pergi, tapi sekarang justru ada rasa lain yang muncul,seperti sesuatu yang tiba-tiba hilang dari ruangan itu.
Kiara menghela napas lagi, lalu menunduk menatap sketsa di mejanya, namun pikirannya tetap kembali pada satu sosok.
Ansel.
Ada apa dengan hatinya?
Kenapa selalu bereaksi berlebihan saat melihat Ansel.